Ekspedisi Menantang ke Air Terjun Burai Indah di Sumbar

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Putra Melandry tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumatera Barat memang tak pernah kehabisan kejutan bagi para pencinta alam. Di balik jajaran bukit barisan dan hamparan sawah yang hijau, tersimpan surga-surga tersembunyi yang menanti untuk "ditemukan" kembali. Salah satu permata yang baru saja kami telusuri adalah Air Terjun Burai Indah. Lokasi persisnya berada di Sungai Antuan, Nagari Mungka, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Perjalanan kami dilaksanakan pada Senin 2 Februari 2026.

Bagi warga setempat, nama ini mungkin terdengar familier namun sarat akan nostalgia. Menurut cerita Isal Joharni, seorang warga lokal yang kami temui, air terjun ini memiliki sejarah yang cukup panjang. "Awalnya, lokasi ini ditemukan secara tidak sengaja ketika masyarakat setempat sedang bergotong royong membuat saluran irigasi bambu, yang kemudian dilanjutkan dengan pembangunan irigasi permanen oleh Dinas Pekerjaan Umum. Sejak penemuan itulah, tepatnya sekitar tahun 1985, Air Terjun Burai Indah menjadi primadona wisata yang ramai dikunjungi. Sayangnya, popularitas tempat ini meredup dan akhirnya non-aktif setelah sebuah insiden tidak menyenangkan yang melibatkan perilaku tidak senonoh pengunjung pada sekitar tahun 1995. Kini, tempat ini seperti raksasa tidur yang menunggu untuk dibangunkan kembali dengan wajah yang lebih baik," ujar beliau
Perjalanan kami dimulai dengan penuh semangat. Untuk mencapai lokasi, patokannya dimulai dari gerbang masuk Mungka. Kami memacu kendaraan lurus melewati jalan raya utama, kemudian mengambil belokan ke kanan memasuki sebuah gang yang telah ditandai dengan plang petunjuk arah menuju Air Terjun Burai Indah.
Begitu melewati gerbang masuk ke arah lokasi, suasana langsung berubah. Kami disambut oleh jalan lurus yang membelah perkampungan warga. Suasana di sini sangat asri dan jauh dari hiruk pikuk kota. Kanan kiri jalan dipenuhi oleh rumah-rumah warga yang sederhana dengan halaman yang rimbun oleh pepohonan tropis. Terlihat aktivitas warga yang santai, beberapa anak muda tampak menaiki kendaraan bak terbuka, menikmati sore yang mendung namun sejuk. Pepohonan kelapa yang menjulang tinggi di kejauhan seolah menjadi pagar alami yang membatasi pandangan ke langit, menciptakan lorong hijau yang menyejukkan mata.
Namun, kenyamanan jalan aspal tidak berlangsung selamanya. Tantangan sesungguhnya dimulai ketika roda kendaraan kami menyentuh jalur yang belum tersentuh aspal. Jalur yang kami lalui berupa tanah padat bercampur rerumputan liar. Bagi pengendara motor, ini adalah arena off-road tipis-tipis yang cukup memacu adrenalin. Kami harus ekstra hati-hati menuruni jalanan yang menurun cukup curam, memastikan rem berfungsi dengan baik agar tidak tergelincir.
Meskipun medannya menantang, pemandangan yang tersaji di depan mata sungguh membayar lunas rasa lelah. Sepanjang perjalanan menuruni bukit, mata kami dimanjakan oleh lukisan alam yang sempurna. Dari ketinggian, terlihat hamparan sawah luas yang membentang hijau di lembah bawah, diapit oleh jalan setapak yang kami lalui dan punggung bukit tinggi yang berdiri kokoh di kejauhan sebagai latar belakangnya. Angin sepoi-sepoi yang membawa aroma tanah basah dan padi membuat perjalanan ini terasa sangat terapeutik. Di sisi jalan, kami juga ditemani oleh aliran Sungai Antuan yang mengalir tenang, menjadi penanda bahwa kami semakin dekat dengan tujuan.
Sesampainya di area parkir motor yang sederhana di tepi hutan bambu, kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Di sini, kami dihadapkan pada sebuah rintangan alam: Sungai Antuan. Ternyata, untuk menuju air terjun, kami harus menyusuri atau menyeberangi sungai ini. Ada dua opsi rute yang bisa dipilih. Rute pertama adalah menyusuri sungai di sebelah kanan menggunakan rakit, atau rute kedua melewati jalur irigasi di sebelah kiri.
