Konten dari Pengguna

Menambang "Emas" di Gunung Sampah Mrican: Menanti Fajar Inovasi Hijau Bumi Reog

Puput Ratna Sari

Puput Ratna Sari

Mahasiswa Magister Manajemen

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Puput Ratna Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah. Foto: ANTARA FOTO/Fauzan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah. Foto: ANTARA FOTO/Fauzan

Tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mrican, Jenangan selama ini lebih sering hadir dalam percakapan publik sebagai problem lingkungan. Masalah limbah menumpuk, penanganan air lindi hingga aroma tidak sedap menjadi narasi rutin tahunan. Namun, apabila dibaca dari kacamata ekonomi pembangunan, gunung sampah Mrican sebenarnya menyimpang potensi ekonomi yang belum tergarap optimal.

Konsep ekonomi sirkular mengajarkan bahwa sampah bukanlah titik akhir dari sebuah rantai konsumsi, melainkan titik mula bahan baku baru. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos skala industri untuk mendukung sektor pertanian, sementara sampah anorganik berkalori tinggi potensial disulap menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) bahan bakar alternatif pengganti batu bara bagi industri semen atau manufaktur.

Namun, mengubah narasi "masalah" menjadi "peluang ekonomi" membutuhkan lebih dari sekedar semangat ramah lingkungan. Di sinilah pendekatan manajemen keuangan daerah menjadi krusial.

Realitas Ekonomi di Balik Teknologi

Di tingkat wacana, pengolahan sampah menjadi RDF atau kompos skala besar selalu terdengar ideal. Namun, dalam praktik bisnis, berkelanjutan sebuah proyek green investment tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dibeli, melainkan oleh perhitungan alokasi biaya dan kepastian pasar (offtaker).

Pembangunan fasilitas RDF misalnya membutuhkan investasi awal yang tidak sedikit untuk pengadaan mesin pemilah, pencacah hingga sarana pengering. Belum lagi biaya operasional harian seperti listrik, BBM armada, pemeliharaan alat, dan upah tenaga kerja.

Sebelum APBD dikucurkan, pemerintah kabupaten Ponorogo harus menghitung secara teliti: berapa tahun modal tersebut bisa kembali dan apakah hasil kompos atau bahan bakar sampah cukup untuk biaya operasional sehari-hari? Tanpa perhitungan yang realistis dikhawatirkan fasilitas pengolahan sampah ini bernasib tragis: megah saat diresmikan tapi mangkrak beberapa bulan kemudian karena kehabisan biaya operasional.

Kepastian Pasar dan Skema Kemitraan

Kunci sukses dari bisnis pengolahan sampah ini sebenarnya sederhana: unci sukses dari bisnis pengolahan sampah ini sebenarnya sederhana: siapa pembelinya?

Percuma jika TPA Mrican berhasil mengolah ton-tonan sampah menjadi bahan bakar atau pupuk, tetapi barangnya hanya menumpuk di gudang karena tidak ada yang membeli. Oleh karena itu, sebelum pabrik atau fasilitas pengolahan dibangun, Pemkab Ponorogo harus sudah memegang komitmen kerja sama dari pihak pembeli seperti pabrik semen atau industri pupuk.

Selain itu, karena anggaran daerah (APBD) terbatas, pemerintah tidak harus menanggung seluruh biayanya sendiri. Pemerintah bisa menggandeng pihak swasta melalui skema bagi hasil atau kemitraan. Swasta membawa modal dan keahlian mengelola bisnis, sementara pemerintah menyiapkan lahan dan pasokan sampahnya.

Mengurai Masalah dari Hulu

Penting untuk dicatat bahwa TPA Mrican hanyalah hilir dari mata rantai sampah. Sebaik apa pun fasilitas pengolahan di TPA, efisiensinya akan sangat bergantung pada pemilahan di tingkat hulu (rumah tangga).

Penguatan Bank Sampah dan fasilitas pengolahan lokal berbasis masyarakat di tingkat desa/kelurahan bukan hanya menurunkan beban volume sampah yang masuk ke Mrican, melainkan juga meningkatkan mutu bahan baku anorganik yang siap diolah. Makin bersih sampah yang masuk, makin rendah biaya pengolahan yang harus dikeluarkan di TPA.

Bukan Sekadar Mengejar Profit

Sumber : Ilustrasi berbasis AI, potensi inovasi hijau dalam pengelolaan sampah dan pemulihan nilai ekonomi material di TPA Mrican

Menambang "emas" di gunung sampah Mrican tidak boleh dimaknai secara sempit sebagai upaya mencari keuntungan finansial secepat-cepatnya. Manfaat investasi hijau sering kali bersifat non-kas: berkurangnya beban pemeliharaan lingkungan, terciptanya lapangan kerja baru, hingga perbaikan kualitas hidup masyarakat sekitar TPA.

Bumi Reog memiliki peluang besar untuk memberikan contoh bagaimana isu lingkungan dan efisiensi keuangan daerah dapat berjalan berdampingan. Dengan perencanaan keuangan yang cermat, perhitungan risiko yang rasional, serta keterlibatan masyarakat dari hulu ke hilir, TPA Mrican bukan lagi beban daerah, melainkan simbol baru pembangunan Ponorogo yang maju dan berkelanjutan.