Konten dari Pengguna

Lazy Ambitious EP 3: Saat Tidak Sibuk Terasa Seperti Tertinggal

Azahra Paradilah Nurohmah

Azahra Paradilah Nurohmah

Mahasiswa Aktif Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azahra Paradilah Nurohmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Pexels / Gulsum Sener
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Pexels / Gulsum Sener

“Teman saya sudah bekerja di perusahaan impian. Ada yang sedang membangun bisnis. Ada juga yang baru saja melanjutkan studi. Sementara saya, hari ini hanya menyelesaikan pekerjaan seperti biasa.”

Belakangan ini, saya mulai menyadari bahwa rasa lelah tidak selalu datang dari banyaknya pekerjaan. Kadang, rasa lelah itu justru muncul karena terlalu sering melihat kehidupan orang lain. Di era media sosial seperti sekarang, rasanya semakin sulit untuk tidak membandingkan diri sendiri. Setiap hari, kita disuguhi berbagai pencapaian. Ada yang mendapatkan promosi jabatan, ada yang berhasil membeli rumah di usia muda, dan ada pula yang membagikan rutinitas produktif mereka dari pagi hingga malam. Tanpa disadari, semua itu perlahan membuat kita merasa bahwa hidup harus selalu bergerak maju dengan cepat.

Jika pada tulisan sebelumnya saya membahas mengapa beristirahat sering kali diikuti dengan rasa bersalah, kali ini saya mulai bertanya-tanya tentang hal lain yang tidak kalah menarik, yaitu “mengapa tidak sibuk terkadang terasa seperti tertinggal?”

Saya pernah berpikir bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Tetapi, media sosial terkadang membuat kita lupa akan hal itu. Alih-alih fokus pada perjalanan sendiri, kita justru lebih sibuk mengukur sejauh mana orang lain telah melangkah. Tanpa sadar, hidup yang seharusnya dijalani dengan ritme masing-masing berubah menjadi perlombaan yang tidak pernah benar-benar memiliki garis akhir.

Selalu ada orang yang terlihat lebih sukses, selalu ada pencapaian baru yang muncul, dan selalu ada alasan untuk merasa belum cukup.

Padahal, tidak semua orang memulai dari titik yang sama, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama, dan tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan kecepatan yang sama.

Saya menyadari bahwa media sosial sebenarnya tidak selalu membawa dampak buruk. Sebenarnya masih banyak hal baik yang bisa dipelajari dari sana, seperti kita bisa mendapatkan inspirasi, wawasan baru, bahkan motivasi untuk berkembang. Tetapi, ketika terlalu sering melihat pencapaian orang lain, tanpa sadar kita mulai menjadikan kehidupan mereka sebagai ukuran bagi diri sendiri. Akibatnya, hal-hal yang dulu sudah cukup membahagiakan perlahan terasa biasa saja, seperti pekerjaan yang stabil terasa kurang, pencapaian kecil terasa tidak berarti. Bahkan, beristirahat pun bisa memunculkan rasa takut tertinggal. Seolah-olah, diam selama satu hari akan membuat kita kehilangan banyak hal.

Mungkin, yang sebenarnya membuat kita gelisah bukanlah kegagalan, melainkan ketakutan untuk menjadi orang yang biasa-biasa saja. Kita hidup di masa ketika pencapaian sering kali ditampilkan secara terbuka. Kesuksesan menjadi sesuatu yang dapat dilihat, dibandingkan, bahkan dijadikan standar oleh orang lain. Akibatnya, banyak dari kita yang diam-diam merasa harus selalu memiliki sesuatu untuk ditunjukkan, harus terus berkembang, harus terus menghasilkan, dan arus terus bergerak. Padahal, menjadi manusia tidak selalu tentang pencapaian.

Tidak semua hari harus dipenuhi oleh target baru, tidak semua waktu luang harus diubah menjadi kesempatan untuk bekerja lebih keras, dan tidak semua jeda berarti bahwa kita sedang tertinggal.

Semakin bertambah usia, saya mulai memahami bahwa setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing. Ada yang mencapai impiannya di usia 20-an, ada yang menemukan jalannya di usia 30-an, aan ada pula yang baru benar-benar memahami apa yang diinginkannya jauh setelah itu.

Tidak ada yang salah, karena hidup bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling cepat. Mungkin, kita memang tidak bisa berhenti melihat kehidupan orang lain. Tetapi, kita masih bisa memilih untuk tidak menjadikan perjalanan mereka sebagai ukuran bagi diri sendiri.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak benar-benar takut tertinggal. Kita hanya terlalu sering melihat ke samping hingga lupa menikmati perjalanan yang sedang kita jalani sendiri. Dan mungkin, di tengah dunia yang terus bergerak cepat, salah satu bentuk keberanian yang paling sederhana adalah percaya bahwa hidup tidak harus selalu dibandingkan. Sebab, menjadi ambisius tidak selalu berarti harus lebih cepat dari orang lain. Kadang, ada saatnya cukup dengan terus berjalan sesuai ritme sendiri, itu pun sudah lebih dari cukup.