Konten dari Pengguna

Kenapa Rupiah Melemah Bikin Harga Naik, tapi Pas Menguat Harga Tak Turun?

Putra Gilang Setiawan

Putra Gilang Setiawan

Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putra Gilang Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap rupiah melemah terhadap dolar AS, kita biasanya mendengar dua reaksi. Pelaku usaha cemas, dan sebagian orang berpikir, "Ya sudah, kan bagus buat ekspor." Benarkah begitu?

Foto: Ahsanjaya/Pexels (https://www.pexels.com/photo/a-person-holding-indonesian-rupiah-paper-money-8764609/).
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Ahsanjaya/Pexels (https://www.pexels.com/photo/a-person-holding-indonesian-rupiah-paper-money-8764609/).

Apa itu PPP?

Purchasing power parity (PPP) atau paritas daya beli adalah teori lama yang masih relevan. Idenya sederhana yaitu, kurs dua mata uang seharusnya bergerak mengikuti selisih inflasi kedua negara. Kalau inflasi Indonesia lebih tinggi dari AS, wajar jika rupiah melemah secukupnya untuk mengimbanginya. Selama pelemahan itu "sepadan", nilai riil aset dan pendapatan relatif terjaga.

Masalah muncul ketika kurs bergerak menyimpang dari patokan itu. Di sinilah lahir apa yang disebut eksposur valas, yaitu kerentanan nilai ekonomi terhadap perubahan kurs yang tidak terduga.

Berlaku, tapi hanya untuk jangka panjang

Hasil studi tentang rupiah beragam. Sebagian riset menemukan PPP berlaku, sebagian lain tidak menemukan pengaruh inflasi yang signifikan terhadap kurs. Satu studi dengan data 1990-2023 menjembatani keduanya, PPP cukup baik menjelaskan kurs dalam jangka panjang, tetapi dalam jangka pendek pergerakan rupiah banyak dipengaruhi hal lain, seperti sentimen pasar dan stabilitas politik. Jadi kalau rupiah bergejolak minggu ini, jangan buru-buru mencari penjelasannya di angka inflasi saja.

Dampak paling nyata: harga barang

Dari semua jalur dampak kurs, bukti yang paling kuat ada di harga. Studi di Indonesia, Malaysia, dan Filipina menunjukkan bahwa perubahan kurs paling kuat merambat ke inflasi di Indonesia. Pelemahan rupiah juga berdampak lebih besar pada inflasi daripada dampak penguatan rupiah. Artinya, saat rupiah melemah, harga barang impor dan biaya produksi cenderung naik cepat. Saat rupiah menguat, penurunannya tidak sekuat itu.

Bagi kita sehari-hari, ini terasa pada bahan baku yang diimpor, komponen elektronik, dan barang-barang yang rantai produksinya bergantung pada impor.

Mitos: rupiah murah pasti bagus untuk ekspor

Rupiah tercatat undervalued (nilainya lebih rendah dari yang "seharusnya") di sebagian besar periode, kecuali pada 1993-1996. Secara teori itu menguntungkan eksportir. Tapi studi pada 22 industri manufaktur menemukan bahwa penyimpangan kurs dan perubahan kurs riil tidak signifikan memengaruhi ekspor manufaktur.

Yang justru berpengaruh adalah ekspor periode sebelumnya, suku bunga riil, upah riil, produktivitas tenaga kerja, dan pertumbuhan perusahaan. Dengan kata lain, daya saing ekspor lebih ditentukan oleh kemampuan produksi daripada "diskon" dari kurs. Untuk perdagangan Indonesia-AS, dampak naik-turunnya kurs juga berbeda-beda antarkomoditas.

Hampir separuh perusahaan tidak melindungi diri

Ada satu temuan yang menarik, yaitu hasil penelitian dari sampel 50 perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia (2020-2022), hanya 52% pengamatan yang menunjukkan perusahaan melakukan lindung nilai (hedging). Artinya, hampir separuhnya tidak. Perusahaan yang utangnya lebih besar cenderung lebih rajin berlindung nilai, sedangkan perusahaan dengan kepemilikan saham manajer yang lebih besar cenderung kurang.

Kajian lintas negara juga mencatat bahwa di negara berkembang, lebih banyak perusahaan menanggung risiko pelemahan mata uang yang tidak terlindungi. Perlu dicatat, data BEI ini diambil pada masa pandemi, jadi polanya belum tentu mewakili kondisi normal.

Lalu, apa artinya?

1. Stabilitas kurs penting untuk stabilitas harga, karena pelemahan rupiah cepat merambat ke inflasi.

2. Jangan mengandalkan rupiah murah untuk mendorong ekspor. Buktinya lemah. Produktivitas, suku bunga, dan iklim usaha lebih menentukan.

3. Lindung nilai perlu didorong, terutama bagi perusahaan yang punya utang dalam valas.