Konten dari Pengguna

Sistem Informasi Canggih tapi Mubazir: Di Mana Kesalahan Pengembangannya?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Fennisya Mamonto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ditulis Feby Yanti, Nisa Aulia Azzahra, Putri Fennisya Mamonto

Caption Foto:  Investasi teknologi yang berakhir mubazir karena sistem dirancang terlalu rumit dan tidak menjawab kebutuhan nyata pengguna di lapangan. Sumber: Chat GPT.
zoom-in-whitePerbesar
Caption Foto: Investasi teknologi yang berakhir mubazir karena sistem dirancang terlalu rumit dan tidak menjawab kebutuhan nyata pengguna di lapangan. Sumber: Chat GPT.

Perkembangan teknologi digital telah mendorong berbagai organisasi, perusahaan, lembaga pendidikan, dan instansi pemerintah untuk menggunakan sistem informasi dalam menjalankan aktivitasnya. Sistem informasi dirancang untuk membantu pengolahan data, mempercepat pekerjaan, meningkatkan ketepatan informasi, serta mendukung pengambilan keputusan. Namun, muncul persoalan yang patut diperhatikan. apakah sistem informasi yang semakin canggih selalu mampu memenuhi kebutuhan penggunanya? Kami berpendapat, kecanggihan teknologi tidak selalu menjamin keberhasilan sebuah sistem. Sistem yang memiliki banyak fitur dan tampilan yang modern tetap dapat menjadi tidak efektif apabila fungsi yang disediakan tidak sesuai dengan masalah yang ingin diselesaikan.

Banjir Informasi di Tengah 235 Juta Pengguna Internet

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dirilis ANTARA News, dalam Survei Profil Internet Indonesia 2026 mencatat 235,26 juta jiwa sekitar 80,66 persen dari total populasi. Banyaknya informasi yang tersedia dilayar digital juga dapat menimbulkan masalah, ketika seseorang kesulitan menentukan informasi mana yang benar-benar dibutuhkan. Jika dilihat dari kelompok umur, pengguna internet paling banyak berasal dari Gen Z 89,02 persen dan Milenial 90,34 persen, menurut Survei Internet APJII 2026. Angka ini menjadi bukti kalau generasi muda sangat mendominasi dunia digital saat ini.

Namun, tingginya aktivitas digital ini memicu masalah baru, yaitu banjir informasi. Hal ini menjadi tantangan besar bagi Sistem Informasi Manajemen. Sebab, fungsi utama sistem ini sebenarnya bukan cuma membagikan informasi sebanyak-banyaknya. Yang paling penting adalah bagaimana sistem bisa menyajikan informasi yang pas, penting, akurat, dan cepat saat dibutuhkan. Itulah mengapa pembuatan sistem informasi harus benar-benar memperhatikan cara mengumpulkan, mengolah, menyimpan, sampai menampilkan data kepada penggunanya.

Kunci yang Sering Dilupakan Yaitu Libatkan Pengguna

Selain itu, pengguna seharusnya dilibatkan dalam proses pengembangan sistem informasi. Pengembang dapat melakukan wawancara, mengadakan uji coba, dan meminta masukan sebelum sistem diterapkan secara luas. Proses pengujian juga penting untuk menemukan kesalahan, sedangkan pemeliharaan diperlukan agar sistem tetap berfungsi dengan baik. Tanpa proses tersebut, sistem berisiko tidak berjalan sesuai harapan meskipun telah menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk pembuatannya.

Solusi Bukan Hanya Teknologi Baru, Tapi Perencanaan yang Matang

Solusi dari persoalan tersebut bukanlah sekadar menggunakan teknologi yang lebih baru, atau menerima banyaknya informasi melainkan memperbaiki cara sistem informasi direncanakan, dikembangkan, dan di evaluasi. Menetapkan tujuan yang jelas, menyusun kebutuhan pengguna secara terperinci, melibatkan pihak terkait, memilih metode pengembangan yang sesuai, serta menyediakan pelatihan bagi pengguna. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk mempermudah pekerjaan, bukan justru menambah kesulitan. Dengan demikian, sistem informasi yang berkualitas adalah sistem yang memberikan manfaat nyata bagi penggunanya.