Konten dari Pengguna

Kita Sibuk Mengenal Orang Lain, Tapi Kapan Terakhir Kali Mengenal Diri Sendiri?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Ayu Nisrina - Mahasiswi Universitas Siber Asia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Orang yang Memegang Smartphone (Sumber: Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Orang yang Memegang Smartphone (Sumber: Unsplash)

Pernahkah kita berhenti sejenak untuk mengenal diri sendiri? Berapa jam hari ini kita habiskan untuk melihat kehidupan orang lain?

Mungkin kita membuka Instagram sesaat setelah bangun tidur. Lalu berpindah ke TikTok untuk melihat video yang sedang viral. Siangnya membaca Threads atau X, malamnya menonton YouTube sebelum tidur. Tanpa disadari, kita mengetahui banyak hal tentang kehidupan orang lain yang tidak dikenal. Kita tahu tempat makan favorit seorang kreator konten, rutinitas pagi seorang influencer, perjalanan karier seorang pengusaha muda, hingga kisah percintaan selebritas yang bahkan belum pernah kita temui.

Namun, di tengah derasnya arus informasi itu, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, "Aku sebenarnya siapa?"

Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tapi justru menjadi semakin sulit dijawab.

Kita mengetahui apa yang sedang tren, tapi belum tentu mengetahui apa yang benar-benar kita sukai. Kita mengenal kehidupan banyak orang, tapi belum tentu memahami diri sendiri.

Ironisnya, di era digital saat ini, algoritma media sosial mampu mengenali kebiasaan kita dengan sangat baik. TikTok mengetahui video yang kemungkinan besar akan kita tonton sampai selesai. Spotify mampu menebak lagu yang kita sukai. Netflix memahami jenis film yang akan membuat kita bertahan berjam-jam di depan layar. Semakin lama kita menggunakan teknologi, semakin banyak data tentang diri kita yang dipelajari oleh sistem.

Namun, muncul sebuah pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting, "Bagaimana jika algoritma justru mengenal kebiasaan kita lebih baik daripada kita mengenal diri sendiri?"

Di balik semua kemudahan yang ditawarkan teknologi, ada satu hal yang perlahan mulai terlupakan, yaitu meluangkan waktu untuk benar-benar mengenal diri sendiri. Dalam perspektif Estetika Humanisme, mengenal diri bukan sekadar proses menemukan jati diri, tetapi juga langkah awal untuk memahami makna menjadi manusia di tengah dunia yang terus berubah. Mungkin, sebelum sibuk mencari tahu kehidupan orang lain, kita perlu lebih dulu mengenal siapa diri kita sendiri.

Mungkin Dunia Terlalu Ramai untuk Mendengarkan Diri Sendiri

Kita hidup pada masa ketika informasi bergerak lebih cepat daripada sebelumnya. Hitungan detik, kita dapat mengetahui berita dari negara lain, melihat pencapaian teman sekolah, mengikuti kehidupan seorang publik figur, hingga menyaksikan tren yang sedang viral. Semua terasa begitu dekat.

Namun, kedekatan dengan dunia luar tidak selalu diiringi dengan kedekatan terhadap diri sendiri.

Banyak orang merasa harus selalu mengikuti perkembangan terbaru agar tidak tertinggal. Ada yang merasa harus mengikuti tren gaya hidup tertentu, mengejar standar produktivitas yang sama, atau membandingkan pencapaiannya dengan orang lain. Sedikit demi sedikit, perhatian kita bergeser. Kita lebih sibuk memperhatikan bagaimana orang lain menjalani hidup daripada memahami apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Menurut laporan dari DataReportal (2025) Indonesia memiliki 143 juta identitas pengguna sosial yang setara dengan 50,2% dari total populasi pada Januari 2025. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sudah banyak yang memiliki akun media sosial dan kehidupan digital telah menjadi bagian dari keseharian kita. Kondisi ini membawa banyak manfaat, mulai dari kemudahan belajar, bekerja, hingga membangun relasi. Namun, di saat bersamaan, waktu untuk mengenali diri sendiri mungkin menjadi semakin sempit.

Tanpa disadari, kita lebih sering bertanya, "Orang lain sedang melakukan apa?" daripada "Apa yang sebenarnya sedang aku rasakan?"

Mengenal Diri Sendiri Sebelum Menentukan Arah Hidup

Dalam kajian Personal Studies, mengenal diri merupakan fondasi untuk memahami kehidupan secara lebih utuh. Mengenal diri tidak hanya mengetahui apa hobi atau cita-cita kita, tetapi juga memahami nilai yang kita pegang, kekuatan yang kita miliki, keterbatasan yang perlu diterima, serta tujuan hidup yang benar-benar berasal dari diri sendiri.

Sayangnya, proses ini sering kali terabaikan. Kita sibuk mengejar sesuatu tanpa sempat bertanya mengapa kita mengejarnya. Kita ingin menjadi produktif, tapi lupa bertanya apa makna produktivitas bagi diri kita sendiri. Kita ingin sukses, tapi jarang mempertanyakan apakah definisi sukses yang kita kejar benar-benar lahir dari hati kita atau hanya hasil dari ekspektasi lingkungan.

