Saat Algoritma Membuat Istirahat Terasa Salah
Tulisan dari Putri Dhea Marlina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jam 11 malam saya baru pulang kerja kelompok. Bukannya langsung bersih-bersih atau beristirahat, saya malah scroll TikTok lalu muncul video seseorang yang bercerita bahwa pukul 12 siang ia sudah mengikuti tiga meeting sekaligus. Setelah saya scroll lagi malah muncul seorang Bapak yang membuat konten a day in my life, menceritakan rutinitasnya berangkat kerja dari Cianjur ke Tebet sejak pukul empat pagi. Padahal, saya sedang tidak mencari konten tentang produktivitas.
Setelah menonton video-video itu, saya malah bertanya-tanya “Kok saya merasa kurang produktif ya?”. Mereka cuma membagikan kegiatan sehari-hari, tapi saya merasa perlu ikut produktif juga. Padahal saya sudah kuliah seharian dan mengerjakan banyak tugas yang rasanya tidak selesai-selesai. Lalu siapa yang memilihkan konten-konten itu untuk saya? Dan mengapa saya jadi merasa harus ikut produktif?
Banyak orang menganggap rasa kurang produktif datang dari kurangnya disiplin dan terlalu lama menggulir layar. Padahal, konten yang terus muncul di TikTok ditentukan oleh algoritma yang membaca setiap like, komentar, bahkan konten yang kita lewati sebagai tanda untuk menyajikan konten serupa. Kita memang masih bisa memilih, tapi pilihan itu bergerak di jalur yang sudah disiapkan oleh sistem, hingga lama kelamaan beristirahat terasa seperti menyia-nyiakan waktu.
Algoritma Tidak Tahu Alasan Kita Menonton
TikTok tentu tidak peduli kita sedang lelah atau tidak. Makin lama kita membuka aplikasinya, makin banyak juga iklan yang tayang dan dari situlah platform memperoleh uang. Karena itulah perhatian kita adalah barang dagangannya.
Berdasarkan laporan Digital 2026 yang diterbitkan We Are Social dan Meltwater, terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia, dengan rata-rata waktu pakai sekitar 22 jam per minggu, atau kurang lebih tiga jam per hari. Dengan waktu sebanyak itu, konten yang terus muncul di beranda berpotensi membentuk cara kita memandang kehidupan sehari-hari, termasuk menentukan apa yang kita anggap sebagai sesuatu yang normal.
Cara kerjanya sangat sederhana. Setiap tontonan, like, komentar, dan simpan dibaca algoritma sebagai tanda bahwa kita tertarik. Algoritma tidak tahu alasan kita menonton, ia hanya tahu bahwa kita bertahan untuk menonton. Saya tidak mencarinya, tetapi saya tetap menonton. Sebagai orang Cianjur, saya penasaran seperti apa perjalanan yang Bapak itu lalui setiap hari. Rasa penasaran yang wajar itu ternyata cukup bagi algoritma untuk menyimpulkan bahwa saya ingin melihat lebih banyak konten. Setelah itu, konten-konten serupa terus berdatangan.
Taina Bucher dalam If…Then (2018) menyebut algoritma sebagai kekuatan yang menentukan apa yang tampak dan tidak. Dalam artikelnya tentang algorithmic imaginary (2016), ia menulis bahwa perasaan pengguna terhadap algoritma memengaruhi perilaku mereka. Dari pengalaman saya, ketika konten serupa muncul berulang kali, beranda seakan memperlihatkan kehidupan ideal seperti bangun pagi, bekerja tanpa henti, dan selalu punya sesuatu untuk dikejar. Padahal itu hanya potongan hidup yang mereka tampilkan di media sosial, bukan keseluruhan cerita tentang bagaimana mereka menjalani hidup.
Kendali yang Ikut Dibaca Algoritma
Di sinilah algoritma dan audience agency saling memperkuat. Audience agency adalah kemampuan audiens untuk memilih, menafsirkan, bahkan menolak apa yang disajikan media. Di TikTok, kemampuan ini terlihat dari tindakan-tindakan kecil seperti menonton video sampai akhir, memberi like atau bahkan menggeser ke video berikutnya. Saat melakukan hal-hal tersebut, saya merasa semuanya terasa seperti pilihan saya sendiri. Namun bagi algoritma, semua itu adalah sinyal untuk menyajikan konten yang serupa. Kendali kita sebagai audiens memang ada, tapi justru ikut menguatkan arahan algoritma. Akibatnya, beranda saya dipenuhi orang-orang yang sibuk, dan lama kelamaan saya mengira bahwa hidup yang normal adalah hidup yang selalu sibuk, bukan hidup yang sesekali diisi dengan bersantai.
Ini bukan hanya soal perasaan karena dorongan untuk ikut sibuk tidak berhenti di layar. Dorongan itu bisa menjadi alasan untuk mengurangi waktu istirahat dan terus bekerja tanpa henti, dan hal itu punya harga bagi tubuh. Studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Buruh Internasional (ILO) dalam jurnal Environment Internasional (2021), menemukan bahwa bekerja 55 jam atau lebih per minggu berkaitan dengan risiko stroke dan penyakit jantung yang lebih tinggi dibandingkan kerja 35 sampai 40 jam per minggu. Tentu, satu video tidak otomatis membuat orang terpengaruh. Tapi ketika beranda terus menampilkan kesibukan sebagai standar, istirahat terasa seperti kesalahan yang tidak pantas kita lakukan. Dari situ, bekerja tanpa jeda pelan-pelan tampak wajar, bahkan membanggakan.
Rebahan Juga Bagian dari Hidup
Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa para pembuat konten itu hanya membagikan aktivitas sehari-hari mereka. Pendapat itu memang benar. Bapak yang berangkat dari Cianjur ke Tebet pukul empat pagi mungkin tidak sedang memamerkan apa-apa, ia hanya menjalani hidupnya. Banyak juga orang yang bekerja keras karena memang harus, bukan demi tampil di depan kamera. Saya sendiri mengenal teman yang mempunyai lebih dari satu pekerjaan dengan jam yang padat, ia melakukannya bukan karena terpengaruh oleh konten, tapi karena ia merupakan tulang punggung keluarga. Bagi orang seperti itu, lelah bukan pilihan gaya hidup melainkan keadaan. Persoalannya bukan terletak pada orang yang membagikan konten, melainkan pada sistem yang terus menyodorkan potongan hidup yang mirip secara berulang, sampai hal itu terasa seperti sebuah standar yang harus diikuti.
Jam sebelas malam seharusnya jadi waktu untuk beristirahat, bukan untuk menghitung seberapa jauh kita tertinggal. Kita memang tidak dapat mengubah cara kerja algoritma sendirian. Tapi kita bisa mulai menyadarinya dengan memahami bahwa beranda adalah hasil penyeleksian, bukan cerminan hidup semua orang. Kita juga bisa memilih “tidak tertarik” pada konten yang membuat kita cemas, sementara platform perlu lebih transparan tentang cara kerja sistem rekomendasinya. Malam itu, saat video produktivitas berikutnya lewat, coba berhenti sebentar dan tanyakan “ini hidup siapa yang sedang saya bandingkan dengan hidup saya?” Sebab, hidup yang normal tidak harus selalu sibuk. Terkadang, hanya rebahan setelah hari yang panjang saja sudah cukup.

