Jangan Tunggu Karyawan Resign: Ini Cara Perencanaan SDM Sebelum Terlambat

saya mahasiswi jurusan manajemen sumber daya manusia (MSDM) di Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari putri fildzah nurina salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah ga si kalian membayangkan apa yang terjadi kalau seorang karyawan yang memegang posisi penting tiba-tiba mengundurkan diri? Pekerjaan yang biasanya berjalan lancar bisa ikut terhambat karena perusahaan harus mencari pengganti dalam waktu singkat. Belum lagi kalau belum ada karyawan lain yang siap mengambil alih tugas tersebut. Akhirnya, perusahaan harus bekerja ekstra agar operasional tetap berjalan.
Situasi seperti ini sebenarnya bisa diantisipasi sejak awal. Sayangnya, perusahaan terkadang baru menyadari pentingnya menyiapkan tenaga kerja ketika masalah sudah terjadi. Padahal, kalau kebutuhan karyawan sudah dipikirkan dari jauh-jauh hari, perusahaan bisa lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan.
Sebagai mahasiswa Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), saya melihat bahwa perencanaan SDM bukan sekadar menghitung berapa banyak karyawan yang dibutuhkan. Lebih dari itu, perusahaan juga perlu memikirkan siapa yang akan mengisi posisi tertentu, keterampilan apa yang dibutuhkan, dan bagaimana menyiapkan karyawan untuk menghadapi kebutuhan di masa depan.
Sebenarnya, Apa si Perencanaan SDM?
Kalau dijelaskan secara sederhana, perencanaan SDM adalah proses memperkirakan kebutuhan tenaga kerja perusahaan, baik dari segi jumlah maupun kemampuan yang dibutuhkan. Dengan begitu, perusahaan bisa menentukan langkah yang tepat, misalnya merekrut karyawan baru, memberikan pelatihan, atau mempersiapkan karyawan yang sudah ada untuk menempati posisi yang lebih tinggi.
Perencanaan ini penting karena perusahaan tidak bisa selalu mengandalkan kondisi yang ada saat ini. Karyawan bisa mengundurkan diri, memasuki masa pensiun, atau mendapatkan kesempatan kerja di tempat lain. Di sisi lain, perusahaan mungkin juga ingin membuka cabang baru atau mengembangkan bisnisnya.
Artinya, kebutuhan tenaga kerja bisa berubah kapan saja. Karena itu, perusahaan perlu punya gambaran tentang kebutuhan SDM di masa depan, bukan hanya fokus pada masalah yang sedang dihadapi.
Kenapa Perencanaan SDM Tidak Boleh Diabaikan?
Coba bayangkan sebuah perusahaan yang kehilangan karyawan di posisi penting, tetapi belum memiliki calon pengganti. Perusahaan tentu harus segera mencari orang baru. Proses ini membutuhkan waktu, biaya, dan penyesuaian agar karyawan yang direkrut bisa memahami pekerjaannya. Berbeda halnya jika perusahaan sudah menyiapkan calon pengganti sejak awal. Ketika ada karyawan yang resign, perusahaan tidak harus memulai semuanya dari nol.
Selain mengurangi risiko kekosongan posisi, perencanaan SDM juga bisa membantu perusahaan menghemat biaya rekrutmen. Proses perekrutan yang dilakukan secara terburu-buru berisiko membuat perusahaan salah memilih kandidat. Dengan persiapan yang lebih matang, perusahaan punya waktu untuk mencari orang yang sesuai dengan kebutuhan.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah mempertahankan karyawan. Perusahaan yang memberikan kesempatan belajar, pelatihan, dan pengembangan karier bisa membuat karyawan merasa memiliki peluang untuk berkembang. Memang, hal tersebut tidak menjamin semua karyawan akan bertahan, tetapi setidaknya perusahaan berusaha menciptakan lingkungan kerja yang mendukung mereka.
