Inflasi Kini dan Nanti: Siklus Musiman Tahun Ajaran Baru

Analis Senior Bank Indonesia, Master of Business Administration Universitas Gadjah Mada
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Aries Purnomohadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Membaca perekonomian Indonesia hari ini memerlukan kejernihan untuk melihat dinamika global dan geliat sektor riil domestik. Ketika pasar keuangan dunia di paruh pertama tahun 2026 dilanda ketidakpastian tinggi dan tekanan inflasi, publik tentu bertanya tentang seberapa kuat daya tahan fundamental ekonomi nasional.
Jawabannya sebagian besar tercermin dari rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) Mei 2026. Inflasi tahunan berada di angka 3,08 persen (y-o-y), menunjukkan sinergi kebijakan berbagai pihak dalam menjangkar inflasi di rentang target 2,5±1 persen berjalan efektif dan kredibel.
Kendati demikian, sebuah risiko musiman yang dampaknya langsung menyentuh pengeluaran masyarakat kelas menengah kini telah menanti. Guncangan biaya pada momentum kelulusan dan pendaftaran tahun ajaran baru sekolah bersiap menghampiri.
Teori rigiditas harga dan tekanan kelas menengah
Mengacu pada teori ekonomi makro, terdapat pembagian komponen inflasi berdasarkan karakteristik perilakunya. Kelompok pangan (volatile food) cenderung bergerak fluktuatif yang melonjak tinggi saat cuaca ekstrem namun bisa merosot tajam (deflasi) saat panen raya tiba.
Sebaliknya, jasa pendidikan dikategorikan ke dalam komponen inflasi inti (core inflation). Sifat mendasar dari inflasi inti di sektor jasa pendidikan adalah tingkat kekakuannya yang sangat tinggi. Dalam teori ekonomi dikenal sebagai harga kaku (sticky prices).
Karakteristik sticky prices ini bersifat satu arah, yaitu sekali uang pangkal gedung, SPP bulanan, atau Uang Kuliah Tunggal (UKT) mengalami kenaikan, nominal tersebut cenderung tidak akan turun lagi, setidaknya hingga siklus tahun ajaran berikutnya.
Ketika tahun ajaran baru menjelang, pelaku usaha di sektor pendidikan, mulai dari penyelenggaran pendidikan, produsen seragam, hingga penerbit buku pelajaran, sudah membentuk ekspektasi berdasarkan pola tahun-tahun sebelumnya (adaptive expectations theory).
Terdapat semacam asumsi bahwa orang tua murid akan bersedia membayar berapa pun demi kelangsungan pendidikan anak mereka. Ekspektasi ini mendorong penetapan harga (price-setting behavior) di tingkat hulu sebelum masa pendaftaran dibuka.
Kelompok masyarakat kelas menengah (middle class) menjadi pihak yang paling merasakan guncangan tersebut. Berbeda dengan kelompok masyarakat miskin yang dilindungi oleh jaring pengaman sosial afirmasi berbasis tunai seperti Program Keluarga Harapan (PKH) atau Kartu Indonesia Pintar (KIP), kelompok kelas menengah sering kali berada di area abu-abu.
Mereka tidak masuk dalam kriteria penerima bantuan sosial, tetapi penghasilan mereka tidak cukup longgar untuk menanggung lonjakan biaya pendidikan mandiri di sektor swasta atau perguruan tinggi.
Jika pengeluaran untuk pos ini melonjak, kelompok kelas menengah terpaksa memangkas pengeluaran untuk konsumsi sekunder lainnya, yang dalam jangka pendek dapat memperlambat laju konsumsi rumah tangga secara agregat sebagai motor utama pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Implikasi terhadap produktivitas SDM
Ancaman inflasi pendidikan sebetulnya jauh melampaui gambaran angka statistik jangka pendek pada IHK bulanan. Dari perspektif ekonomi pembangunan, inflasi pendidikan yang persisten adalah musuh senyap bagi peningkatan produktivitas jangka panjang sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
Ketika pendaftaran sekolah dan universitas menguras tabungan keluarga kelas menengah, terjadi fenomena penggeseran alokasi anggaran rumah tangga (crowding-out). Orang tua terpaksa mengorbankan pengeluaran penting lainnya yang krusial bagi masa depan anak, seperti pemenuhan kualitas gizi, akses ke pelatihan teknologi digital dan bahasa asing, hingga investasi kesehatan.
