Konten dari Pengguna

LOMBOK, NANTI AKU BALIK LAGI YA!

Putri Chairunnisa'

Putri Chairunnisa'

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Chairunnisa' tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

LOMBOK, NANTI AKU BALIK LAGI YA!
zoom-in-whitePerbesar

Liburan akhir tahun telah tiba! Karna aku anaknya gabisa diem di rumah aja, aku dan temenku pergi ke Lombok untuk berlibur. Gak kayak liburan ke Belitung yang cuman dipersiapkan dalam waktu 1 bulan, liburan kali ini kita udah merencanakannya sejak bulan Mei, lho! Banyak banget yang harus dipersiapkan karena kita liburannya ke 3 tempat sekaligus, yaitu Lombok, Bali dan Labuan Bajo.

Hal pertama yang harus kita persiapkan adalah tiket pesawat. Karena akhir tahun biasanya harga tiket pesawat lebih mahal daripada hari-hari lainnya karena high season, kita nyicil beli 4 tiket pesawat dalam kurun waktu kurang lebih 3 bulan. Jadi setiap gajian, kita langsung beli tiket pesawat hehe. Walaupun pesen tiket udah dari bulan Juni, harga tiket pesawat untuk bulan Desember udah melambung tinggi. Itu aja udah bikin stres banget. Belum lagi hotel, transportasi, makan, oleh-oleh, dan lain-lain.

Untungnya, aku dan temenku memilih aplikasi yang tepat untuk beli tiket pesawat, yaitu tiket.com. Setiap kita mau beli tiket pesawat, pasti pakai kode promo dari tiket.com, ya sesuai dengan tagline-nya sih “Pasti ada diskon hari ini”. Karena pakai kode promo dari tiket.com, kita jadi lebih hemat deh untuk biaya tiket pesawatnya. Untuk sewa mobil selama jalan-jalan di Lombok, kita pengen banget pakai tiket.com juga, sayangnya sewa mobil tiket.com belum tersedia di Lombo. Semoga saat aku balik lagi, udah bisa sewa mobil di tiket.com hehe.

Aku ngabisin waktu di Lombok selama 7 hari, karena banyak banget tempat yang harus dikunjungi hehe. Hari pertama sampai di Lombok, kita langsung bertolak ke Gili Trawangan dan nginep selama 2 malam di sana. Selama di Gili Trawangan kita snorkeling, foto-foto (wajib banget foto saat sunset di Hotel Ombak Sunset!), dan yang paling seru adalah keliling pulau naik sepeda! Udara di sana masih bersih banget karena transportasi di sana cuman sepeda, cidomo (seperti andong), dan motor listrik. Gak heran, langit di sana cerah banget saat diterpa matahari.

Setelah 2 malam menginap di Gili Trawangan, pagi harinya kita kembali ke Mataram dan lanjut jalan-jalan ke Pantai Senggigi, Bukit Malaka, Bukit Malimbu, Pura Batu Bolong, dan makan Ayam Taliwang. Semua lokasi wisata tersebut satu jalur yang dapat ditempuh dari Pelabuhan Bangsal (pelabuhan penyeberangan ke Gili Trawangan) ke Mataram. Pengen banget padahal sunset di Pantai Senggigi tapi cuaca yang tidak mendukung akhirnya gagal deh sunset di Senggigi.

Keesokan harinya, perjalanan kita berawal di Desa Sukarara di Lombok Tengah. Seneng banget bisa ngeliat langsung para wanita Lombok menenun kain dan kita dikasih kesempatan untuk belajar menenun. Di Lombok, wanita sudah mulai belajar menenun sejak umur 10 tahun dan enggak boleh nikah kalau belum bisa menenun. Selain belajar menenun, kita juga diperbolehkan memakai pakaian adat Lombok dan berfoto di rumah adat Lombok. Di sana juga menjual berbagai jenis kain tenun asli Lombok dan aksesoris yang terbuat dari kain tenun Lombok, mulai dari kain songket, kain baju, selimut, sajadah, selempang, ikat kepala, tali pinggang, tas, dompet, dan lain-lain. Harganya bervariasi sesuai ukuran, motif, dan ketebalan kain.

