Konten dari Pengguna

Feminisme dan Kritik atas Isu Ekonomi Politik Internasional Kontemporer

Putra Mahardika

Putra Mahardika

Mahasiswa Semester Tiga Program Studi Hubungan Internasional di Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putra Mahardika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image by Manuel Alfarez from Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Image by Manuel Alfarez from Pixabay.

Selama ini, pembahasan tentang ekonomi politik internasional sering didominasi oleh teori-teori besar seperti liberalisme, marxisme, dan merkantilisme. Ketiganya banyak berbicara tentang negara, pasar, dan kekuasaan, tetapi jarang menyinggung siapa yang paling terdampak oleh kebijakan ekonomi global itu sendiri. Di sinilah feminisme hadir. Bukan sekadar untuk menambahkan nama perempuan dalam statistik, melainkan untuk menggugat asumsi dasar bahwa ekonomi bersifat netral dan bebas nilai.

Feminisme dalam ekonomi politik internasional menantang cara pandang lama yang cenderung maskulin. Bagi para pemikir feminis seperti Cynthia Enloe, ekonomi global tidak dapat dilepaskan dari relasi kuasa di tingkat domestik. “The personal is international,” tulisnya, menegaskan bahwa aktivitas sehari-hari seperti mengasuh anak, bekerja sebagai asisten rumah tangga, hingga merawat lansia di luar negeri adalah bagian dari sistem ekonomi dunia yang menopang kapitalisme global.

Fenomena global care chain menjadi contoh yang paling nyata. Ribuan perempuan Indonesia meninggalkan keluarganya untuk bekerja sebagai pengasuh di Hong Kong, Singapura, atau Timur Tengah. Mereka sering disebut pahlawan devisa, tetapi jarang mendapatkan perlindungan hukum yang memadai. Ironisnya, pekerjaan mereka dianggap tidak produktif oleh sistem ekonomi formal, padahal tanpa kerja perawatan itu, roda ekonomi global bisa berhenti berputar.

Kritik feminis juga menyoroti kebijakan lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia yang sering memotong subsidi sosial atas nama efisiensi ekonomi. Pemotongan ini justru memperberat beban perempuan di negara berkembang karena mereka harus menanggung konsekuensi di tingkat rumah tangga.

Melalui perspektif feminis, ekonomi global tidak lagi dilihat sebatas angka dan pasar, tetapi juga tentang kemanusiaan dan keadilan. Feminisme mengingatkan bahwa ekonomi yang sehat bukan hanya tentang pertumbuhan, melainkan tentang bagaimana dunia memberi ruang setara bagi mereka yang selama ini menopang sistem dari balik layar, yaitu para perempuan.