Kenaikan biaya pendidikan yang tidak rasional bahkan dapat menyebabkan anak-anak berbakat putus sekolah. Ketika kualitas investasi modal manusia (human capital investment) ini terdegradasi, maka mimpi besar untuk mewujudkan lonjakan produktivitas nasional dan pemanfaatan bonus demografi akan menghadapi tantangan struktural yang lebih berat.
Rekam jejak lima tahun terakhir
Mengacu data historis beberapa tahun terakhir, hipotesis mengenai guncangan musiman ini terbukti secara empiris. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada periode Juli 2022 dan Juli 2023, kelompok pendidikan menjadi salah satu kontributor utama pendorong inflasi inti ketika harga pangan di pasar sedang murah.
Kondisi serupa terlihat pada Juli 2024 dan Juli 2025. Di saat indeks harga pangan nasional bergerak turun (deflasi) karena kelancaran pasokan hortikultura, subkelompok jasa pendidikan justru mencatatkan lonjakan inflasi bulanan sebesar 0,69 persen (2024) dan 0,82 persen (2025).
Lonjakan tajam (spike) ini didorong oleh penyesuaian biaya pendaftaran sekolah swasta, kenaikan harga buku pelajaran cetak, dan biaya kuliah Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Angka-angka historis ini menjadi sinyal peringatan dini (early warning system) bahwa periode akhir Juni dan bulan Juli senantiasa menyimpan potensi risiko inflasi inti yang harus dimitigasi sejak jauh hari.
Respon strategis
Melihat besarnya risiko rambatan inflasi inti dari sektor pendidikan formal, pemerintah pusat pada tahun ini tidak tinggal diam. Langkah intervensi diperkuat melalui dua kebijakan strategis berskala nasional.
Pertama, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi secara resmi memberlakukan batas atas (price capping) yang membatasi penyesuaian tarif Uang Kuliah Tunggal (UKT) di seluruh Perguruan Tinggi Negeri maksimal 5 persen per tahun. Kebijakan ini menjadi instrumen peredam kejutan harga bagi calon mahasiswa baru di level pendidikan tinggi.
Kedua, melalui Permendikdasmen Nomor 8 Tahun 2026, tata kelola dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) diperketat dengan mewajibkan sekolah mengalokasikan minimal 10 persen anggarannya untuk pemenuhan pasokan buku teks utama dan pendamping secara gratis bagi siswa.
Langkah ini efektif memotong rantai spekulasi harga buku pelajaran yang kerap memicu andil inflasi non-SPP di pasar retail menjelang tahun ajaran baru.
Kisah sukses kebijakan TPID
Kebijakan pemerintah pusat tersebut tentu akan berdampak lebih optimal karena dibarengi oleh gerak taktis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di daerah. TPID di berbagai penjuru nusantara telah membuktikan bahwa dengan inovasi kebijakan yang presisi, inflasi pendidikan di tingkat lokal dapat diredam.
Pertama, jaring pengaman biaya sekolah swasta. Inisiatif ini dilakukan oleh TPID DKI Jakarta melalui optimalisasi program Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus. Jakarta menghadapi tantangan berupa tingginya biaya hidup dan keterbatasan daya tampung sekolah negeri, sehingga jutaan anak dari kelas pekerja masuk ke sekolah swasta.
Melalui KJP Plus, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyalurkan dana alokasi khusus bantuan SPP bulanan yang langsung didebit ke rekening sekolah swasta penerima. Langkah ini terbukti efektif mengunci tarif SPP sekolah swasta segmen menengah ke bawah agar tidak naik secara signifikan.
Di saat yang sama, TPID Kota Malang berkolaborasi dengan Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) menyepakati batas atas kenaikan SPP maksimal 3 hingga 5 persen per tahun. Intervensi regulasi ini berhasil meredam sifat sticky prices dari ekosistem pendidikan non-pemerintah.
Kedua, pembatasan pungutan (price capping). Inovasi ini dilakukan oleh TPID Provinsi Jawa Tengah melalui implementasi kebijakan zero pungutan di seluruh SMA/SMK negeri.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melarang pihak sekolah memungut iuran gedung termasuk sumbangan sukarela, untuk memberikan kepastian biaya bagi masyarakat. Hal ini berdampak nyata terhadap IHK. Subkelompok Pendidikan Menengah Atas di kota-kota sampel BPS Jawa Tengah mencatatkan inflasi 0% (flat) di periode Juli, menurunkan tensi inflasi inti regional secara masif.
