Penghulu dalam Masyarakat Minangkabau

Mahasiswi, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Putri Intan Wahyuni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Minangkabau adalah salah satu budaya di Indonesia yang punya adat istiadat yang kuat. Dalam lingkaran adat yang kuat itu, berdirilah sosok penghulu, pemimpin yang tak hanya memegang kuasa, tetapi juga memikul hikmah. Peran penghulu sangat vital dalam menjaga harmoni, adat dalam sistem matrilineal. Namun, dalam era modernisasi dan pengaruh budaya Barat, nilai-nilai adat mulai mengalami tantangan. Hal ini tergambar secara jelas dalam novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis, khususnya melalui tokoh utama, Hanafi.

Siapa Itu Penghulu?
Dalam adat Minangkabau, penghulu punya peran penting. Ia dipilih secara musyawarah oleh anggota kaum (keluarga besar dari pihak ibu) dan diwariskan lewat garis ibu. Penghulu bukan cuma pemimpin, tapi juga penengah masalah, penyambung lidah kaum dalam urusan adat, dan penjaga nilai-nilai kehidupan bersama. Dalam pepatah Minangkabau disebutkan, “penghulu itu baraja di nan ka nan, bijak di nan dahulu, sakato di nan bana”, yang menekankan kebijaksanaan, keteladanan, dan keadilan yang harus dimiliki seorang penghulu.
Hanafi
Dalam Salah Asuhan, Hanafi menggambarkan kegamangan seorang anak bangsa yang tercerabut dari akar budayanya. Ketika keluarganya hendak mengangkatnya menjadi penghulu, ia menolak dengan nada sinis: “Ha, ha, ha! Bu! Benarkah pendengaranku? Menjadi penghulu? Saya akan menjadi penghulu dan akan belajar sembah-menyembah baik, asal mereka suka, si Buyung kujadikan penongkat!” Ucapan itu mencerminkan betapa dalam dirinya telah tumbuh rasa asing terhadap nilai yang seharusnya dijaga. Ia merasa adat adalah beban, bukan kehormatan. Kekagumannya pada budaya Eropa membutakan matanya dari makna luhur penghulu.
Kritik Abdoel Moeis terhadap Modernisasi
Melalui kisah Hanafi, Abdoel Moeis menyampaikan kritik terhadap kaum muda yang melupakan nilai-nilai adat karena terlalu mengagung-agungkan budaya asing. Hanafi, yang menolak nilai-nilai penghulu dan adat, justru hidup dalam kegelisahan, keterasingan, dan konflik batin. Ketika berbicara tentang cara orang Barat memilih pasangan, Hanafi berkata: "Itulah yang kusegankan benar hidup di tanah Minangkabau ini, Bu. Di sini semua orang berkuasa, kepada semua orang kita berutang, baik utang uang maupun utang budi. Hati semua orang mesti dipelihara dan laki-laki perempuan itu dipergaduh-gaduhkan dari luar buat menjadi suami-istri. Itulah yang menarik hatiku pada adat orang Belanda. Pada kecilnya yang menjadi keluarganya hanyalah; ayah-bundanya, adik-kakaknya. Setelah ia besar, dipilihnya sendiri buat istrinya; dan ayah-bundanya, apalagi mamak bilainya atau 'tua-tua di dalam kampung' harus menerima saja pilihannya itu jika tidak berkenan-boleh menjauh! Dan setelah beristri, bagi orang itu yang menjadi keluarga ialah, istrinya dan anak-anaknya saja. Tapi kita di sini kebat-mengebat, takluk-menaklukkan, tanya-menanya dengan tidak ada hingganya. Sebelum beristri, dalam beristri, hendak bercerai, tidak putus-putuslah kita dari percampuran orang-orang lain yang belum tentu berhati tulus kepada kita..." Perkataan ini menggambarkan idealisme Barat yang memikat Hanafi, tetapi justru menjadi akar dari keterasingannya sendiri. Moeis memperlihatkan bahwa modernisasi yang tidak berakar pada budaya sendiri akan menciptakan kekosongan identitas.
Masih Perlukah Penghulu di Zaman Sekarang?
Meskipun sekarang zaman sudah modern, nilai-nilai yang dibawa oleh penghulu masih penting. Kita tetap butuh pemimpin yang bijak, yang bisa jadi contoh, dan bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang adil. Tugasnya memang harus disesuaikan dengan kondisi sekarang, tapi semangatnya tetap bisa diterapkan: saling menghargai, bermusyawarah, dan peduli pada sesama. Budaya penghulu dalam masyarakat Minangkabau bukan hanya cerita lama yang layak disimpan di museum adat. Ia adalah warisan jiwa, cermin kearifan yang membimbing manusia agar tak kehilangan arah di tengah gelombang zaman. Seperti yang ditunjukkan melalui kisah Hanafi dalam Salah Asuhan, meninggalkan akar budaya tanpa memahami jati diri hanya akan membuat kita tersesat dalam bayang-bayang semu peradaban lain.