Setelah puas berbelanja di Desa Sukarara, kami bertolak ke Desa Sade, yaitu desa Suku Sasak Lombok yang juga berada di Lombok Tengah. Masuk ke Desa Sade disambut langsung oleh tour guide yang memang bertempat tinggal di Desa Sade. Beliau menjelaskan bagaimana adat di Desa Sade dan mengajak berkeliling desa sambil menjelaskan tentang rumah adat Desa Sade dan berkenalan dengan nenek tertua yang ada di Desa Sade. Sama seperti Desa Sukarara, Desa Sade juga banyak menjual kain Lombok dan aksesoris-aksesoris khas Lombok. Bedanya, di sini kita bisa tawar menawar hehe.

Selesai dari Desa Sade, kami ke Bukit Merese dan Pantai Tanjung Ann yang berlokasi di tempat yang sama. Bukit merese asli bagus banget! Saat berada di sana, aku berasa lagi di New Zealand karena seluruh perbukitan ditutupi rumput warna hijau dan langsung kelihatan Pantai Tanjung Ann yang jernih dari atas bukit. Setelah puas berfoto-foto di Bukit Merese, kami turun ke bawah dan menikmati indahnya Pantai Tanjung Ann.

Sore hari, kami bertolak ke Pantai Kuta Mandalika. Ceritanya, Pantai Kuta Mandalika ini sangat ramai di setiap bulan Februari karena adanya Festival Bau Nyale, yaitu ritual mencari cacing laut yang dipercaya sebagai jelmaan dari Putri Mandalika. Cacing tersebut berwarna-warni dan bisa ditemukan saat air laut sedang surut. Cacing ini bisa ditemukan selama bulan Februari dan masyarakat setempat bahkan mendirikan tenda selama festival ini berlangsung. Tradisi Bau Nyale ini dimulai dari legenda masyarakat Lombok tentang seorang putri yang sangat cantik dan disayangi oleh masyarakat, bernama Putri Mandalika, anak dari Raja Tonjang Beru. Kecantikannya tersohor hingga ke negeri seberang dan banyak pangeran yang memperebutkan hati Putri Mandalika. Setiap pangeran yang datang melamar Putri Mandalika, semuanya diterima oleh Putri Mandalika karena Ia tidak mau menyakiti hati siapapun. Lain halnya dengan para pangeran, mereka tidak bisa menerima kalau Putri Mandalika tidak memilih salah satu dari mereka untuk menjadi pendamping Putri Mandalika. Pertumpahan darah hampir terjadi saat Putri Mandalika dan pihak kerajaan memutuskan untuk mengadu kekuatan para pangeran di sebuah arena. Siapa yang menang di arena tersebut berhak mempersunting sang putri. Karena pertarungan ini Putri Mandalika bersedih dan menyendiri. Setalah menyendiri, akhirnya Ia memutuskan untuk mengorbankan jiwa dan raganya demi rakyat. Putri Mandalika mengundang semua pangeran dan seluruh rakyat Lombok ke Pantai Kuta di bulan Februari sebelum matahari terbit. Sang putri mengumumkan bahwa Ia memilih untuk mengorbankan dirinya untuk mengakhiri peperangan yang terjadi karena dirinya. Putri Mandalika pun terjun ke laut tidak lama setelah itu. Sang raja mengerahkan semua orang yang hadir untuk mencari Putri Mandalika, tapi mereka tidak menemukanya. Yang mereka temukan hanyalah nyale (cacing) yang berwarna-warni di pinggir pantai. Sejak saat itu, masyarakat Lombok meyakini bahwa Putri Mandalika telah menjelma menjadi cacing yang berwarna-warni dan merayakan Bau Nyale setiap bulan Februari untuk mengenang Putri Mandalika. Masyarakat Lombok beramai-ramai datang ke Pantai Kuta sebelum matahari terbit dan mengumpulkan cacing saat air laut surut. Cacing tersebut dimakan hidup-hidup dan dipercaya bisa mengabulkan keinginan kita, misalnya hal-hal yang berkaitan dengan panen, jodoh, dan lain-lain.

