Valerian and the City of a Thousand Planets: Di Antara Bintang dan Empati

English Literature student at Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Putri Indriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“We’re not the conquerors of the universe. We’re its caretakers.”
— Commander Filitt

Valerian and the City of a Thousand Planets (2017) adalah salah satu film fiksi ilmiah yang paling berani secara visual dan konsep, meskipun sering kali disalahpahami atau diremehkan. Film ini bukan sekadar petualangan luar angkasa penuh aksi, tetapi sebuah perayaan imajinasi, keberagaman, dan empati yang dibungkus dalam dunia futuristik yang sangat kaya.
Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada pembangunan dunianya. Kota Alpha digambarkan sebagai ruang kosmik tempat ribuan spesies dari berbagai planet hidup berdampingan. Bagi saya, Alpha adalah metafora yang jelas tentang dunia modern: penuh perbedaan, kompleks, dan rapuh. Film ini tidak hanya menampilkan keberagaman sebagai latar visual, tetapi sebagai inti konflik cerita—bahwa keserakahan dan kesalahan manusia bisa mengancam keharmonisan banyak makhluk lain.
Kisah bangsa Pearls adalah bagian paling emosional dalam film ini. Mereka digambarkan sebagai ras yang damai, indah, dan hidup selaras dengan alam. Kehancuran planet mereka akibat kesalahan manusia menjadi kritik halus terhadap kolonialisme, eksploitasi sumber daya, dan ketidakpedulian terhadap dampak teknologi. Menurut saya, bagian ini memberi kedalaman moral yang sering diabaikan oleh penonton yang hanya fokus pada aksi dan efek visual.
Karakter Laureline juga layak mendapat apresiasi. Ia bukan sekadar pasangan Valerian, tetapi sosok yang rasional, empatik, dan sering kali menjadi kompas moral cerita. Dalam banyak situasi, justru Laureline yang mempertanyakan keputusan militer dan mendorong Valerian untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih manusiawi. Dinamika mereka menunjukkan bahwa kepahlawanan tidak selalu berarti kekuatan fisik, tetapi keberanian untuk mempertanyakan otoritas dan membela yang benar.
Secara visual, Valerian adalah pengalaman sinematik yang luar biasa. Warna-warna cerah, desain makhluk asing yang kreatif, serta teknologi futuristik yang detail menjadikan film ini seperti komik hidup. Luc Besson dengan jelas mencurahkan imajinasinya sepenuhnya, dan hasilnya adalah dunia yang terasa hidup, aneh, dan memukau. Bagi saya, inilah kekuatan utama film ini—ia berani berbeda dan tidak takut terlihat berlebihan.
Memang, film ini tidak sempurna. Namun, menurut saya, Valerian and the City of a Thousand Planets layak diapresiasi sebagai film yang mencoba menyampaikan pesan kemanusiaan melalui fiksi ilmiah. Film ini mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tanpa empati hanya akan membawa kehancuran, dan bahwa keadilan harus diperjuangkan bahkan ketika kebenaran disembunyikan oleh kekuasaan.
Pada akhirnya, Valerian bukan hanya kisah petualangan luar angkasa, tetapi cerita tentang tanggung jawab, empati, dan keberanian untuk membela mereka yang suaranya tidak didengar. Sebuah film yang mungkin tidak sempurna, tetapi penuh imajinasi dan pesan yang relevan dengan dunia kita hari ini.
