Konten dari Pengguna

Bisakah Suara Kita Tumbuh?

Putri Intan Wahyuni

Putri Intan Wahyuni

Mahasiswi, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Intan Wahyuni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Ternyata kita, toh, manusia!" "Dengan keyakinan: engkau harus hancur!"

Apa 1 kata yang terpintas saat membaca penggalan puisi tersebut? Penindasan? Aktivisme? Kiranya mengapa penggalan puisi itu tercipta? 1 hal logis mungkin karena penyairnya menulis di tengah dunia yang menekan, di saat setiap suara yang ingin keluar bisa terhenti sebelum sempat terdengar.

Sumber: Pexels, oleh Markus Spiske.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pexels, oleh Markus Spiske.

Ya, di sinilah puisi mereka lahir, masa Orde Baru, yang dimulai tahun 1966 dan berlangsung hingga 1998, kebebasan berpendapat sangat dibatasi. Rendra menulis “Aku Tulis Pamflet Ini” pada 1978, di tengah represi awal, sedangkan Thukul menulis “Bunga dan Tembok” (1987–1988), saat penindasan terasa merata. Kata-kata mereka menghidupkan pengalaman rakyat yang tertahan, memberi suara bagi yang diam. Baris demi baris mereka seperti menepuk bahu pembaca.

Sudahkah terasa?

Kalau belum, mari kita baca puisi mereka terlebih dahulu bersama:

Aku Tulis Pamflet Ini – W.S. Rendra Aku tulis pamplet ini karena lembaga pendapat umum ditutupi jaring labah-labah Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk dan ungkapan diri ditekan menjadi peng-iya-an. Apa yang terpegang hari ini bisa luput besok pagi. Ketidakpastian merajalela. Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki, menjadi mara-bahaya, menjadi isi kebon binatang. Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi, maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam. Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan. Tidak mengandung perdebatan. Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan. Aku tulis pamplet ini karena pamplet bukan tabu bagi penyair. Aku inginkan merpati pos. Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku. Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian. Aku tidak melihat alasan kenapa harus diam tertekan dan termangu. Aku ingin secara wajar bertukar kabar. Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju. Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran? Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan. Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka. Matahari menyinari air mata yang berderai menjadi api. Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah Yang teronggok bagai sampah. Kegamangan. Kecurigaan. Ketakutan. Kelesuan. Aku tulis pamplet ini Karena kawan dan lawan adalah saudara. Di dalam alam masih ada cahaya. Matahari tenggelam diganti rembulan. Lalu besok pagi pasti terbit kembali. Dan di dalam air lumpur kehidupan, aku melihat bagai terkaca: Ternyata kita, toh, manusia!

Pejambon, Jakarta, 27 April 1978

Bunga dan Tembok – Wiji Thukul Seumpama bunga kami adalah bunga yang tak kau kehendaki tumbuh engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah Seumpama bunga kami adalah bunga yang tak kau kehendaki adanya engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi Seumpama bunga kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri Jika kami bunga engkau adalah tembok tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji Suatu saat kami akan tumbuh bersama Dengan keyakinan: engkau harus hancur! Dalam keyakinan kami di mana pun – tirani harus tumbang!

Solo, 1987-1988

Reader-Responses Dalam "Aku Tulis Pamflet Ini" Rendra menghadirkan suasana yang pengap sejak awal: “lembaga pendapat umum ditutupi jaring labah-labah”. Kata-kata itu membentuk gambaran tentang pendapat yang tersangkut, tak bergerak, tak sampai. Orang-orang “bicara dalam kasak-kusuk”, ungkapan diri berubah menjadi peng-iya-an. Ruang bertanya mengecil, ruang debat menghilang. Keinginan Rendra terasa sederhana: mengirim kabar. Ia menyebut merpati pos, bendera semaphore, isyarat asap. Semua tentang pesan yang bergerak dari satu manusia ke manusia lain. Saat membaca bagian ini, pembaca mudah merasa dekat. Banyak dari kita pernah menahan pendapat. Pernah memilih diam karena situasi terasa tak aman. Puisi ini bekerja lewat kegelisahan. Ia mengajak pembaca membangun kesadaran pelan-pelan.

Wiji Thukul menghadirkan suara yang berbeda. Dalam Bunga dan Tembok, ia memakai diksi yang sangat dekat dengan keseharian: bunga, tanah, jalan raya, pagar besi. “Kami adalah bunga yang tak kau kehendaki tumbuh.” Kalimat itu terasa langsung. Banyak pembaca bisa menemukan dirinya di sana. Merasa kecil, tersisih, disingkirkan dari ruang hidup sendiri. Bunga-bunga itu dirontokkan, ditekan, dipinggirkan. Namun di tubuh tembok, biji-biji tetap disebar. Saat Wiji Thukul menulis “Suatu saat kami akan tumbuh bersama”, pembaca merasakan dorongan yang kuat. Harapan itu terasa menular. Ada keyakinan bahwa tumbuh adalah bentuk keberanian. Bertahan menjadi sikap. Yah, membaca “Aku Tulis Pamflet Ini” dan “Bunga dan Tembok” itu seperti ikut bernapas dalam sejarah yang menekan, merasakan ketakutan, dan kemudian ikut menyalakan api harapan. Puisi memberi kita ruang untuk bertanya dan merasakan. Seolah masuk ke pengalaman yang berbeda, lalu bertemu pada satu titik: bersuara.

Jadi,

"Bisakah Suara Kita Tumbuh?"

Lewat kedua puisi itu memanggil pembaca untuk bertanya pada diri sendiri, Apakah aku berani bersuara? Apakah aku menumbuhkan hal yang benar meski dunia menolak? Apakah aku ikut menyebarkan keberanian dan harapan? Setidaknya, puisi lah, cara bersuara.

Kurasa begitu.