Konten dari Pengguna

Budaya Tidak Enakan: Penghalang Mahasiswa untuk Berpikir Kritis

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari PUTRA NURWANSYAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mahasiswa ikut perkuliahan. Foto: Zakris Studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mahasiswa ikut perkuliahan. Foto: Zakris Studio/Shutterstock

Sifat tidak enakan dapat menjadi kendala bagi banyak orang. Rasa tidak enakan sering kali menjadi penghalang bagi seseorang untuk menyampaikan sesuatu yang sebenarnya perlu diungkapkan. Kita memilih diam bukan karena tidak memiliki pendapat, melainkan karena takut membuat orang lain marah, tersinggung, atau merasa tidak nyaman.

Sebagai seorang mahasiswa, saya tertarik membahas budaya tidak enakan dalam ruang lingkup kampus. Menurut saya, persoalan ini penting untuk diperhatikan karena kampus seharusnya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan pemikiran kritis, menyampaikan gagasan, serta menguji kebenaran melalui diskusi dan perdebatan yang sehat.

Hari ini, budaya tidak enakan menjadi salah satu persoalan yang dapat menghambat perkembangan mahasiswa. Dalam kegiatan akademik, kita dituntut untuk aktif, baik ketika mengikuti perkuliahan, berdiskusi dalam kelompok, maupun menyampaikan pendapat di hadapan dosen dan mahasiswa lainnya. Namun, ketika kesempatan untuk berbicara datang, tidak sedikit mahasiswa yang justru memilih diam karena merasa tidak enak.

Ada yang takut pendapatnya membuat teman tersinggung. Ada yang khawatir dianggap sok pintar ketika mengoreksi jawaban orang lain. Ada pula yang sebenarnya mengetahui adanya kekeliruan dalam suatu pembahasan, tetapi memilih untuk tidak menyampaikan koreksi karena takut merusak hubungan pertemanan.

Pertanyaannya, apakah kita harus selalu mengorbankan kebenaran hanya demi menjaga perasaan orang lain?

Kampus Seharusnya Menjadi Ruang Dialektika

Dalam lingkungan akademik, perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar. Setiap mahasiswa memiliki latar belakang, pengalaman, dan kapasitas keilmuan yang berbeda. Perbedaan tersebut seharusnya menjadi kesempatan untuk saling belajar, bukan alasan untuk saling menjauh.

Kita perlu memahami bahwa tujuan diskusi bukan sekadar membuktikan siapa yang paling benar atau siapa yang paling pintar. Diskusi merupakan sarana untuk menguji gagasan, memperbaiki pemahaman, dan menemukan sudut pandang yang mungkin belum pernah kita pikirkan sebelumnya.

Ketika seorang mahasiswa menyampaikan pendapat, mahasiswa lain memiliki hak untuk memberikan tanggapan, termasuk menyanggahnya. Begitu pula sebaliknya, ketika pendapat kita dikritik, kita seharusnya mampu menerima kritik tersebut selama disampaikan dengan alasan yang jelas dan cara yang baik.

Inilah pentingnya dialektika dalam dunia akademik. Gagasan tidak seharusnya diterima begitu saja tanpa pengujian. Sebuah pendapat perlu didukung oleh argumentasi, fakta, dan data yang relevan. Jika terdapat kekeliruan, kekeliruan itu perlu diperbaiki melalui proses diskusi.

Namun, bagaimana dialektika dapat berjalan apabila setiap orang memilih diam karena takut membuat orang lain tidak nyaman?

Budaya tidak enakan yang berlebihan dapat membuat diskusi kehilangan maknanya. Mahasiswa hadir di kelas, mendengarkan penjelasan, dan mengerjakan tugas, tetapi tidak sepenuhnya memanfaatkan kesempatan untuk bertukar pikiran. Padahal, salah satu hal penting dalam pendidikan tinggi adalah melatih kemampuan berpikir mandiri dan mempertanggungjawabkan pendapat.

Berani Berpendapat Bukan Berarti Tidak Menghargai Orang Lain

Menurut saya, persoalan utama bukanlah menghilangkan rasa tidak enakan sepenuhnya, melainkan belajar mengendalikan rasa tersebut agar tidak menghambat keberanian kita dalam menyampaikan kebenaran.

Kita tetap perlu menjaga sopan santun dan menghargai perasaan orang lain. Namun, menghargai orang lain tidak berarti harus selalu menyetujui pendapatnya. Kita dapat berbeda pandangan tanpa harus bermusuhan. Kita juga dapat mengoreksi kesalahan seseorang tanpa merendahkan harga dirinya.

