Tawas: Solusi hilangkan Bau Ketek Untuk Kaum Mendang-Mending

Mahasiswa Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga jurusan Perbandingan Madzhab
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Putra Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah naiknya harga beras, gaji kerja tak karuan, dan skincare yang harganya bikin dompet auto tobat, satu hal yang tetap tak boleh dilupakan: bau ketek.
Iya, ketek. Bagian tubuh yang kadang tak terlihat, tapi bisa sangat terasa. Terutama buat orang-orang yang duduk satu baris sama kamu di bus Transjakarta atau kereta KRL jam pulang kantor atau sekolah. Ketika AC tak mampu melawan bau ketek, di sanalah tragedi dimulai.
Maka dari itu, izinkan kami memperkenalkan satu benda sakti, yang dulu mungkin hanya kamu temui di lemari nenekmu, atau di rak toko bangunan sebelah tempat jualan beras eceran dan pop ice: tawas.
Bukan, ini bukan endorse. Ini dakwah. Dakwah untuk menyelamatkan hidung umat manusia dari aroma-aroma duniawi yang membingungkan.
Tawas, si kristal putih polos, mungkin bukan pilihan utama generasi skincare enthusiast yang raknya penuh merek luar negeri. Tapi justru di situlah kekuatannya: low profile tapi high impact.
Kaum mendang-mending—yaitu kaum yang hidupnya selalu berada di antara dua pilihan: "mending beli nasi padang atau hemat buat akhir bulan", "mending lanjut skripsi atau rebahan dulu"—akhirnya menemukan harapan baru dalam hidup yang serba tanggung ini. Tawas adalah jawaban dari semua keraguan itu.
Untuk kencan? Bisa.
Untuk berhemat? Bisa.
Untuk diwariskan sampai punya anak? Bisa banget.
Mengenal Si Putih Bening Tawas
Tawas itu bukan cuma batu bening buat eksperimen IPA zaman SD. Secara ilmiah, dia adalah “aluminium potassium sulfate”—benda yang kelihatannya kayak kristal garam, tapi niatnya sungguh mulia: salah satunya menyelamatkan ketek umat manusia.
Di India, benda bening ini sudah sejak lama jadi andalan buat ngusir bau badan. Di sana, tawas ibarat sahabat karib para ketiak—nggak ribet, murah, dan bisa diandalkan. Sifatnya yang bisa menghambat pertumbuhan bakteri bikin dia makin disayang, apalagi pas musim panas datang dan keringat berubah jadi senjata biologis.
Nggak cuma di India, di luar sana orang-orang juga kreatif banget. Tawas dihancurkan jadi bubuk, dicampur air, witch hazel, atau air mawar, lalu dimasukin ke botol semprot biar kesannya kayak DIY deodorant aesthetic. Padahal ujung-ujungnya ya biar ketiak nggak bau juga.
Ketika kamu oleskan tawas ke ketiak, dia bukan cuma ngasih efek “astringent”-mengecilkan pori-pori keringat. Dia juga datang sebagai ksatria, karena bisa menghambat pertumbuhan bakteri –biang kerok utama munculnya bau ketek.
Sang pendekar tawas akan terus melawan bakteri sampai titik darah penghabisan, sambil berteriak dalam hati:
“Bro, jangan bikin malu!!! Lu cikal bakal munculnya bau ketek yang bisa bikin orang hampir sekarat sosial!”
Jadi, kalau kamu masih ngerasa pakai tawas itu ndeso, ingat baik-baik: ini bukan soal tren. Ini soal strategi bertahan hidup. “Global, bossss. Bukan cuma lokal.”
Si Bening Putih Tak Berdosa Bisa Saja Bikin Ketek Tersakiti
Seperti cinta pertama yang kelihatan manis tapi toxic, tawas juga punya sisi yang menyakiti. Jika tidak cocok atau dipakai secara berlebihan, bisa membuat kulitmu ngamuk.
Efek samping yang pertama, sensitivitas kulit setiap orang berbeda-beda. Tidak semua orang bisa cocok dengan tawas, dan orang-orang yang tidak cocok dengan tawas tidak bisa dipaksakan karena bisa menyebabkan luka iritasi. Ingat, hubungan yang sehat itu bukan dipaksakan. Cinta yang baik itu bikin nyaman, bukan bikin iritasi.
Kedua, bagi orang yang abis nyukur bulu ketek, diharapkan hati-hati karena bisa menyebabkan efek iritasi kulit. Soalnya, kulit habis dicukur itu lagi sensi—ibarat hati yang baru ditinggal ghosting. Porinya masih terbuka, lapisannya belum stabil, dan kalau langsung digosok tawas, ya bisa perih, merah, bahkan nyut-nyutan. Jadi mending kasih waktu dulu buat kulit pulih, baru tawas masuk sebagai penyelamat, bukan penyiksa.
Pada akhirnya, tawas bukan sekadar batu bening warisan nenek-nenek kita. Ia adalah simbol perlawanan kaum mendang-mending terhadap kapitalisme wangi-wangian yang makin mahal dan makin ribet. Di tengah skincare berlapis-lapis dan deodorant beraroma buah-buahan tropis yang tidak pernah kita lihat di pasar, tawas hadir sebagai solusi sederhana tapi efektif.
Meski murah dan awet, bukan berarti tawas bisa dipakai semena-mena. Ia tetap butuh perhatian dan penyesuaian, apalagi buat kulit sensitif atau ketiak baru cukur. Ingat, tujuan kita bukan sekadar bebas bau, tapi juga bebas luka.
Jadi buat kamu yang hidupnya di antara promo toko oren dan tagihan kos-kosan, tawas bisa jadi penyelamat dompet sekaligus penyelamat pergaulan. Karena sesungguhnya, tak ada yang lebih menyakitkan daripada bau ketek sendiri saat angkat tangan di tengah keramaian.
Gunakan tawas dengan bijak. Demi masa depan yang lebih harum dan hemat.