Padahal, kehidupan yang bermakna tidak harus selalu ditentukan oleh seberapa cepat kita mencapai sesuatu. Melainkan oleh seberapa sadar kita memahami alasan di balik setiap langkah yang akan kita ambil.

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Banyaknya Tuntutan

Pemikiran Abraham Maslow dan Carl Rogers dalam Psikologi Humanistik memberikan sudut pandang yang menarik terhadap fenomena ini.

Maslow (sebagaimana dikutip dalam Rahmi, 2025) menjelaskan bahwa setiap individu memiliki dorongan untuk terus mewujudkan potensi dirinya. Sejalan dengan itu, Rogers (sebagaimana dikutip dalam Rahmi, 2025) menyatakan bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk bertumbuh dan mengembangkan seluruh potensinya.

Konsep tersebut terasa semakin relevan di era media sosial.

Saat ini, kita dengan mudah melihat pencapaian orang lain. Kita melihat wisuda, promosi jabatan, bisnis yang berkembang, liburan ke luar negeri, hingga kehidupan yang tampak sempurna di layar. Sehingga kita juga ingin meraih dan mewujudkan hal tersebut; tanpa disadari, kita mulai membandingkan perjalanan hidup kita dengan perjalanan hidup orang lain.

Padahal, setiap orang memiliki titik awal, tantangan, dan garis waktu yang berbeda. Membandingkan perjalanan hidup tanpa memahami konteksnya hanya akan membuat kita semakin jauh dari diri sendiri.

Kecerdasan yang Tidak Bisa Digantikan Algoritma

Kemajuan teknologi sering kali membuat kita berfokus pada kemampuan digital. Kita belajar menggunakan aplikasi baru, memanfaatkan kecerdasan buatan, hingga mengikuti perkembangan teknologi terkini.

Namun, masa depan tidak hanya membutuhkan literasi digital, tapi juga Human Literacy, yaitu kemampuan memahami manusia, baik diri sendiri maupun orang lain.

Human Literacy mengajarkan bahwa manusia tidak bisa dipahami hanya melalui data, angka, atau kebiasaan yang dibaca algoritma. Manusia memiliki emosi, pengalaman hidup, nilai, dan proses pertumbuhan yang unik.

Menurut saya, kemampuan mengenal diri merupakan bagian penting dari Human Literacy. Seseorang yang memahami dirinya akan lebih mampu mengambil keputusan sesuai nilai yang diyakininya, tidak sekadar mengikuti arus atau tekanan sosial.

Teknologi Seharusnya Membantu Manusia Bertumbuh

Konsep Society 5.0 yang dikenalkan oleh Jepang menempatkan manusia sebagai pusat perkembangan teknologi. Teknologi diciptakan bukan untuk menggantikan manusia, tapi membantu untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Namun, teknologi hanya akan benar-benar bermanfaat apabila manusia tetap menjadi subjek, bukan objek dari algoritma. Jika setiap keputusan kita ditentukan oleh apa yang sedang populer, direkomendasikan, atau diviralkan, maka kita berisiko kehilangan kemampuan yang paling mendasar sebagai manusia, yaitu mengenal diri sendiri.

Oleh karena itu, tantangan terbesar saat ini tidak hanya belajar menggunakan teknologi, tapi juga menjaga agar teknologi tidak mengambil alih proses refleksi yang seharusnya kita lakukan.

Refleksi

Saya menyadari bahwa mengenal diri bukanlah proses yang bisa selesai dalam satu malam.

Ada kalanya saya merasa begitu sibuk mengejar berbagai target hingga lupa bertanya apakah semua itu benar-benar saya inginkan. Ada saat ketika saya lebih banyak membandingkan diri dengan orang lain daripada mendengarkan kebutuhan diri sendiri.

Di media sosial, kita melihat pencapaian, tapi jarang melihat kegagalan. Kita melihat senyuman, tapi tidak selalu melihat perjuangan di baliknya. Sehingga, saya percaya bahwa mengenal diri tidak berarti memiliki semua jawaban. Mengenal diri berarti memiliki keberanian untuk terus bertanya, terus belajar, dan terus menerima bahwa kita tidak harus menjadi orang lain untuk memiliki kehidupan yang bermakna.

Penutup

Di tengah dunia yang semakin mudah terhubung, mengenal orang lain menjadi jauh lebih mudah. Namun, mengenal diri sendiri justru menjadi tantangan yang semakin besar.

Melalui perspektif Estetika Humanisme, saya belajar bahwa menjadi manusia tidak hanya mengikuti perkembangan zaman atau memanfaatkan teknologi sebaik mungkin, tapi juga harus memiliki kesadaran untuk memahami diri sendiri sebelum menentukan arah hidup.

Mungkin, tantangan terbesar generasi saat ini bukanlah kekurangan informasi, melainkan kurangnya waktu untuk benar-benar berkaca dan menyelam ke dalam diri sendiri.

Pada akhirnya, kita bisa mengenal ribuan orang sepanjang hidup. Namun, jika kita tidak pernah benar-benar mengenal diri sendiri, kita akan terus berjalan tanpa benar-benar tahu ke mana arah yang akan kita tuju.