Hari kelima di Lombok kita berangkat ke Desa Banyumulek, tempat gerabah tanah liat yang juga merupakan salah satu oleh-oleh khas Lombok. Selain beli berbagai macam pernak-pernik yang terbuat dari tanah liat, kita juga dikasih kesempatan untuk membuat langsung pernak-pernik dari tanah liat dan dipandu langsung oleh ibu-ibu di sana yang udah jago banget bikin gerabah dari tanah liatnya. Gerabah hasil bikinan kita itu bisa dibawa pulang lho.

Setelah berkunjung ke Desa Banyumulek, kita akan snorkeling lagi! Snorkeling kali ini kita ke Gili Sudak, Nanggu dan Kedis. Penyeberangan ke tiga gili tersebut melalui Pelabuhan Tawun, di daerah Sekotong, Lombok Barat. Kita nyebrang ke gili-gili tersebut pakai boat kayu yang sudah tersedia di pelabuhan. Selama nyebrang, kita melewati banyak banget pondok-pondok kayu tempat penangkaran mutiara yang memang salah satu keunggulan Lombok. Spot snorkeling pertama ada di Gili Nanggu. Dua spot snorkeling di sini lebih bagus daripada spot snorkeling Gili Trawangan. Di sini ombaknya lebih tenang, ikannya lebih banyak dan bebas berenang sampai kapan karena pemandu snorkelingnya hanya untuk kita aja, enggak barengan kayak di Gili Trawangan. Setelah snorkeling di Gili Nanggu, kita lanjut ke Gili Sudak. Di sini ada restoran untuk makan siang. Tapi kita langsung ke Gili Kedis and I REALLY LOVE THIS GILI! Ternyata Gili Kedis kayak Pulau Pasir tapi dengan ukuran yang lebih besar. Walaupun udah sore hari, air laut di Gili Kedis masih jernih, masih kelihatan birunya dan enak banget deh buat nyantai-nyantai. Keliling gili ini kayaknya gak sampai 2 menit deh haha. Di Gili Kedis sebenernya ada spot snorkeling juga, tapi kita udah nyaman banget duduk nyantai-nyantai di gili kecil ini. Setelah puas nyantai di Gili Kedis, kita pulang ke hotel tapi sebelumnya nyobain nasi balap puyung yang enak tapi murah meriah.

Hari keenam di Lombok, kita ke Pantai Pink. Sebenernya pengen banget lewat jalan darat aja. Tapi karena akses jalan darat ke sana jelek banget, akhirnya kita ke Pantai Pink melalui Pelabuhan Tanjung Luar menggunakan boat. Sambil menuju Pantai Pink, kita singgah ke Pulau Pasir dan menemukan banyak bintang laut di sana. Sayangnya karena cuaca yang tidak mendukung, pasir di Pantai Pink enggak terlalu kelihatan pink, jadinya malah seperti pantai pada umumnya, padahal kalau dilihat dari dekat, pasir yang ada di Pantai Pink memang memiliki butiran-butiran berwarna pink yang merupakan karang merah muda yang telah mati. Pulang dari Pantai Pink kita makan Sate Rembiga yang enak banget. Pedesnya mantep lah!

Hari terakhir di Lombok dan sebelum berangkat ke bandara menuju Bali, kita terlebih dahulu ke Pantai Selong Belanak. Ternyata di sini tempat latihan surfing. Jadi menarik deh kalau balik ke Lombok belajar surfing di sini. Terakhir, kita ke Pantai Mawun dan bertolak ke bandara untuk melanjutkan perjalanan liburan ke Bali. Sampai jumpa Lombok! Kita ketemu lagi ya. nanti aku akan kembali di bulan-bulan cerah supaya liat lautnya lebih yahud!