Fintech-Friendly, Literacy-Ready?

Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi S-1
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari PURWATI YUNI RAHAYU UNPAM tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saat ini sistem pembayaran elektronik, layanan financial technology (fintech), dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) semakin menguat dalam aktivitas ekonomi sehari-hari. Mahasiswa saat ini hidup dalam ekosistem ekonomi digital yang serba cepat dan praktis. Transaksi non-tunai, dompet digital, hingga skema buy now pay later bukan lagi hal baru. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan reflektif yang penting diajukan, "Sejauh mana literasi ekonomi digital mahasiswa berkembang seiring dengan pesatnya adopsi teknologi finansial?"

Dalam konteks pembelajaran ekonomi, realitas ini menunjukkan adanya jarak antara kemampuan teknis menggunakan teknologi dan pemahaman konseptual terhadap implikasi ekonominya. Banyak mahasiswa mampu mengoperasikan berbagai aplikasi keuangan digital, tetapi belum sepenuhnya memahami risiko, biaya, dan konsekuensi jangka panjang dari keputusan ekonomi yang mereka ambil. Pada tahap awal, kondisi ini dapat memicu perilaku konsumsi yang kurang rasional dan pengambilan keputusan finansial yang bersifat impulsif, terutama ketika teknologi menawarkan kemudahan tanpa diiringi proses berpikir kritis.
Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam merespons tantangan tersebut. Kurikulum pendidikan ekonomi perlu bergerak melampaui pendekatan konvensional dan mulai menempatkan literasi ekonomi digital sebagai kompetensi penting. Jika hal ini diabaikan, dalam jangka panjang institusi pendidikan berisiko menghasilkan lulusan yang adaptif secara teknologi, tetapi lemah dalam menilai dan mengelola risiko ekonomi digital. Padahal, tujuan pendidikan tinggi tidak hanya mencetak pengguna teknologi, melainkan individu yang mampu memahami dan mengendalikan dampak ekonomi dari teknologi tersebut.
Dari sudut pandang dosen, tantangan ini sekaligus menjadi peluang. Integrasi isu fintech dan AI dalam pembelajaran ekonomi memungkinkan proses belajar yang lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan mahasiswa. Namun, upaya ini menuntut peningkatan kapasitas dosen, khususnya dalam literasi digital pedagogis. Dosen tidak lagi cukup berperan sebagai penyampai konsep, tetapi juga sebagai fasilitator yang membimbing mahasiswa untuk menganalisis, mengevaluasi, dan merefleksikan fenomena ekonomi digital secara kritis.
Oleh karena itu, diperlukan langkah sistematis berbasis kajian akademik. Perguruan tinggi perlu mengembangkan desain pembelajaran yang mengintegrasikan studi kasus fintech, simulasi pengambilan keputusan ekonomi digital, serta diskusi kritis tentang peran AI dalam membentuk perilaku ekonomi. Pendekatan ini dapat diperkuat melalui kolaborasi antara akademisi, regulator, dan industri, sehingga materi pembelajaran tidak hanya relevan secara teoretis, tetapi juga kontekstual dengan dinamika kebijakan dan praktik di lapangan.
Pada akhirnya, kesiapan literasi ekonomi digital menjadi prasyarat penting dalam menghadapi era ekonomi digital. Menjadi fintech-friendly tanpa diimbangi dengan pemahaman yang memadai justru berpotensi menimbulkan kerentanan baru bagi mahasiswa sebagai generasi pengguna aktif teknologi. Melalui pendidikan ekonomi yang adaptif dan reflektif, perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam membentuk generasi yang tidak hanya mahir bertransaksi secara digital, tetapi juga cakap dalam mengambil keputusan ekonomi yang rasional, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
