Konten dari Pengguna
UTS, Tekanan Kesehatan Mental, dan Sunyi yang Menyesakkan Mahasiswa
30 Oktober 2025 21:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
UTS, Tekanan Kesehatan Mental, dan Sunyi yang Menyesakkan Mahasiswa
UTS bukan hanya soal nilai, tapi juga tekanan mental yang tak terlihat. Artikel ini mengemukakan krisis kesehatan mental mahasiswa dan pentingnya reformasi sistem evaluasi.Purbayakti Kusuma Wijayanto
Tulisan dari Purbayakti Kusuma Wijayanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
UTS jadi satu kata populer yang semua mahasiswa di Indonesia pasti tahu. UTS, yang panjangnya adalah Ujian Tengah Semester, selalu datang dengan ritme yang sama. Pengumuman jadwal, tumpukan materi yang harus dipelajari, stres berat, dan ruang kelas yang mendadak hening. Tapi di balik kesunyian itu, ada suara-suara yang tak terdengar. Suara mahasiswa yang gelisah, lelah, dan merasa sendirian. Kampus yang semula menjadi ruang belajar, berubah menjadi arena bertahan hidup. Mahasiswa tak hanya diuji dalam pengetahuan, tapi juga dalam ketahanan mental. Dan ketika UTS selesai, semua mahasiswa bersorak-sorai.
ADVERTISEMENT
"Setiap UTS datang, saya seperti kehilangan arah. Belajar bukan lagi soal memahami, tapi soal bertahan," ujar Albert, mahasiswa semester 5 di Kota Solo. Albert ini adalah mahasiswa saya sendiri. Kebetulan saya berprofesi sebagai dosen di perguruan tinggi swasta di Kota Solo. Testimoni ini bukan pengecualian. Ia mewakili ribuan mahasiswa yang merasa bahwa ujian bukan lagi alat ukur, melainkan sumber tekanan yang tak terlihat.
UTS dan Krisis Kesehatan Mental Mahasiswa
Secara biologis, stres menjelang ujian adalah respons tubuh yang wajar. Hormon kortisol dan adrenalin meningkat untuk membantu fokus dan daya ingat. Namun, ketika tekanan berlangsung terus-menerus tanpa ruang pemulihan, tubuh dan pikiran mulai runtuh. Stres akademik yang tidak dikelola dengan baik, bisa memicu gangguan kecemasan, depresi, bahkan psikosomatis.
ADVERTISEMENT
Survei Global Student Survey 2025 dari Chegg menunjukkan bahwa 59% mahasiswa Indonesia menilai kesehatan mentalnya baik, namun 11% menyatakan buruk, dan sisanya netral. Sementara itu, laporan Dataloka menyebutkan bahwa kurang tidur dan burnout akademik adalah dua penyebab utama gangguan mental mahasiswa saat UTS. Ini bukan tentang angka kecil. Ini adalah sinyal bahwa sistem pendidikan kita sedang mengabaikan dimensi manusiawi dari proses belajar.
Teori Transactional Model of Stress and Coping dari Lazarus dan Folkman menjelaskan bahwa stres bukan hanya soal beban, tapi juga soal persepsi dan kemampuan mengatasinya. Ketika mahasiswa merasa tidak punya kontrol atas sistem evaluasi, tidak punya ruang untuk menyuarakan kebutuhan, maka stres berubah menjadi ancaman, bukan tantangan.
Ketimpangan yang Terstruktur
Tidak semua mahasiswa menghadapi UTS dengan modal yang sama. Ada yang punya akses ke ruang belajar yang tenang, koneksi internet stabil, dan dukungan keluarga. Tapi banyak juga yang harus belajar di kos sempit, berbagi laptop dengan adik, atau bekerja paruh waktu demi biaya kuliah. Ketimpangan ini jarang dibicarakan, apalagi diakui oleh sistem.
ADVERTISEMENT
Mahasiswa dari daerah atau keluarga berpenghasilan rendah seringkali menghadapi tekanan ganda. Mereka tidak hanya harus lulus ujian, tapi juga membuktikan bahwa mereka layak berada di kampus. Tekanan akademik seringkali diperparah oleh ekspektasi sosial dan minimnya dukungan psikologis dari institusi.
