Konten dari Pengguna

Jejak Sang Penulis yang Mengukir Sejarah Sastra Indonesia

Putra Rama Febrian

Putra Rama Febrian

Jangan Menunggu Bisa Untuk Memulai, Tapi Mulailah Supaya Bisa!

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putra Rama Febrian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pameran arsip "Wajah Tak Bernama" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (Sumber: Dokumentasi Pribadi/ Putra Rama Febrian)
zoom-in-whitePerbesar
Pameran arsip "Wajah Tak Bernama" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (Sumber: Dokumentasi Pribadi/ Putra Rama Febrian)

Ia bukan lagi sosok yang bisa dijumpai di ruang-ruang diskusi atau pertemuan sastra. Namanya jarang disebut di obrolan remaja yang kini lebih akrab dengan puisi digital dan musik latar sendu. Namun bagi mereka yang mencintai dunia sastra dan tulisan, nama itu tak mungkin dilupakan. Suara yang berani, tajam, dan tak lekang oleh zaman itu lahir dari seorang pria asal desa kecil di Sumatera Utara. Sosok itu adalah Sitor Situmorang, seorang penyair, wartawan, dan salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra Indonesia. Lahir pada 2 Oktober 1924 di Harianboho, Samosir, Sitor tumbuh di lingkungan adat Batak yang penuh tradisi lisan. Mungkin dari sana kecintaannya pada sastra mulai berakar. Kariernya dimulai sebagai wartawan di usia 19 tahun, sebelum ia dikenal luas melalui puisi, esai, cerpen, teater, dan karya-karya lainnya. Ia kemudian dikenal sebagai bagian dari sastrawan Angkatan ’45—kelompok penulis yang muncul pada masa pergolakan kemerdekaan dan membawa semangat baru dalam kesusastraan Indonesia, sejajar dengan nama-nama seperti Pramoedya Ananta Toer dan Chairil Anwar. Pandangan-pandangannya yang tajam dan gaya bahasanya yang khas menjadikannya sebagai salah satu suara yang menonjol di antara penyair-penyair pada masanya. Puisi-puisinya tak hanya menyentuh persoalan cinta atau keindahan alam, tapi juga kegelisahan politik dan spiritual. “Surat Kertas Hidjau” (1953) adalah salah satu puisinya yang paling dikenal, sekaligus yang memperlihatkan betapa kuatnya perasaan yang ia tumpahkan lewat baris-baris sederhana. Sedangkan dalam cerpennya yang berjudul “Pertempuran dan Saldju di Paris” (1956), ia memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia bisa menjadi medium sastra yang tak kalah tajam dari karya Eropa.

Linimasa Sitor Situmorang pada pameran arsip "Wajah Tak Bernama" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (Sumber: Dokumentasi Pribadi/ Putra Rama Febrian)
zoom-in-whitePerbesar
Linimasa Sitor Situmorang pada pameran arsip "Wajah Tak Bernama" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (Sumber: Dokumentasi Pribadi/ Putra Rama Febrian)

Tahun lalu, tepatnya pada 2 Oktober 2024, sebuah pameran arsip bertajuk “Wajah Tak Bernama” digelar di Galeri PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini diselenggarakan untuk memperingati 100 tahun kelahiran Sitor Situmorang. Di sana, linimasa hidupnya dipajang, lengkap dengan foto-foto, potongan puisi, bahkan naskah film dan teater yang pernah ia tulis. Esainya yang berjudul Sastra Revolusioner turut dipamerkan—sebuah tulisan yang mencerminkan sikap kritisnya terhadap situasi politik era Orde Baru dan menjadi alasan di balik julukannya sebagai “Sang Penulis Berbahaya.” Julukan itu tidak datang begitu saja. Pada 1967, Sitor ditahan tanpa pengadilan selama hampir satu dekade, karena keterlibatannya dalam polemik budaya dan kedekatannya dengan Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), yang dianggap dekat dengan pemerintah yang runtuh setelah peristiwa 1965. Meskipun berada dalam tahanan, ia tetap mempertahankan kebebasan berpikirnya. Setelah dibebaskan, Sitor melanjutkan hidup di luar negeri dan mengajar bahasa Indonesia di Universitas Leiden, Belanda. Kini, setelah seratus tahun sejak kelahirannya dan satu dekade lebih sejak wafatnya di Belanda pada 2014, karya-karya Sitor masih dibaca, dikaji, dan dikenang. Ia membuktikan bahwa puisi bukan sekadar kata-kata indah, melainkan juga sebuah perlawanan, kejujuran, dan warisan intelektual. Sitor Situmorang mungkin telah tiada. Tapi seperti puisinya yang sunyi namun tetap menyala, ia terus hidup—di rak buku, di ruang kelas, di kepala-kepala yang percaya bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk mengguncang dunia.