Lazy Ambitious EP 5: Perfeksionisme Bukan Tanda Profesionalisme

Mahasiswa Aktif Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Azahra Paradilah Nurohmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pasti banyak dari kalian yang pernah menunda sesuatu karena ingin hasilnya sempurna, bukan?
Dan, pasti ada juga yang pernah memiliki ide yang menurut kita bagus, tetapi tidak pernah benar-benar diwujudkan?
Bukan karena malas, bukan juga karena tidak mampu, melainkan karena merasa semuanya belum cukup sempurna, seperti “presentasi yang ini masih banyak yang perlu diperbaiki, tulisannya masih terlihat kurang menarik, portofolionya masih banyak kekurangan belum layak dikirim, videonya masih harus diedit lagi, atau desainnya belum sesuai bayangan.”
Kalimat-kalimat seperti itu mungkin pernah terlintas di kepala kita, dan sekilas terdengar seperti bentuk tanggung jawab. Kita ingin memberikan hasil terbaik, kita ingin terlihat profesional, kita tidak ingin mengecewakan orang lain. Sampai akhirnya, hari demi hari berlalu, yang semula hanya ingin “sedikit memperbaiki”, justru berubah menjadi kebiasaan menunda tanpa sadar.
Dari sisi lain, pernahkah kita bertanya, apakah yang sebenarnya kita kejar adalah kualitas, atau justru kesempurnaan?
Perbedaannya memang tipis, tetapi dampaknya bisa sangat besar. Keinginan untuk menghasilkan sesuatu yang baik dapat mendorong kita berkembang. Sebaliknya, keinginan agar semuanya harus sempurna sering kali justru membuat kita tidak bergerak sama sekali. Ironisnya, banyak mimpi tidak berhenti karena kurangnya kemampuan, tetapi mimpi-mimpi itu berhenti karena seseorang terus menunggu waktu yang dianggap “paling siap”.
Media sosial membuat kita terbiasa melihat hasil akhir. Dimana kita hanya melihat konten yang rapi, presentasi yang terlihat sempurna, bisnis yang tampak langsung sukses, mahasiswa yang lulus dengan predikat terbaik, content creator yang videonya viral, hingga penulis yang bukunya menjadi best seller. Yang jarang kita lihat adalah puluhan draft yang dihapus, proposal yang pernah ditolak, video yang hanya ditonton beberapa orang, atau tulisan yang harus direvisi berkali-kali. Karena yang sering muncul hanyalah hasil akhirnya, kita mulai percaya bahwa orang-orang hebat memang selalu menghasilkan sesuatu yang sempurna sejak awal. Padahal kenyataannya tidak demikian, setiap karya yang kita kagumi hampir selalu lahir dari proses panjang yang penuh revisi, kegagalan, dan pembelajaran.
Memiliki standar tinggi bukanlah masalah, justru standar membantu kita menjaga kualitas pekerjaan. Masalah muncul ketika standar itu berubah menjadi syarat mutlak sebelum kita berani melangkah. Kita mulai takut mencoba, takut salah, takut menerima kritik, takut dianggap kurang pintar, dan takut mengecewakan orang lain. Akhirnya, kita lebih memilih menunda daripada menghadapi kemungkinan bahwa hasil kita tidak sesempurna yang dibayangkan.
Ada hal menariknya, dimana penundaan seperti ini sering disalahartikan sebagai rasa malas, padahal belum tentu. Bisa jadi, yang sedang bekerja adalah perfeksionisme.
Menurut psikolog Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme bukan hanya tentang memiliki standar yang tinggi. Perfeksionisme juga melibatkan kecenderungan mengaitkan nilai diri dengan hasil yang dicapai, serta mengkritik diri secara berlebihan ketika hasil tersebut tidak sesuai harapan. Artinya, seseorang yang perfeksionis tidak pernah benar-benar merasa puas. Ketika pekerjaannya dipuji, ia masih menemukan kekurangan. Ketika berhasil mencapai target, ia langsung menetapkan target baru yang lebih tinggi. Dan ketika melakukan kesalahan kecil, ia merasa seluruh usahanya gagal. Jadi lama-kelamaan, keberhasilan itu tidak lagi membawa rasa bangga. Sebaliknya, setiap pencapaian justru diikuti oleh kecemasan baru.
Ada kalanya kita terus memperbaiki sesuatu bukan karena memang perlu, tetapi karena sulit menerima bahwa sebuah pekerjaan sudah cukup baik. Mulai dari presentasi direvisi berkali-kali, desain diubah tanpa henti, tulisan diedit berulang-ulang, bahkan video ditonton berkali-kali sebelum akhirnya tetap tidak diunggah. Semua itu dilakukan atas nama kualitas. Padahal, sering kali perubahan yang dilakukan hanya memberikan perbedaan yang sangat kecil, yang hilang justru keberanian untuk menyelesaikan dan melangkah ke tahap berikutnya.
Banyak orang sukses bukan karena mereka selalu menghasilkan karya terbaik, tetapi mereka berhasil karena terus menghasilkan karya, seorang penulis menjadi lebih baik karena terus menulis, seorang fotografer berkembang karena terus memotret, dan seorang pembicara semakin percaya diri karena terus berbicara.
Pada dasarnya, kemampuan tidak lahir dari kesempurnaan, tetapi kemampuan lahir dari pengulangan. Kesalahan bukanlah lawan dari keberhasilan, mesalahan justru bagian dari proses menuju keberhasilan.
Lazy Ambitious bukan mengajak kita menurunkan standar, justru sebaliknya, kita tetap memiliki ambisi, tetap ingin berkembang, dan tetap ingin memberikan hasil terbaik. Tetapi, kita tidak lagi membiarkan standar yang terlalu tinggi mencuri keberanian untuk memulai, karena karya yang selesai masih bisa diperbaiki, sedangkan karya yang tidak pernah diselesaikan tidak akan pernah memberi kesempatan bagi kita untuk belajar.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar hasil yang sempurna, sampai lupa bahwa proses belajar selalu dimulai dari sesuatu yang belum sempurna. Tidak ada presentasi pertama yang langsung luar biasa, tidak ada penulis yang langsung menghasilkan karya terbaik, tidak ada profesional yang tumbuh tanpa pernah melakukan kesalahan.
Barangkali, profesionalisme bukan tentang selalu benar, melainkan tentang keberanian untuk terus mencoba, menerima masukan, memperbaiki diri, lalu melangkah lagi.
Menjadi Lazy Ambitious berarti tetap memiliki mimpi besar, tetapi tidak lagi menunggu diri menjadi sempurna untuk mulai bergerak, karena pada akhirnya, yang membawa kita berkembang bukanlah kesempurnaan, kelainkan keberanian untuk memulai.
References:
Hewitt, P. L., & Flett, G. L. (1991). Perfectionism in the self and social contexts: conceptualization, assessment, and association with psychopathology. Journal of personality and social psychology, 60(3), 456.
