Konten dari Pengguna

In This Economy: Cari Kerja Bukan Cuma Tentang Cari Cuan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Ayu Apriyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi kalian yang sedang fight di fase pengangguran (seperti penulis ini, hiks!), pernah gak sih ngerasain kalau sekarang ini aktivitas mencari pekerjaan menjadi hal yang paling di notice banget. Bahkan ada kalanya sedang berada di jalan dalam momentum kumpulan orang-orang workaholic di saat-saat rush hours mereka, jadi kepengen cepat-cepat join juga sekaligus bikin mood naik untuk segera apply lamaran. Berharap bisa kerja, terus gajian deh. Happy shopping and holiday, yeay!

Jalanan kota yang sibuk dipenuhi mobil dan sepeda motor selama jam sibuk sore hari. Foto: https://www.pexels.com/id-id/foto/kemacetan-lalu-lintas-malam-hari-di-lanskap-kota-31842974/
zoom-in-whitePerbesar
Jalanan kota yang sibuk dipenuhi mobil dan sepeda motor selama jam sibuk sore hari. Foto: https://www.pexels.com/id-id/foto/kemacetan-lalu-lintas-malam-hari-di-lanskap-kota-31842974/

Tapi kesampingkan dulu deh happy shopping and holiday, baru dapat notif panggilan kerja saja setelah belasan, puluhan, bahkan ratusan lamaran, sudah syukur tak terhingga.

Notif yang pertama, panggilan interview untuk posisi resepsionis klinik via zoom. Dengan catatan: range gaji di bawah UMR, tapi lokasi dekat, 10 menit naik motor dari rumah dan sudah ada pengalaman 1 tahun di posisi ini sebelumnya di rumah sakit. Bayangin aja udah dengan rasa pede banget bisa diterima. Rampung zoom dengan durasi kurang lebih 30 menit dikalikan 4 sesi tatap maya. Tinggal menjalani tahap akhir yaitu psikotes, tapi tak ada kabar kelanjutan.

Notif kedua, dapat panggilan tes dan interview langsung di tempat dengan posisi yang dilamar adalah sebagai HRD di salah satu PT industri non-kawasan. Dengan catatan: range gaji di bawah UMR dan lokasi jauh dari rumah, tapi posisi worth it untuk upgrade karir lulusan sarjana. Rangkaian interview dan teman-temannya sudah diselesaikan dengan baik, tapi tak ada kabar lagi sampai sekarang.

Notif ketiga, dapat panggilan tes dan interview untuk posisi kasir di perusahaan kesehatan. Sudah lolos di tahapan tersebut, lalu tinggal mengikuti masa training selama 2 bulan di asrama. Setelah mendapat kabar selanjutnya, ternyata oh ternyata, tanpa tedeng aling-aling, dialihkan dong jadi posisi terapis. Jelas gak terima banget, karena posisi itu bukan passion penulis. Ditambah ada syarat titip ijazah. Gak habis pikir deh. Untuk syarat yang satu ini sudah benar-benar red flag sih bagi penulis. Jadi tidak dilanjutkan.

Notif kesekian yang paling membagongkan adalah dari perusahaan konveksi. Melamar sebagai leader tentu dapat menjadi anak tangga satu lebih tinggi dari posisi operator yang pernah penulis lewati. Dengan catatan: range gaji di bawah UMR, waktu kerja 6 hari yaitu 9 jam/hari dengan 1 jam waktu istirahat, serta lokasi jauh dari rumah, tapi posisi masih worth it lah untuk upgrade skill dan karir. Dengan interview tanpa perkenalan dan basa-basi gaji (fyi: yang menjadi patokan penulis hanya range gaji yang tertera saat apply kerja ini), cuma seputar masa training selama satu minggu. User menyampaikan bahwa besok akan dijelaskan rincian jobdesc. Hari pertama kok training ini berasa jadi operator ya, tapi tetap positive thinking. Mungkin biar tau dulu sikon lingkup kerjanya bagaimana. Loh tapi kok kerjaan seperti ini keterusan sampai mau selesai hari masa training. Gak ada job ke-leader-annya. Ternyata usut punya usut, di bagian kerja tersebut memang tak ada jabatan posisi leader. How about me? Fixs kena jebakan Batman. Akhirnya penulis memilih untuk selesaikan masa training saja.

Dari setiap kejadian di atas, in this economy, cari kerja bukan lagi tentang cari cuan. Tetapi mencari integritas menjadi hal utama. Integritas akan validitas posisi dan kualifikasi lowongan kerja serta adanya pemberitahuan informasi lolos tidaknya ke suatu tahapan seleksi kerja, kini ruangnya sudah semakin sempit. Banyak mungkin diantara kita yang sedang menantikan kabar baik mengenai pekerjaan. Bahkan mungkin sudah jenuh dan hilang harapan. Rasanya lowongan kerja yang ada hanya upaya perusahaan untuk mencapai tujuan tertentu tanpa benar-benar mencari kandidat yang kompeten atau bahkan memang sama sekali tidak ada kandidat yang dibutuhkan di sana. Kualifikasi lowongan kerja pun rasa diskriminasi. Seperti adanya pembatasan usia, tinggi dan berat badan maksimal sekian, tidak boleh mata minus dan berkacamata, good looking, fresh graduate tapi minimal pengalaman 1 hingga 3 tahun, dan lain sebagainya yang mana persyaratan tersebut bahkan tidak ada kaitannya sama sekali dengan pekerjaan yang dibutuhkan. Rasanya sekolah hanya semata-mata menjadi tempat menebus ijazah sebagai tiket untuk mengantre mencari pekerjaan. Bukan untuk menimba ilmu dan mengasah skill hingga menjadi orang yang berkompeten dan layak bersaing.

Di masa sekarang ini, konsepnya adalah cari uang untuk kerja bukan lagi kerja untuk cari uang. Uang dipakai untuk mendaftar atau member yayasan penyalur kerja, yang mana hal tersebut bukan alat penentu pasti lolos seleksi kerja. Jika sempit relasi, hanya uang lah yang dapat berbicara. Itu pun kalau beruntung menemukan calo kerja yang amanah. Bahkan di suatu daerah padat kawasan industri, pribumi menjadi golongan minoritas pekerja di tanahnya sendiri. Orang-orang yang gigih dan berkompeten akan semakin tergerus dengan para pencari citra.

Lapangan pekerjaan kian menipis seiring pertumbuhan ekonomi yang semakin menajam ke bawah. Ini menjadi salah satu alasan beberapa badan usaha, khususnya perusahaan swasta lokal menyiapkan anggaran upah pekerja mereka di bawah UMR. Dengan pertimbangan perbandingan biaya produksi tinggi terhadap jumlah permintaan ataupun harga pasar yang rendah. Berbanding jauh dengan perusahaan asing yang rata-rata memiliki saham kuat dan jaringan pasar luas, sehingga termasuk golongan perusahaan kategori bonafide dan fasilitas kerja sejahtera yang mumpuni. Oleh karenanya semakin tinggi pula persaingan untuk dapat bergabung di perusahaan tersebut, hingga ada saja oknum nakal yang mengambil peluang dengan mendompleng nama baik perusahaan tersebut.