Konten dari Pengguna

Bandung, Kala Itu

Putri Fatimah

Putri Fatimah

Mahasiswa Jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta.

·waktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Fatimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potret Kota Bandung (Sumber: Imago/alimdi)
zoom-in-whitePerbesar
Potret Kota Bandung (Sumber: Imago/alimdi)

Bandung, kala itu. 

Tuhan menciptakan manusia secara berpasangan

takdir berkata saat itu kau dan aku bersama

Bandung sebagai saksinya kau menyetujuinya 

sederhana, namun begitu indah 

aku terkesima, hingga lupa waktu terus berjalan 

pula takdir membalikkan hatimu. 

Dan bandung kala itu aku jatuh cinta padamu. -P

Tulis anak SMA itu di buku hariannya sambil memutar lagu Dan Bandung-Danilla, ia adalah aku yang kini merupakan seorang Mahasiswa Jurnalistik di salah satu Politeknik Negeri.

"Masa SMA adalah masa-masa paling indah" Aku tidak begitu setuju, indah namun bukan ‘paling indah’. Dari apa yang aku alami, masa SMA lebih tepat dilabeli dengan masa perjuangan dan pendewasaan diri. Berjuang untuk mencapai mimpi-mimpi yang terkadang ada saja hal yang dapat menghambat mimpi-mimpi tersebut. Seperti sepercik pikiran membelenggu di kepala seorang remaja yang baru tumbuh.

Pikiran yang dibaluti dengan emosi dan rasa yang tak karuan. Rasa yang dulu tumbuh indah bak bunga yang yang baru saja mekar sampai di mana rasa itu layu dan membusuk bak bunga tak pernah dirawat. 

Dari awal aku enggan mempersilakan siapa pun masuk dan datang mengetuk pintu hatiku yang tertutup. Tidak ada seorang pun yang berani pula bertamu. Sampai ketika dia sesosok lelaki bernyali yang nyelonong begitu saja tanpa permisi. 

Lelaki itu membukanya dengan obrolan singkat yang menggelitik dan selera musik yang sama denganku. Jelas tak heran jika aku terjerat rasa yang tak karuan ketika lelaki itu mendekat dengan cekatan. Lalu aku dan lelaki itu menjalin sebuah ikatan perasaan tanpa status. “Kita saling jaga aja satu sama lain, status itu ga terlalu penting” ketiknya.

Ikatan itu berlangsung singkat, tetapi bukan berarti tak rekat. Salah satu yang melekat ialah ketika kami melaksanakan study tour di Bandung. Kota itu berhasil melengkapi ceritaku yang sudah menjadi kenangan. 

Kendati hatiku yang diinjak-injak setelahnya, aku tak pernah menyesal bertemu dan menjalin kasih dengan dia yang dulu sempat menjadi teman dekat sekaligus musuhku di SMA. 

Darinya aku belajar perihal mengikhlaskan dan lebih menghargai perbedaan pendapat. Selain itu, aku belajar menutup buku yang sudah  sampai bab akhir dengan bertemu langsung, lalu berbicara. Bukan yang hilang lalu meninggalkan beribu pertanyaan yang masih tersimpan di kepala.