Konten dari Pengguna

Foresight Perdesaan: Membangun Desa Berkelanjutan di Indonesia

Purnama Alamsyah

Purnama Alamsyah

Peneliti KSDK BRIN

·waktu baca 6 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Purnama Alamsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Gambar pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Gambar pribadi

Hari Bumi, yang diperingati setiap tanggal 22 April, telah menjadi simbol global untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong upaya nyata dalam pelestarian lingkungan. Sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 1970, Hari Bumi telah memotivasi banyak orang di seluruh dunia untuk mengambil tindakan nyata dalam melindungi planet kita seperti yang dicatat dalam Earth Day 2021 Report. Peringatan Hari Bumi tahun ini memberikan kesempatan bagi kita untuk merefleksikan peran penting desa dalam mendorong pembangunan berkelanjutan, khususnya melalui penggunaan metodologi Foresight.

Foresight, dengan merujuk pada Foresight Manual yang dikembangkan oleh UNDP (2018) adalah sebagai pendekatan untuk mengantisipasi dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan, melibatkan analisis tren, identifikasi faktor-faktor pendorong perubahan, dan pengembangan skenario masa depan. Pendekatan ini dapat kita memainkan peran penting dalam pembangunan desa yang berkelanjutan, pertanian, dan ketahanan masyarakat. Metode ini mencakup perumusan rencana secara proaktif dan mengantisipasi perkembangan di daerah pedesaan. Metode ini fokus pada identifikasi dan analisis dampak potensial dari tren, peluang, dan tantangan diperlukan untuk memfasilitasi pengambilan keputusan yang tepat serta mengeksplorasi dan menentukan skenario masa depan yang potensial. Dengan menganalisis strategi untuk menyesuaikan diri dengan tantangan dan tren global, metode ini berupaya mengidentifikasi faktor-faktor penting bagi pembangunan berkelanjutan di wilayah perdesaan (Sarıtaş & Kuzminov, 2017).

Selain itu, terdapat beberapa hal yang menjadikan foresight ini relevan dalam konteks Pembangunan perdesaan di Indonesia, yaitu

  • Foresight mendorong pendidikan lingkungan. Dalam beberapa tahun ke depan, diharapkan generasi muda di desa-desa Indonesia memiliki kesadaran mendalam dan komitmen kuat terhadap kelestarian lingkungan. Dengan mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum sekolah dan kegiatan masyarakat, kita dapat mempersiapkan individu yang siap memimpin pembangunan desa yang ramah lingkungan dan berkelanjutan;

  • Foresight mendorong penghargaan dan pelestarian kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan. Beberapa desa di Indonesia, seperti Bali dengan sistem subak dan Maluku dengan tradisi sasi, memiliki tradisi kuat dalam menjaga keseimbangan ekologi. Di masa depan, masyarakat diharapkan dapat menggabungkan kearifan lokal dengan inovasi dan teknologi modern untuk menciptakan model pembangunan yang unik dan kontekstual; dan

  • Foresight melibatkan penduduk setempat dan pemangku kepentingan lainnya, yang sangat penting dalam perencanaan pembangunan desa. Kerja sama menjadi kunci dalam mewujudkan desa yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Kolaborasi efektif antara pemerintah, LSM, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat desa sangat penting untuk mengatasi tantangan kompleks dalam pembangunan desa. Kita membayangkan kemitraan baru pada tahun 5-20 ke depan yang mendorong pertukaran pengetahuan, pengembangan teknologi tepat guna, dan peningkatan kapasitas masyarakat perdesaan.

Untuk melekatkan konsep Foresight dalam Pembangunan perdesaan di Indonesia, serangkaian tahapan harus dilakukan.

Tahap pertama melibatkan identifikasi pemangku kepentingan yang relevan, penetapan fokus dan tujuan, serta pengumpulan data dan informasi awal. Tahap ini penting untuk memastikan pelaksanaan proses Foresight yang efisien dan komprehensif.

Pada tahap kedua, kita melakukan investigasi dengan menganalisis tren, mengidentifikasi faktor-faktor perubahan, dan menilai isu-isu yang dapat mempengaruhi masa depan desa. Jika kita melihat lebih dalam Hari Bumi, beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan antara lain perubahan iklim, degradasi lingkungan, kemajuan teknologi, perubahan demografi, dan dinamika sosial ekonomi. Dengan melakukan investigasi ini, kita dapat melihat potensi peluang dan tantangan yang mungkin dihadapi oleh desa-desa di Indonesia.

