Konten dari Pengguna

Trend Thailand Selatan: Anak Muda Muslimnya Bikin Font Jawi Gratis dan Sebar di Media Sosial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Afnelia Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak muda Muslim Thailand Selatan sedang duduk di kafe sambil menunjukkan layar HP yang penuh tulisan Jawi. Dibuat menggunakan AI (Grok), 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Anak muda Muslim Thailand Selatan sedang duduk di kafe sambil menunjukkan layar HP yang penuh tulisan Jawi. Dibuat menggunakan AI (Grok), 2026.

Di tengah berita soal konflik yang sering muncul dari Thailand Selatan, ada fenomena yang hampir tak pernah dibahas media besar: anak muda Muslim di Pattani, Yala, dan Narathiwat sedang diam-diam “menghidupkan kembali” tulisan Jawi di media sosial.

Mereka bukan hanya berbicara bahasa Melayu. Mereka membuat font Jawi digital secara gratis, menaruhnya di status Instagram, caption TikTok, bahkan di desain poster acara komunitas. Ada yang membuat kamus digital Yawi, ada yang membuat konten nasyid dalam tulisan Jawi, dan ada yang secara sengaja menulis komentar dengan huruf Arab-Melayu meski teman-temannya lebih fasih menulis Thai.

Ini gerakan identitas kontemporer yang sangat kekinian.

Menurut penelitian dan laporan lapangan, banyak anak muda saat ini justru lebih fasih berbahasa Thai dalam percakapan sehari-hari. Bahasa Melayu mereka sudah tercampur, bahkan kadang sulit dipahami penutur Melayu standar di Malaysia atau Indonesia. Namun justru di ruang digital, mereka memilih menampilkan Jawi sebagai simbol. Font Jawi gratis yang dibuat oleh seniman lokal (salah satunya dikenal dengan nama Ding) diunduh secara luas dan muncul di Facebook page, spanduk, hingga akun bisnis kecil-kecilan (Kyoto Review of Southeast Asia, 2020).

Mengapa Jawi? Karena tulisan ini menjadi penanda yang paling sulit “diambil alih”. Bahasa bisa tercampur, pakaian bisa menyesuaikan, tapi huruf Jawi tetap terasa “milik kami”. Di sini kita melihat konsep identity boundary yang dikemukakan Fredrik Barth: identitas etnis tidak ditentukan oleh seberapa murni budaya itu, melainkan oleh batas-batas yang sengaja dijaga dan ditampilkan dalam interaksi sosial (Barth, 1969). Anak muda Deep South sedang memperkuat batas itu lewat layar ponsel.

Fenomena ini menarik karena terjadi bersamaan dengan dua arus yang berlawanan. Di satu sisi, penggunaan bahasa Melayu sehari-hari menurun. Di sisi lain, kebanggaan terhadap identitas Melayu-Islam justru meningkat di kalangan generasi Z, terutama melalui media sosial (Joll et al., 2020; Kirdnark, 2026). Mereka tidak menolak Thailand sepenuhnya. Mereka menolak dilupakan sebagai Melayu Muslim.

Ada juga aspek yang lebih lunak dan menyenangkan. Banyak anak muda menggunakan Jawi untuk konten yang ringan: quote Islami, meme, desain baju, bahkan undangan pernikahan digital. Ada klub bahasa Melayu di sekolah-sekolah Islam yang menyiarkan berita dalam bahasa Melayu lewat radio sekolah. Ada yang membuat konten anasyid dan puisi Melayu di YouTube. Mereka sedang membuktikan bahwa identitas bisa dijaga tanpa harus selalu dikaitkan dengan konflik.

Dalam perspektif teori identitas sosial, perilaku ini bisa dibaca sebagai strategi positive distinctiveness yakni cara kelompok minoritas memperkuat rasa berharga diri dengan menonjolkan perbedaan yang mereka miliki (Tajfel & Turner, 1979). Di Thailand Selatan, perbedaan itu diwujudkan dalam huruf yang hampir tak digunakan di wilayah lain di negara itu.

Yang paling menarik: gerakan ini tidak diorganisir oleh organisasi besar atau tokoh senior. Ia muncul dari bawah, dari anak muda yang merasa perlu punya ruang ekspresi di tengah tekanan asimilasi yang masih terasa. Media sosial memberi mereka ruang yang relatif aman untuk menampilkan identitas tanpa harus berhadapan langsung dengan struktur negara.

Jadi, sementara banyak orang luar hanya mengenal Thailand Selatan dari berita kekerasan, di balik layar ponsel anak mudanya sedang terjadi sesuatu yang jauh lebih diam tapi bermakna: mereka sedang menulis ulang identitas mereka, huruf demi huruf dengan Jawi.

Itulah fun fact Thailand Selatan yang jarang dibahas: di era digital, tulisan kuno justru menjadi senjata paling modern untuk bilang “kami masih di sini”.