Sebagai contoh, ketika teman menyampaikan pendapat yang menurut kita kurang tepat, kita dapat mengatakan, "Menurut saya, ada sudut pandang lain yang perlu dipertimbangkan. Bagaimana jika kita melihat persoalan ini dari sisi yang berbeda?"

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa keberanian berbicara tidak harus diwujudkan melalui perkataan yang kasar. Kita dapat bersikap tegas sekaligus tetap menghormati orang lain.

Lantas, bagaimana cara mengatasi budaya tidak enakan yang berlebihan di kalangan mahasiswa?

Pertama, percaya diri dengan ilmu yang dimiliki. Kita tidak harus mengetahui segala sesuatu untuk berani berbicara. Sampaikan pendapat berdasarkan pemahaman yang kita miliki, lalu lengkapi dengan fakta dan data yang relevan. Jika belum yakin, kita juga boleh bertanya. Keberanian akademik tidak selalu berarti memberikan jawaban, tetapi juga berani mengakui ketidaktahuan.

Kedua, memahami bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses belajar. Tidak ada mahasiswa yang langsung menguasai seluruh ilmu pengetahuan. Kita bisa keliru dalam memahami teori, menyampaikan argumentasi, atau menarik kesimpulan. Namun, kesalahan bukan alasan untuk berhenti berbicara. Justru melalui koreksi, kita memiliki kesempatan untuk memperbaiki pemahaman. Dengan demikian, kita dapat menjadikan kesalahan sebagai jalan menuju pemahaman yang lebih baik.

Ketiga, membuka diri terhadap kritik dan sanggahan. Kita membutuhkan orang lain untuk menguji pemikiran kita. Tanpa adanya tanggapan, kita mungkin tidak menyadari kelemahan dalam argumentasi sendiri. Oleh karena itu, jangan menganggap orang yang membantah pendapat kita sebagai musuh. Selama kritik disampaikan secara rasional dan bertujuan memperbaiki pemahaman, kritik tersebut dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir.

Keempat, belajar mengungkapkan pikiran dan perasaan secara sehat. Pendapat yang terus dipendam dapat menimbulkan penyesalan, terutama ketika kita sebenarnya memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi. Biasakan diri untuk berbicara sedikit demi sedikit, mulai dari bertanya di kelas, memberikan tanggapan dalam diskusi kelompok, hingga menyampaikan argumentasi dalam forum yang lebih luas.

Tentu saja, menerapkan keempat hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan latihan, keberanian, dan konsistensi. Kita mungkin masih merasa gugup ketika berbicara atau khawatir pendapat kita tidak diterima. Namun, selama terus berlatih, kemampuan menyampaikan gagasan akan berkembang.

Jangan Mengorbankan Kejujuran Demi Kenyamanan

Pada akhirnya, budaya tidak enakan perlu kita evaluasi bersama, terutama dalam lingkungan kampus. Jangan sampai keinginan untuk menjaga hubungan baik justru membuat kita kehilangan keberanian untuk berpikir kritis dan menyampaikan sesuatu yang benar.

Kita perlu memahami bahwa tidak semua orang akan menyukai pendapat kita. Ada kalanya pendapat kita diterima, tetapi ada pula saatnya pendapat tersebut ditolak atau dikritik. Hal itu merupakan bagian yang wajar dalam proses bertukar pikiran.

Bagi saya, lebih baik kita belajar menerima ketidaknyamanan dari sebuah diskusi yang jujur daripada mempertahankan kenyamanan semu dengan menyembunyikan pendapat yang sebenarnya perlu disampaikan. Tentu saja, kejujuran harus disertai tanggung jawab, argumentasi yang kuat, dan cara penyampaian yang santun.

Teman-teman, mari kita mulai membiasakan diri untuk berani berbicara, berani bertanya, dan berani menerima koreksi. Jangan takut salah ketika sedang belajar, tetapi jangan pula merasa selalu benar hanya karena berani berbicara.

Sebab, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang memperoleh nilai dan menyelesaikan tugas perkuliahan. Lebih dari itu, menjadi mahasiswa berarti belajar menggunakan akal secara kritis, mempertanggungjawabkan pemikiran, dan membangun keberanian untuk menyampaikan pendapat berdasarkan fakta dan data.

Jangan sampai kita lebih takut membuat orang lain tidak nyaman daripada membiarkan sebuah kekeliruan tetap dianggap sebagai kebenaran.