Perencanaan SDM juga berkaitan dengan tujuan bisnis. Misalnya, perusahaan berencana membuka cabang baru tahun depan. Kalau kebutuhan tenaga kerja sudah dihitung sejak sekarang, perusahaan bisa mulai menyiapkan karyawan, menentukan posisi yang perlu diisi, dan melakukan rekrutmen sesuai kebutuhan.
Lalu, Bagaimana Perusahaan Bisa Memulainya?
Perusahaan tidak harus langsung membuat perencanaan yang rumit. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah melihat kondisi tenaga kerja saat ini. Perusahaan perlu mengetahui jumlah karyawan, posisi yang tersedia, serta pekerjaan yang membutuhkan keterampilan khusus.
Setelah itu, perusahaan bisa membandingkan kemampuan karyawan yang ada dengan kebutuhan di masa depan. Kalau ternyata masih ada keterampilan yang kurang, perusahaan dapat memberikan pelatihan atau kesempatan pengembangan agar karyawan lebih siap menjalankan tugasnya.
Perusahaan juga perlu mulai memikirkan siapa yang bisa menggantikan karyawan di posisi penting. Hal ini dikenal sebagai succession planning atau perencanaan suksesi. Tujuannya bukan sekadar mencari pengganti, tetapi mempersiapkan karyawan agar mampu menjalankan tanggung jawab yang lebih besar ketika dibutuhkan.
Selain itu, perusahaan perlu menentukan kapan harus merekrut karyawan baru dan kapan kebutuhan tenaga kerja bisa dipenuhi melalui pengembangan karyawan yang sudah ada. Semua rencana tersebut juga perlu dievaluasi secara berkala karena kondisi bisnis dan kebutuhan tenaga kerja bisa berubah.
Bagi saya, hal yang paling penting bukan seberapa rumit perencanaannya, melainkan apakah perusahaan benar-benar mempersiapkan diri sebelum masalah muncul.
Tantangan yang Sering Dihadapi
Tentu saja, perencanaan SDM tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada perusahaan yang kesulitan mempertahankan karyawan, ada juga yang belum memiliki karyawan dengan keterampilan sesuai kebutuhan. Perubahan teknologi dan kondisi bisnis yang sulit diprediksi juga bisa membuat perencanaan harus disesuaikan kembali. Namun, tantangan tersebut bukan alasan untuk mengabaikan perencanaan SDM. Justru, perusahaan perlu lebih terbuka terhadap perubahan dan melakukan evaluasi secara rutin.
Perusahaan bisa memulainya dari hal sederhana, seperti mencatat posisi yang paling berpengaruh terhadap operasional, mengidentifikasi karyawan yang berpotensi dikembangkan, dan menyiapkan alternatif jika suatu posisi tiba-tiba kosong. Memang, tidak semua kemungkinan bisa diprediksi. Akan tetapi, memiliki persiapan tentu lebih baik daripada harus mengambil keputusan secara terburu-buru ketika masalah sudah terjadi.
Jangan Menunggu Masalah Datang
Pada akhirnya, perencanaan SDM bukan hanya tanggung jawab bagian HR, tetapi juga bagian penting dari kesiapan perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Karyawan merupakan bagian yang menjalankan berbagai aktivitas perusahaan, sehingga kebutuhan dan pengembangannya perlu diperhatikan sejak awal. Perusahaan tidak bisa mencegah semua karyawan untuk resign. Namun, perusahaan bisa mengurangi dampaknya dengan menyiapkan tenaga kerja, mengembangkan keterampilan, dan memastikan ada rencana untuk mengisi posisi penting.
Jadi, daripada menunggu karyawan mengundurkan diri baru mulai mencari pengganti, bukankah lebih baik perusahaan mempersiapkannya dari sekarang? Sebab, perencanaan SDM bukan sekadar langkah untuk menghadapi masalah, tetapi juga cara agar perusahaan lebih siap menghadapi masa depan.
