Ekonomi Tumbuh 5 Persen, Lalu Apa yang Dirasakan Masyarakat?

Saya Mahasiswi Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Putri ayu Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia dilakukan, angka pertumbuhan umumnya menjadi fokus utama. Pertumbuhan yang mencapai sekitar 5 persen sering dianggap sebagai berita positif karena menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi tetap berlangsung. Namun, bagi orang-orang biasa, pertanyaan yang timbul mungkin lebih mudah: apa yang berbeda dalam rutinitas harian?
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 meningkat 5,29 persen dibandingkan dengan periode yang setara tahun lalu. Pada semester I 2026, ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 5,45 persen. Angka itu menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih terus tumbuh.
Pertumbuhan itu pastinya penting. Ekonomi yang berkembang mampu menghasilkan aktivitas produksi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, serta memperkuat kapasitas negara dalam mendanai pembangunan. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak seharusnya terhenti sebagai data statistik. Akhirnya, pertumbuhan harus diubah menjadi perubahan yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
Di sini pembangunan ekonomi menemui hambatan. Pertumbuhan ekonomi tidak selalu menunjukkan bahwa seluruh masyarakat mendapatkan manfaat dengan jumlah yang seragam. Sejumlah kelompok memiliki akses yang lebih luas terhadap pendidikan, teknologi, modal, kesempatan kerja, serta berbagai peluang ekonomi. Di sisi lain, terdapat kelompok masyarakat yang masih mengalami kendala untuk memperoleh kesempatan tersebut.
Data kemiskinan menunjukkan kemajuan yang baik sekaligus tugas yang masih perlu diselesaikan. BPS mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia pada Maret 2026 mencapai 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta jiwa. Persentase itu menurun jika dibandingkan dengan Maret 2025 yang mencapai 8,47 persen.
Penurunan kemiskinan tersebut harus diperhatikan sebagai aspek dari kemajuan pembangunan. Akan tetapi, angka itu juga mengingatkan bahwa masih ada jutaan orang yang hidup dalam kondisi di bawah garis kemiskinan nasional. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi harus selalu disertai dengan kebijakan yang dapat memperluas peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup.
Masalah lainnya adalah ketidak seimbangan. Pada Maret 2026, BPS melaporkan Gini Ratio Indonesia tercatat sebesar 0,368. Angka itu lebih rendah dibanding Maret 2025 yang mencapai 0,375, namun sedikit meningkat dibandingkan September 2025 yang berada di angka 0,363.
Data tersebut mengindikasikan bahwa analisis tentang pembangunan ekonomi tidak hanya dapat berfokus pada pertumbuhan ekonomi saja. Kita juga perlu memperhatikan bagaimana hasil pembangunan itu terdistribusi di kalangan masyarakat.
Menurut saya, memperbesar peluang ekonomi merupakan salah satu kunci untuk mengatasi persoalan itu. Pemerintah harus mendorong investasi dan infrastruktur, sekaligus memastikan masyarakat mampu berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi.
Pendidikan merupakan salah satu contohnya. Pembangunan ekonomi memerlukan tenaga kerja yang memiliki keahlian yang sesuai dengan perubahan di dunia kerja. Perkembangan teknologi juga meningkatkan permintaan akan keterampilan digital yang semakin besar. Apabila pendidikan dan keterampilan masyarakat tidak beradaptasi dengan perubahan ekonomi, pertumbuhan ekonomi dapat menghasilkan peluang yang lebih mudah dijangkau oleh kelompok tertentu.
Situasi yang serupa juga berlaku untuk pengusaha kecil. Bagi sejumlah orang, usaha kecil lebih dari sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga menjadi sumber pendapatan keluarga. Oleh karena itu, akses untuk pembiayaan, teknologi, pemasaran, pelatihan, dan pasar harus terus ditingkatkan agar pelaku usaha kecil tidak hanya dapat bertahan, tetapi juga memiliki peluang untuk tumbuh.
Pembangunan juga perlu memperhatikan perbedaan kondisi antarwilayah. BPS mencatat bahwa Pulau Jawa masih mendominasi struktur perekonomian Indonesia dengan kontribusi 56,47 persen pada triwulan II 2026. Pada periode tersebut, ekonomi Pulau Jawa tumbuh 5,65 persen secara tahunan.
Besar kontribusi Jawa tidak serta merta menunjukkan adanya masalah. Data tersebut menunjukkan betapa pentingnya pembangunan ekonomi yang memberikan lebih banyak kesempatan bagi daerah lain untuk tumbuh sesuai dengan potensi yang dimiliki. Setiap wilayah memiliki sumber daya, ciri-ciri, dan kesempatan ekonomi yang beragam. Pembangunan harus mendukung pengembangan potensi tersebut, bukan menjadikan kegiatan ekonomi hanya terfokus di wilayah tertentu.
Akhirnya, pertumbuhan ekonomi benar-benar memiliki peranan yang signifikan. Tanpa adanya pertumbuhan, pembangunan akan mengalami kendala. Akan tetapi, angka pertumbuhan bukanlah sasaran terakhir. Pertanyaan yang lebih krusial adalah apakah pertumbuhan itu menghasilkan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, memperluas akses terhadap pendidikan dan kesehatan, serta memberikan peluang yang lebih luas bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
Indonesia memerlukan tidak hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga perkembangan yang dapat mengaitkan pertumbuhan dengan kesejahteraan. Angka 5,29 persen jelas sangat penting untuk diperhatikan. Namun bagi masyarakat, indikator keberhasilan pembangunan bisa jadi jauh lebih mudah: apakah hidup mereka menjadi lebih baik?
Oleh sebab itu, tantangan untuk pembangunan Indonesia di masa depan tidak hanya sekadar mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Tantangannya adalah menjamin agar pertumbuhan tersebut menjadi peluang yang dapat dirasakan lebih banyak oleh masyarakat. Karena, ekonomi yang berkembang akan berarti lebih ketika pertumbuhannya juga menciptakan peluang untuk kehidupan yang lebih makmur.