Evaluasi yang Belum Adaptif
Permendikbud RI Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi menyebutkan bahwa evaluasi pembelajaran harus mempertimbangkan karakteristik mahasiswa. Tapi, apakah kampus benar-benar melakukannya? Banyak kampus masih menggunakan sistem ujian tertulis sebagai satu-satunya alat ukur, tanpa mempertimbangkan kondisi psikologis, sosial, dan ekonomi mahasiswa.
Evaluasi yang seragam tidak adil bagi mahasiswa yang hidup dalam kondisi yang tidak seragam. Disadari ataupun tidak, UTS menjadi alat seleksi yang menyamar sebagai alat ukur. Padahal, pendidikan seharusnya menjadi ruang pembebasan, bukan penyaringan.
Reformasi Sistem Evaluasi
Kampus perlu mengembangkan asesmen alternatif yang bisa berupa proyek kolaboratif, refleksi kritis, ataupun presentasi terbuka. Ini bukan soal mempermudah. Ini soal kemanusiaan. Evaluasi harus menjadi alat pembelajaran, bukan sumber penderitaan. Mahasiswa yang punya gaya belajar berbeda, kondisi mental yang fluktuatif, atau memiliki tanggung jawab domestik yang lebih, perlu diberi ruang untuk menunjukkan kompetensinya dengan cara yang sesuai.
ADVERTISEMENT
Beberapa kampus di luar negeri telah menerapkan sistem formative assesment yang menekankan proses belajar, bukan hanya hasil akhir. Indonesia bisa belajar dari pendekatan ini untuk menciptakan sistem yang lebih inklusif dan adaptif.
Kampus juga perlu mengubah cara pandang terhadap kegagalan. Dalam sistem evaluasi yang manusiawi, kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses belajar. Mahasiswa yang gagal dalam satu bentuk asesmen harus diberi kesempatan untuk merefleksikan dan memperbaikinya. Bukan langsung distigma atau ditinggalkan. Dengan pendekatan ini, evaluasi menjadi ruang tumbuh, bukan ruang hukuman. Pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya mencetak lulusan, tapi membentuk manusia yang tangguh, reflektif, dan berdaya.
Penguatan Dukungan Psikologis
Kampus harus membuka ruang konseling yang aktif dan mudah diakses. Bukan sekadar formalitas, tapi benar-benar menjadi tempat aman bagi mahasiswa untuk berbicara. Layanan ini harus dipromosikan secara aktif, dijalankan oleh tenaga profesional, dan terintegrasi dengan sistem akademik.
ADVERTISEMENT
Kementerian Kesehatan RI telah menyoroti dinamika pendidikan tinggi yang cepat, dan tuntutan adaptasi tinggi menjadi faktor utama gangguan mental pada mahasiswa. Maka, dukungan psikologis bukan pelengkap, tapi kebutuhan mendasar.
Ajakan untuk Mendengarkan Sunyi yang Menyesakkan Ini
Visualisasi yang tepat bisa memperkuat pesan ini. Bayangkan seorang mahasiswa duduk sendiri di ruang ujian yang gelap, dikelilingi bayangan tumpukan buku dan jam berdetak. Di atas kepalanya, awan gelap menggelantung, menyiratkan tekanan mental. Ini bukan sekadar ilustrasi, tapi metafora dari sistem yang lupa bahwa mahasiswa adalah manusia.
Sudah waktunya kita bertanya. Apakah nilai A layak dibayar dengan insomnia, serangan panik, dan rasa hampa? Apakah sistem yang membuat mahasiswa merasa sendirian saat berjuang bisa disebut mendidik?
ADVERTISEMENT
Jika kamu mahasiswa, jangan diam. Jika kamu dosen, dengarkan. Jika kamu pembuat kebijakan, ubahlah. Karena sunyi ini bukan milik satu orang, tapi dirasakan oleh semua.
UTS bukan sekadar ujian, tapi cermin dari sistem yang kita warisi. Jika kita ingin pendidikan yang sehat, maka kita harus mulai dari mendengarkan sunyi yang menyesakkan ini.