Tahap ketiga melibatkan penggunaan imajinasi untuk membangun skenario masa depan yang mungkin terjadi. Kita dapat membayangkan beberapa skenario yang memungkinkan kita untuk membayangkan berbagai kemungkinan masa depan dan mempersiapkan tindakan yang diperlukan. Skenario-skenario tersebut di antaranya:

  1. Desa Hijau adalah desa-desa di Indonesia yang berhasil menerapkan praktik ramah lingkungan dan menjadi model pembangunan berkelanjutan. Konsep Foresight membayangkan desa-desa pada 5-20 tahun ke depan menerapkan praktik berkelanjutan secara ekologis, seperti wanatani, pengelolaan sampah terpadu, dan konservasi air. Desa-desa ini tidak hanya melestarikan alam, tetapi juga meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan penduduknya

  2. Desa Mandiri Energi adalah desa yang mengandalkan sumber daya terbarukan untuk mencapai kemandirian energi. Foresight mendorong kita untuk mengenali potensi desa dalam mengembangkan energi terbarukan. Pada 5-20 tahun ke depan, desa-desa di Indonesia diharapkan dapat mencapai kemandirian energi dengan memanfaatkan sumber daya alam seperti energi surya, air, dan biomassa. Penggunaan panel surya, pembangkit listrik mikrohidro, dan biogas tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga menciptakan peluang kerja dalam industri berkelanjutan dan meningkatkan ketersediaan energi bagi masyarakat perdesaan.

  3. Desa Ekowisata adalah desa yang memanfaatkan potensi wisata alam dengan melibatkan masyarakat lokal secara aktif. Teknik Foresight mendorong kita untuk mengenali potensi ekowisata di desa-desa Indonesia. Indonesia memiliki banyak desa dengan daya tarik wisata yang luar biasa, berkat keindahan alam dan kearifan masyarakat setempat. Pada 5-20 tahun ke depan, diharapkan akan ada desa-desa ekowisata yang mengedepankan kelestarian lingkungan. Desa-desa ini akan secara aktif melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaannya dan memberikan manfaat ekonomi langsung kepada mereka. Ekowisata menjadi sarana untuk melestarikan alam dan budaya lokal, sekaligus memberikan sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat perdesaan

Tahap keempat atau Tahap Integrasi, kita menganalisis implikasi dari setiap skenario secara mendalam dan menentukan strategi dan kebijakan yang diperlukan. Beberapa strategi yang mungkin diperlukan antara lain: (1) meningkatkan kapasitas masyarakat desa dalam pengelolaan lingkungan; (2) membangun infrastruktur ramah lingkungan seperti sistem energi terbarukan dan pengelolaan sampah; (3) meningkatkan pendidikan dan mempromosikan kesadaran lingkungan; (4) mendorong kerja sama antara pemerintah, LSM, akademisi, dan masyarakat desa. Strategi-strategi ini perlu dirumuskan secara partisipatif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Tahap implementasi adalah tahap terakhir di mana kita mengubah strategi dan kebijakan menjadi tindakan nyata. Implementasi ini membutuhkan komitmen dan kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah pusat, pemerintah desa, LSM, sektor swasta, dan masyarakat lokal. Pelaksanaan program dan kegiatan yang efektif membutuhkan pemantauan dan evaluasi secara berkelanjutan untuk memastikan kesesuaian dengan tujuan yang diinginkan.

Dengan menggunakan Foresight dan mengikuti tahapan-tahapannya, kita dapat membangun visi bersama tentang masa depan desa di Indonesia yang ramah lingkungan, berkelanjutan, dan sejahtera. Visi ini menjadi aspirasi sekaligus rencana konkret yang dapat diukur untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Foresight memberikan kemampuan untuk memprediksi kemajuan yang akan datang di daerah pedesaan, mempromosikan pembangunan berkelanjutan, dan memperkuat masyarakat desa. Untuk perencanaan strategis dan pengembangan wilayah pedesaan, foresight sangat penting karena pemanfaatan keterlibatan pemangku kepentingan, analisis tren, dan eksplorasi skenario.

Pada akhirnya, peringatan Hari Bumi tahun 2024 ini mengingatkan kita untuk merefleksikan hubungan kita dengan alam dan tanggung jawab kita dalam menjaga planet ini. Melalui penerapan Foresight untuk pembangunan desa di Indonesia, kita secara aktif terlibat dalam pemikiran visioner dan tindakan nyata untuk mewujudkan masa depan yang diinginkan. Selamat Hari Bumi 2024!