Mahasiswa KKN UMD Universitas Jember Sosialisasi Program Kerja Pengendalian Hama

Mahasiswa S1 Keperawatan Universitas Jember
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Puspita Restu Mahalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Banyuwangi, 18 Juli 2025 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UMD Universitas Jember melaksanakan kegiatan sosialisasi program kerja di Desa Bedewang, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Desa Bedewang dan dihadiri oleh Pejabat Kepala Desa, Sekretaris Desa, BPD, Kepala

Dusun, perwakilan kelompok tani, serta sejumlah warga masyarakat.
Kegiatan KKN ini dibimbing langsung oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yaitu Ir. Saifurridzal, S.T., M.Eng., yang turut memberikan pengarahan dalam penyusunan program kerja agar relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Selama satu bulan pelaksanaan KKN, mahasiswa akan menjalankan tiga program utama yang bertujuan untuk mengatasi masalah hama pertanian secara ramah lingkungan dan berkelanjutan. Program tersebut meliputi:
1. Pembuatan alat pembasmi hama wereng
Alat ini dirancang sebagai alternatif pengganti pestisida kimia dengan memanfaatkan prinsip-prinsip fisika dan ekosistem alami untuk menangkap hama wereng secara efektif.
2. Pemasangan rubuha (rumah burung hantu)
Rubuha digunakan untuk memfasilitasi predator alami hama tikus sawah, yaitu burung hantu. Program ini bertujuan meningkatkan kontrol biologis terhadap populasi tikus di area persawahan.
3. Pemanfaatan daun pepaya sebagai umpan alami hama siput air
Daun pepaya yang difermentasi memiliki aroma yang menarik bagi siput air, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai umpan alami untuk mengurangi serangan hama tersebut.
Lokasi KKN dan Karakteristik Wilayah
Desa Bedewang merupakan desa yang berada di kawasan perbukitan dengan dominasi lahan pertanian sawah dan palawija. Wilayah ini memiliki topografi yang beragam dengan ketinggian sekitar 300-500 mdpl. Kondisi pertanian di desa ini sangat bergantung pada musim hujan dan irigasi alamiah, sehingga rentan terhadap serangan hama yang berdampak pada hasil panen.
Petani di Bedewang masih mengandalkan pestisida kimia dalam pengendalian hama, yang tidak hanya mahal tetapi juga berdampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kesehatan. Oleh karena itu, program KKN ini diharapkan dapat menjadi solusi alternatif yang lebih berkelanjutan.
Partisipasi Kelompok Tani dan Masyarakat
Dalam sosialisasi ini, beberapa kelompok tani di Desa Bedewang menyatakan kesiapannya untuk mendukung pelaksanaan program KKN. Di antaranya:
- Kelompok Tani Siungwanoro (Tegalwudi), dipimpin oleh Pak Haji Muhid
- Kelompok Tani Siungnugroh (Tegalwudi), dipimpin oleh Pak Khoirul Anam
- Kelompok Tani Siungturonggo (Wiyayu Barat), salah satu kelompok tertua yang berada di wilayah paling sepuh di Desa Bedewang, dipimpin oleh Pak Burohim
Ketiga kelompok ini merupakan mitra utama dalam pelaksanaan program KKN, terutama dalam implementasi dan uji coba alat serta pengembangan model pengendalian hama secara mandiri.
Deskripsi BMC (Business Model Canvas) :
- Key Partners : Kelompok tani Desa Bedewang, Pemerintah Desa, serta masyarakat lokal.
- Key Activities : Penyuluhan, pelatihan, pembuatan alat perangkap hama, pemasangan rubuha, serta monitoring dampak program.
- Key Resources : Mahasiswa KKN, kelompok tani, bahan lokal (bambu, daun pepaya, kayu), serta fasilitas pendukung dari desa.
- Value Proposition : Solusi pengendalian hama ramah lingkungan, murah, dan mudah direplikasi oleh petani.
- Customer Relationships : Kolaborasi langsung dengan petani melalui diskusi, pelatihan, dan partisipasi aktif dalam pelaksanaan program.
- Channels : Sosialisasi langsung di balai desa, pelatihan di lapangan, serta dokumentasi dan publikasi hasil program.
- Customer Segments : Petani di Desa Bedewang, khususnya kelompok tani Siungwanoro, Siungnugroh, dan Siungturonggo.
- Cost Structure : Biaya pembuatan alat, transportasi, konsumsi selama pelatihan, serta biaya administrasi kegiatan.
- Revenue Streams : Tidak ada pendapatan finansial, namun program ini memberikan manfaat sosial dan lingkungan berupa peningkatan kapasitas petani dan pengurangan dampak negatif pestisida.
Respon Masyarakat dan Harapan Kedepan
Koordinator KKN, Hamiz Fuad Elbariq, menjelaskan bahwa program ini dirancang agar mudah diaplikasikan oleh petani secara mandiri, serta berbasis pada sumber daya lokal.
“Kami ingin program ini tidak hanya bersifat sementara selama KKN, tetapi bisa menjadi bagian dari praktik pengelolaan hama yang berkelanjutan di Desa Bedewang,” ujarnya.
Pejabat Kepala Desa, Pak Lima Ujiana Hadi, menyambut baik inisiatif KKN ini dan menyatakan siap mendukung pelaksanaannya.
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN. Masalah hama wereng, tikus sawah, dan siput air memang sudah lama menjadi tantangan serius bagi petani kami. Kami berharap program ini bisa menjadi solusi yang nyata dan berkelanjutan,” ujar Pak Lima.
Sementara itu, Bapak Ansori, salah satu anggota kelompok tani, menyatakan bahwa masyarakat siap membantu dalam penyediaan bahan dan tenaga untuk pelaksanaan program.
“Kami siap mendukung penuh program ini. Bahkan kami bersedia menyediakan bahan dan tenaga untuk pemasangan rubuha dan pembuatan alat perangkap hama,” tambahnya.
Dalam sesi diskusi, beberapa petani menyampaikan harapan agar program ini bisa dikembangkan lebih lanjut, termasuk perlunya pelatihan langsung dan rekomendasi lokasi pemasangan rubuha yang strategis.
Kegiatan sosialisasi ditutup dengan penandatanganan berita acara serta foto bersama sebagai tanda dimulainya pelaksanaan program KKN di Desa Bedewang.
