Konten dari Pengguna

Di Schouwburg

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Intan Wahyuni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai pembaca, awalnya saya cukup terpikat dengan sosok Hidjo. Seorang pemuda dari Hindia yang menapakkan kaki di tanah kolonial Belanda, demi cita-cita dan ilmu pengetahuan. Tapi ada satu titik dalam novel Student Hidjo yang membuat saya mendadak berhenti. Bukan. Bukan berhenti membaca, tapi berhenti percaya.

(Sumber: Dokumentasi Pribadi).
zoom-in-whitePerbesar
(Sumber: Dokumentasi Pribadi).

Mungkin di sinilah Hidjo diuji. Bukan di ruang kuliah Delft, tapi di ruang sunyi batin, di mana godaan datang tanpa buku, tanpa guru. Dari situ, saya mulai bertanya-tanya: apakah cita-cita yang cukup kuat, akan tumbang ketika dihadapkan pada rayuan dunia? Tapi menariknya, peristiwa ini tidak terjadi di sembarang tempat. Koninklijke Schouwburg, gedung teater tempat pertunjukan itu berlangsung, bukan hanya simbol kebudayaan Belanda. Dibangun pada abad ke-18, dulunya gedung ini adalah istana yang tak jadi dipakai, lalu berubah menjadi barak tentara, yang akhirnya menjadi teater pada 1804 dan menjadi panggung tempat kisah-kisah besar.

Koninklijke Schouwburg

Malam itu, dia duduk dalam gedung Koninklijke Schouwburg, teater tertua di Den Haag yang didirikan pada tahun 1766. Gedung ini bukan hanya simbol kemegahan, tetapi juga cermin bagi mereka yang ingin melihat ke dalam dirinya. Sebuah tempat di mana seni bertemu jiwa, di mana pertunjukan opera Faust menggugah siapa saja yang menyaksikannya. Schouwburg, yang dulunya merupakan rumah bangsawan, kini menjadi tempat bagi orang-orang Belanda menikmati drama kehidupan, menelan kisah-kisah penuh moralitas dengan serius. Dalam opera Faust yang dipentaskan malam itu, disuguhkan dengan cerita seorang pria yang begitu terobsesi dengan pengetahuan hingga melupakan segala kenikmatan duniawi. Namun, saat cinta terlarang datang mengetuk pintunya, ia rela melepaskan segala yang telah dicapainya, bahkan jiwanya, demi menikmati dunia sesaat. Faust, yang semula gagah dengan ilmu dan prinsipnya, akhirnya jatuh dalam pelukan godaan yang menghancurkan. Cerita itu, menurut saya cukup menyentil. Bahkan sangat menyentil, bukan hanya untuk Hidjo… tapi juga untuk kita yang sedang menapak di jalan ilmu sambil terus ditarik-tarik dunia. Yang membuat saya sedikit heran adalah bagaimana reaksi Hidjo setelah pertunjukan selesai. Bukannya merenung, atau mengokohkan prinsip. Tapi justru kalimat ini yang muncul dari pikirannya: “Kalau besok saya sudah tua dan bertindak seperti Faust, lebih baik hal itu kulakukan saja sekarang.” Membaca ulang kalimat itu berkali-kali. Rasanya seperti menyaksikan seorang teman yang saya kagumi mulai bicara dengan logika yang miring. Ia menormalisasi kesalahan hanya karena “masih muda” dan karena “orang-orang juga melakukannya.” Apakah idealisme memang mudah goyah di bawah lampu-lampu gantung teater Eropa?

Belum lagi sindiran halus dari para gadis Belanda di sampingnya: “Tuan Hidjo, apakah akhirnya Tuan hendak berbuat seperti Faust itu?” Bukannya menyangkal atau menyatakan sikap, Hidjo malah… tersenyum seperempat, menggigit bibir. Sebuah isyarat kabur dari seseorang yang mulai gamang, tapi tak cukup berani menolak. Koninklijke Schouwburg malam itu bukan hanya latar tempat, tapi simbol bagi Hidjo dalam pandangan saya. Sebuah bangunan megah tempat seni menggoda jiwa-jiwa yang tak siap. Dan Hidjo, dengan segala ilmunya, ternyata belum cukup kuat untuk menatap godaan itu dengan mata yang teguh. Mungkin benar, Hidjo bukan pahlawan. Dia manusia biasa. Namun, bagi saya sendiri khususnya, menjadi pertanyaan besar. Apakah kita masih bisa memahami kegamangan Hidjo sebagai bagian dari pertumbuhan? Ataukah ia sudah kehilangan arah dan membiarkan prinsipnya lebur dalam arus budaya asing? Apakah Hidjo mencerminkan realita kita para pelajar yang menimba ilmu lalu hancur begitu saja? Kadang, pertanyaan-pertanyaan semacam ini tak butuh jawaban cepat. Hanya waktu dan sikap kita sendiri yang bisa membuktikan: apakah kita akan menjadi seperti Faust… atau tetap jadi diri sendiri? Entahlah.