Benarkan Pandemi Covid-19 Bisa Sebabkan Darah Tinggi atau Hipertensi?

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dari Putri Andiny tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Yang sudah kita ketahui, wabah virus SARS-CoV-2 atau yang dikenal dengan Corona Viruses Disease-2019 (COVID-19) saat ini telah menjadi sebuah pandemi dalam waktu hampir dua tahun di seluruh dunia dan telah menjadi permasalahan kesehatan secara global. Ratusan juta kasus positif hingga jutaan kematian akibat COVID-19 semakin mewarnai krisis kesehatan ini. Terlebih lagi, pada kondisi tertentu misalnya adanya kenaikan resiko akibat komorbiditas penyakit bawaan seperti hipertensi yang semakin membuat tingkat keparahan penyakit dan kerugian bagi pasien. Meski dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa hipertensi dapat memperburuk resiko pasien penderita COVID-19, namun faktanya masih banyak sekali kontroversi dan perdebatan dalam permasalahan ini.
Hipertensi merupakan salah satu permasalahan kardiovaskuler yang mengancam kesehatan dan dialami oleh banyak masyarakat dalam segala lapisan dan segala usia. Dengan kata lain, hipertensi tidak memiliki ciri khusus untuk penderita tertentu, tetapi juga tidak menutup kemungkinan untuk beberapa kategori orang yang memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita penyakit ini. Penyakit ini termasuk kedalam sebuah kelainan dengan kondisi tekanan darah yang melebihi batas normal. Dimana diagnosanya dapat dilakukan dalam pengukuran minimal dua hari yang berbeda, yaitu tekanan sistolik sebesar lebih dari atau sama dengan 140 mmHg dan atau tekanan diastolik lebih dari atau sama dengan 90 mmHg
Tahu nggak teman-teman? Di dunia ini ada sekitar 1.13 miliar orang menderita hipertensi. Dan dari jumlah tersebut penderitanya adalah 1 dari 4 laki-laki dan 1 dari 5 wanita di seluruh dunia. Sementara di Indonesia sendiri, data terbaru 2018 tercatat 63 juta orang menderita hipertensi dengan angka kematian akibat penyakit ini mencapai 427 ribu kematian. Bahkan pada 2025 nanti, angka kematian ini diprediksi akan terus meningkat hingga 10 juta kasus di seluruh dunia apabila penanganan dan pencegahan tidak dilakukan sejak awal
Tahu nggk teman-teman apa sih hubungan hipertensi dengan COVID-19?
Nah, Berkaitan dengan hubungan hipertensi dengan COVID-19, disamping adanya pendapat bahwa seseorang yang terkena hipertensi memiliki peluang lebih besar untuk terkena COVID-19, ternyata pendapat lain mengatakan bahwa dampak yang diberikan dan hubungan antara kedua jenis penyakit ini saling timbal balik. Dimana ada pendapat bahwa COVID-19 juga dapat menjadi penyebab hipertensi itu sendiri.
Efek lamanya pandemic yang menghasilkan kebijakan untuk masyarakat selalu berada dirumah kecuali jika ada urusan mendesak membuat orang harus membiasakan diri untuk melakukan aktivitasnya dari rumah. Hal ini seringkali mengakibatkan kecenderungan bosan bagi seseorang karena rutinitas yang sama yang terus dilakukannya setiap hari. Pasti kalian pernah merasakan bosen teman-teman.
Hasilnya, seseorang cenderung melampiaskan rasa bosannya melalui makanan.
Lalu, apa saja sih penyebab hipertensi? Salah satu penyebab hipertensi adalah pola hidup yang tidak sehat termasuk dari makanan (kualitas dan kuantitas) yang masuk ke tubuh manusia.
Selanjutnya, pandemic COVID-19 juga menyebabkan peningkatan produktivitas secara signifikan oleh masyarakat Indonesia. Secara sekilas hal ini merupakan hal yang positif dan berdampak baik. Namun nyatanya, peningkatan produktivitas ini justru menyebabkan sebuah kondisi yang sering dikenal sebagai hustle culture atau secara singkat dikenal sebagai budaya gila kerja. Hustle culture ini kemudian memberikan dampak secara tidak langsung pada budaya konsumsi kafein untuk membuat seseorang tetap terjaga dan meningkatkan produktivitasnya.
Tanpa sadar, kedua hal tersebut merupakan hal yang dapat memicu hipertensi. Secara lebih spesifik, hipertensi juga dapat disebabkan oleh berbagai hal misalnya riwayat keluarga, konsumsi tembakau dan alkohol yang berlebihan, pola hidup tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik dan olahraga. Selain itu terdapat beberapa kondisi yang dapat meningkatkan resiko penyakit ini. Seperti misalnya pada penderita diabetes, obesitas, orang dengan usia lanjut (diatas 65 tahun), dan sebagainya. Dimana pada kondisi-kondisi ini, resiko hipertensi meningkat berkali-kali lipat daripada kondisi normal.
Berbagai bentuk resiko yang disajikan di dalam hipertensi dengan COVID-19 ini maka pengendalian termasuk pencegahan dan penanganan akan penyakit ini diperlukan. Hal ini bertujuan untuk mencapai faktor kesehatan dalam masyarakat secara umum, dan juga pada diri sendiri secara khusus. Pada sebuah pengendalian suatu penyakit, yang harus dilakukan adalah pertama-tama dengan mengetahui faktor atau penyebab penyakit tersebut. Dan mengacu pada faktor penyebab hipertensi yang telah disebutkan dari bagian sebelumnya, maka kontrol atau pengendalian hipertensi merupakan sesuatu yang bersifat individual secara utama.
Namun selain itu juga teman-teman ada beberapa faktor dari hipertensi yaitu faktor individual tersebut, terdapat faktor lain seperti misalnya faktor lingkungan dan penentu sosial yang dapat memicu adanya penyakit ini bersamaan dengan genetic sebagai faktor individual. Faktor lingkungan dalam hal ini dinilai sebagai gaya hidup yang dipengaruhi oleh lingkungan penderita. Misalnya seperti gaya hidup tidak sehat, kebiasaan konsumsi sodium berlebihan, dan sebagainya. Kemudian faktor penentu sosial diantaranya adalah kemiskinan, pendidikan, pekerjaan, tekanan sosial dan sebagainya. Sehingga, pengendalian dalam penyakit hipertensi dinilai harus dapat mencakup faktor-faktor penentu tersebut pula. Terlebih ditengah kondisi pandemic ini, maka upaya pengendalian juga harus dilakukan secara ganda untuk mengatasi dan mencegah resiko hipertensi, sekaligus resiko tertular virus COVID-19.
Jadi teman-teman, yuk hindari dan turunkan risiko hipertensi, sekaligus resiko tertular virus COVID-19! Kita bisa menjauhi hipertensi dengan menjaga berat badan, berolahraga, tidak merokok, alkohol, dan memakan makanan dengan gizi seimbang.