Melihat kondisi air sungai yang cukup dalam bahkan bisa mencapai setinggi leher orang dewasa tentu berjalan kaki langsung di dalam air bukanlah pilihan yang bijak tanpa persiapan matang. Akhirnya, sebagian tim memilih menggunakan rakit bambu sederhana. Sensasi menaiki rakit di tengah sungai yang dikelilingi hutan lebat memberikan nuansa petualangan klasik. Namun, bagi yang ingin menghemat waktu, rute kedua melalui jalur irigasi ternyata lebih cepat.
Setelah berhasil menaklukkan rintangan sungai, kami kembali menemukan petunjuk arah. Sebuah papan kayu sederhana bertuliskan arah menuju air terjun tertempel di batang pohon besar, memastikan kami tidak tersesat di tengah rimbunnya hutan. Etape berikutnya adalah ujian keseimbangan. Kami harus berjalan meniti beton saluran irigasi yang membelah hutan. Jalurnya sempit dan memanjang, diapit oleh semak belukar dan pepohonan bambu yang merunduk, membentuk terowongan alami yang eksotis.
Tantangan fisik semakin terasa ketika jalur irigasi berakhir dan berganti menjadi jalan setapak tanah. Akses jalan di sini mulai sulit. Kami harus mendaki tebing dengan kemiringan yang cukup menguras tenaga. Jalurnya dipenuhi bebatuan tajam dan rumput liar yang licin, sehingga kesabaran dan kehati-hatian menjadi kunci utama untuk sampai ke atas.
Namun, segala peluh itu terbayar tuntas saat kami tiba di tingkat pertama Air Terjun Burai Indah. Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 10 meter. Pemandangan di sini sungguh magis. Air meluncur deras dari tebing batu yang berwarna gelap, kontras dengan buih air yang memutih. Dinding tebing di sekeliling air terjun dipenuhi oleh akar-akar pohon tua yang menggantung menjuntai, memberikan kesan purba dan alami, seolah-olah tempat ini belum pernah dijamah manusia. Di bagian bawahnya, terbentuk kolam kecil berwarna kecokelatan yang menampung jatuhan air sebelum mengalir ke sungai di bawahnya. Suara gemuruh air yang menghantam bebatuan menjadi musik alam yang menenangkan jiwa.
Merasa belum puas, kami memutuskan untuk melanjutkan ekspedisi. Ternyata perjalanan belum selesai, karena masih ada satu tingkat lagi di atas sana. Jalur menuju tingkat kedua ini jauh lebih ekstrem. Kami harus mendaki jalan setapak yang sangat curam dengan waktu tempuh yang lumayan lama karena akses yang terbatas. Rintangan berupa batang pohon besar yang tumbang melintang di tengah jalur memaksa kami untuk merangkak atau melangkahinya dengan hati-hati.
Ujian terakhir sebelum mencapai surga kedua ini adalah turunan bebatuan. Kami harus menuruni susunan bebatuan yang tajam dan sempit. Salah pijakan sedikit saja bisa berakibat fatal. Namun, begitu kaki kami mendarat di dasar lembah kecil itu, kelelahan kami sirna seketika.
Di hadapan kami, berdiri gagah Air Terjun Burai Indah tingkat kedua dengan ketinggian sekitar 7 meter. Berbeda dengan tingkat pertama, air terjun di tingkat kedua ini terasa lebih privat dan intim. Airnya jatuh melebar membasahi dinding batu cadas yang kokoh, dikelilingi oleh vegetasi hutan hujan tropis yang sangat rapat. Tanaman paku-pakuan dan lumut hijau menempel subur di dinding tebing, menciptakan gradasi warna hijau yang menyegarkan mata. Kolam alami di bawahnya terlihat lebih tenang dan dangkal dengan air yang jernih, sangat menggoda untuk sekadar merendam kaki atau membasuh muka. Cahaya matahari yang mencoba menembus celah dedaunan di atas sana menciptakan efek bias cahaya yang dramatis, membuat suasana terasa semakin syahdu.
Tempat ini memiliki segala syarat untuk menjadi destinasi wisata unggulan: keindahan alami, tantangan petualangan, dan sejarah yang unik.
Besar harapan dari warga lokal seperti Isal Joharni agar objek wisata ini bisa aktif kembali. "Tentu saja, belajar dari masa lalu, pengaktifan kembali ini diharapkan dibarengi dengan sistem penjagaan yang lebih ketat untuk mencegah kejadian negatif terulang kembali. Jika dikelola dengan baik dan profesional, Air Terjun Burai Indah tidak hanya akan menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga roda penggerak ekonomi yang bisa menyejahterakan masyarakat Nagari Mungka," tutupnya.
Bagi Anda para petualang yang mencari ketenangan dan tantangan, Air Terjun Burai Indah di Mungka menanti untuk Anda jelajahi. Siapkan fisik, bawa bekal, dan yang terpenting, jaga kesopanan serta kelestarian alam agar "permata" ini tetap bersinar.
