Jika Pajak Dihapus, Apa Dampaknya?

Akademisi intelektual muslim Mahasiswa unpam fakultas agama islam program study ekonomi syariah. karyawan swasta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari PUTRA NURWANSYAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat jika pajak dihapuskan? Apakah harga barang menjadi lebih murah, daya beli meningkat, dan Indonesia mampu menjadi kekuatan ekonomi dunia?
Pertanyaan tersebut menarik untuk dikaji di tengah tantangan biaya hidup dan pemerataan kesejahteraan. Pajak merupakan sumber utama pendapatan negara, tetapi juga dapat memengaruhi biaya produksi, konsumsi, dan investasi.
Lantas, mungkinkah Indonesia membangun perekonomian yang lebih kuat dengan mengurangi beban pajak dan mengoptimalkan kekayaan sumber daya alam?
Apakah Penghapusan Pajak Membuat Harga Barang Lebih Murah?
Dalam kehidupan sehari-hari, harga barang dan jasa dipengaruhi oleh berbagai komponen, seperti bahan baku, upah pekerja, biaya distribusi, keuntungan usaha, dan pajak.
Sebagai contoh, seseorang membeli semangkuk bakso seharga Rp15.000. Jika pajak dihapuskan, apakah harganya bisa turun menjadi Rp5.000?
Secara teori, pengurangan pajak tertentu dapat menekan biaya produksi atau harga jual. Namun, penurunan harga sebesar itu tidak dapat dipastikan karena harga bakso juga dipengaruhi oleh harga daging, tepung, bumbu, tenaga kerja, dan biaya operasional.
Selain itu, tidak semua usaha makanan dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dengan perlakuan yang sama. Oleh karena itu, penghapusan pajak tidak otomatis membuat seluruh barang dan jasa menjadi murah.
Meskipun demikian, gagasan mengurangi beban biaya masyarakat tetap relevan. Kebijakan yang tepat dapat membantu meningkatkan daya beli tanpa mengabaikan kebutuhan pembiayaan negara.
Daya Beli Masyarakat sebagai Penggerak Ekonomi
Daya beli masyarakat memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga menyumbang 53,88% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2025.
Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa pengeluaran masyarakat merupakan salah satu penggerak utama aktivitas ekonomi nasional.
Ketika kebutuhan sehari-hari lebih terjangkau, masyarakat berpeluang mengalokasikan pendapatannya untuk pendidikan, tabungan, investasi, dan pengembangan usaha.
Peningkatan konsumsi juga dapat mendorong pelaku usaha memperluas produksi dan membuka lapangan kerja. Namun, permintaan yang meningkat harus diimbangi dengan kapasitas produksi agar tidak memicu kenaikan harga.
Dengan demikian, tujuan kebijakan ekonomi bukan sekadar menciptakan barang murah, melainkan meningkatkan kesejahteraan dan kemampuan produktif masyarakat.
Pendidikan dan Inovasi untuk Memperkuat Ekonomi
Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan konsumsi masyarakat. Peningkatan kualitas sumber daya manusia juga diperlukan agar bangsa ini mampu bersaing di pasar global.
Pendidikan yang berkualitas dapat membantu masyarakat mengembangkan keterampilan, ilmu pengetahuan, dan kemampuan berinovasi. Pemerintah perlu mendukungnya melalui fasilitas pendidikan, beasiswa, pelatihan, dan pemerataan akses belajar.
Dengan sumber daya manusia yang unggul, Indonesia berpeluang mengembangkan industri teknologi, pertanian modern, energi terbarukan, pengolahan mineral, dan keuangan syariah.
Produk dan jasa bernilai tambah tinggi dapat memperkuat ekspor sekaligus mengurangi ketergantungan pada penjualan bahan mentah.
Inilah salah satu jalan menuju kekuatan ekonomi dunia: mengolah kekayaan alam dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kreativitas.
Mungkinkah Rupiah Menguat terhadap Dolar?