Ketiga, subsidi komoditas pendukung (Non-SPP). Kerap kali, guncangan keuangan keluarga bukan berasal dari biaya sekolah inti, melainkan dari pembengkakan biaya untuk perlengkapan atribut di awal tahun ajaran baru.
TPID Kota Balikpapan merespons hal ini secara konkret dengan menyalurkan seragam sekolah gratis (tiga set seragam) untuk seluruh siswa baru dari jenjang TK, SD, hingga SMP, baik negeri maupun swasta. Dampak sangat instan, yaitu pengeluaran untuk kelompok sandang sekolah di Balikpapan mengalami deflasi lokal di tengah lonjakan harga sandang nasional.
Sementara itu, TPID Kota Denpasar memilih jalur swadaya melalui gerakan "Bank Buku Kakak Kelas". Sekolah memfasilitasi pengumpulan buku pelajaran layak pakai dari lulusan terdahulu untuk dipinjamkan secara gratis kepada siswa baru, sehingga berhasil menekan andil inflasi buku cetak mendekati nol.
Keempat, efisiensi biaya logistik komuter. Mobilitas tahun ajaran baru selalu diikuti oleh kenaikan biaya transportasi harian pelajar. TPID Kota Surabaya dan Kota Tegal sukses memitigasi risiko ini melalui penyediaan armada Bus Sekolah Gratis yang terintegrasi secara masif.
Berdasarkan evaluasi dampak ekonomi dari TPID lokal, keberadaan transportasi gratis ini mampu memotong pengeluaran rutin bulanan rumah tangga untuk ongkos transportasi anak hingga 20 persen.
Di sisi lain, TPID Kabupaten Brebes menggunakan strategi bumper ekonomi yang unik. Mereka fokus menstabilkan harga pasokan pangan (volatile food) seperti bawang merah dan cabai seketat mungkin menjelang bulan Juli.
Melalui stabilitas harga dapur, masyarakat Brebes memiliki kelonggaran ruang finansial (disposable income) yang cukup untuk membayar biaya sekolah anak tanpa mengorbankan konsumsi gizi keluarga.
Replikasi kebijakan
Berbagai kisah sukses tersebut layak untuk menjadi acuan replikasi kebijakan oleh pemerintah daerah dan TPID lainnya di seluruh penjuru nusantara. Tentu saja proses replikasi ini tidak boleh terhambat oleh alasan keterbatasan APBD daerah.
Jika memiliki kapasitas fiskal yang longgar, pemerintah daerah dapat mereplikasi model subsidi seperti Jakarta, Balikpapan, Surabaya, dan Tegal. Namun, jika kapasitas APBD sangat terbatas, intervensi tetap dapat dilakukan dengan meniru inovasi oleh TPID Kota Denpasar berupa gerakan re-use buku swadaya atau TPID Jawa Tengah melalui pengetatan pengawasan hukum.
Dibutuhkan komitmen yang kuat dan keberanian dari seluruh pemangku kebijakan untuk melindungi daya beli rakyatnya. Apabila seluruh pemerintah daerah dan TPID bergerak secara serentak, efek domino terhadap stabilitas makroekonomi nasional akan sangat masif. Agregasi keberhasilan di tingkat daerah akan membentuk benteng kokoh penahan inflasi inti di tingkat nasional. Stabilitas ekonomi makro tidak hanya dibangun dari kebijakan di tingkat pusat, melainkan juga dari kebijakan taktis di daerah-daerah.
Menjaga asa
Upaya makro dari pemerintah tidak akan pernah mencapai kesempurnaan tanpa adanya dukungan kearifan dan kesadaran moral dari masyarakat selaku konsumen. Pembentukan ekspektasi inflasi harus dikawal dengan rasionalitas konsumen di hilir. Menjelang tahun ajaran baru, prinsip konsumsi yang bijak dan penuh tanggung jawab harus diterapkan bersama.
Jenjang tahun ajaran baru tidak harus selalu diidentikkan dengan tas baru, sepatu baru, atau gawai baru apabila barang-barang lama masih berfungsi dengan sangat baik. Nilai hakiki dari sebuah pendidikan terletak pada keluasan ilmu, keteguhan moral, dan perkembangan karakter anak, bukan pada atribut fisik yang dikenakannya.
Dengan kebijakan pengendalian inflasi yang inovatif, tepat sasaran, dan presisi disertai dukungan masyarakat, akan terbangun optimisme untuk menjaga asa anak-anak bangsa tetap belajar setinggi langit, sembari memastikan ekonomi domestik tumbuh, stabil, dan berdaya saing tinggi.