Jika produk Indonesia semakin berkualitas dan diminati pasar internasional, ekspor berpotensi meningkat. Aktivitas perdagangan dapat memengaruhi arus valuta asing dan permintaan terhadap rupiah.
Namun, peningkatan ekspor tidak otomatis membuat rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat. Nilai tukar juga dipengaruhi inflasi, suku bunga, arus modal, kebijakan moneter, dan kondisi ekonomi global.
Karena itu, kekuatan rupiah seharusnya dibangun melalui produktivitas, daya saing industri, riset, dan ekspor bernilai tambah tinggi.
Keberhasilan ekonomi tidak cukup diukur dari nilai tukar. Kesejahteraan masyarakat dan kemampuan industri nasional untuk bersaing juga merupakan ukuran penting.
Jika Pajak Dihapus, dari Mana Pendapatan Negara?
Inilah persoalan mendasar dari gagasan penghapusan pajak. Negara tetap membutuhkan pendapatan untuk membiayai pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pertahanan, dan perlindungan sosial.
Menurut Kementerian Keuangan, realisasi sementara pendapatan negara dalam APBN 2025 mencapai Rp2.756,3 triliun. Dari jumlah tersebut, penerimaan perpajakan mencapai Rp2.217,9 triliun, sedangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp534,1 triliun.
Angka tersebut menunjukkan besarnya peran pajak dalam membiayai negara. Jika seluruh pajak dihapuskan, pemerintah harus menemukan sumber pendapatan pengganti dalam jumlah yang sangat besar.
Salah satu alternatif yang dapat dikaji adalah optimalisasi pengelolaan sumber daya alam. Indonesia memiliki kekayaan mineral, energi, perikanan, kehutanan, dan berbagai potensi ekonomi lainnya.
Pengelolaan yang transparan dapat meningkatkan penerimaan negara melalui royalti, dividen badan usaha milik negara, dan PNBP lainnya.
Gagasan tersebut sejalan dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945:
“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”
Amanat konstitusi tersebut menegaskan bahwa kekayaan alam harus memberikan manfaat bagi masyarakat luas, bukan hanya segelintir pihak.
Namun, penerimaan dari sumber daya alam dipengaruhi harga komoditas, ketersediaan cadangan, dan persoalan lingkungan. Karena itu, pendapatan tersebut belum tentu cukup untuk menggantikan seluruh penerimaan pajak.
Penghapusan pajak secara menyeluruh tanpa sumber pendapatan pengganti yang memadai berisiko mengganggu pelayanan publik.
Alternatif yang lebih realistis adalah reformasi perpajakan agar lebih adil dan efisien. Upaya tersebut dapat disertai optimalisasi sumber daya alam, pemberantasan korupsi, pengurangan kebocoran anggaran, dan peningkatan kualitas belanja negara.
Menuju Indonesia yang Lebih Sejahtera
Gagasan penghapusan pajak mengajak kita mempertanyakan kembali bagaimana negara membiayai pembangunan dan mengelola kekayaan nasional.
Harga yang terjangkau, daya beli yang kuat, pendidikan berkualitas, dan industri yang kompetitif merupakan unsur penting bagi kemajuan bangsa. Namun, semuanya memerlukan kebijakan yang saling mendukung.
Penghapusan seluruh pajak memiliki risiko besar apabila tidak disertai sumber pendapatan pengganti. Meski demikian, gagasan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk membahas reformasi perpajakan dan pemerataan manfaat kekayaan alam.
Indonesia tidak seharusnya hanya menjadi negara yang kaya akan sumber daya alam. Indonesia juga harus mampu mengolah kekayaan tersebut menjadi ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan kesejahteraan.
Pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan hanya apakah pajak harus dihapuskan, melainkan apakah sistem ekonomi dan pengelolaan kekayaan negara saat ini telah memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat.
Sebab, kekayaan suatu bangsa tidak semata-mata terletak pada melimpahnya sumber daya alam, tetapi juga pada kemampuan mengelolanya secara bijaksana demi masa depan generasi berikutnya.
