'Strict Parents', Pola Asuh Pemicu Kenakalan Anak

kegiatan saya saat ini ialah menuntut ilmu di universitas syarif hidayatullah jakarta. saya adalah seorang mahasiswa yang ingin memiliki sebuah karya khususnya dalam bentuk tulisan serta yang dapat bermanfaat bagi orang lain.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Putri maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak merupakan titipan Tuhan yang diberikan kepada manusia untuk dijaga dan disayangi. Dalam hal ini orang tua memiliki peranan yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup anak karena bisa dikatakan orang tua adalah madrasah pertama bagi anaknya. Maka, tidak heran jika peran orang tua sangatlah dibutuhkan untuk seorang anak, baik dalam mendidik, mengasuh maupun menyayangi.
Kohn menyatakan bahwa pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Sikap orang tua ini meliputi cara orang tua memberikan aturan-aturan, hadiah maupun hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritasnya dan juga cara orang tua memberikan perhatian serta tanggapan terhadap anak (Habibi, 2015).
Dari pernyataan di atas, kita dapat mengetahui bahwa orang tua berhak menentukan pola asuh untuk anak-anaknya, akan tetapi bagaimana jika terdapat orang tua yang berlebihan dalam menjalani pola asuh tersebut kepada anaknya? Meskipun kita mengetahui dengan yakin bahwa orang tua pasti ingin yang terbaik untuk masa depan anak-anaknya. Sama halnya dengan pernyataan menurut Diana Baumrind, yakni "Setiap orang tua tentunya ingin yang terbaik bagi anak-anak mereka. Keinginan ini kemudian akan membentuk pola asuh yang akan ditanamkan orang tua kepada anak-anak" (Diana Baumrind (1967).
Berbagai cara pun akan dilakukan oleh orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan pola asuh yang beraneka ragam. Meskipun demikian, ternyata masih ada orang tua yang salah dalam mendidik anaknya seperti berlebihan dalam mengontrol aktivitas anak dan dalam hal apa pun yang menyangkut urusan anak. Sehingga, membuat anak menjadi tidak nyaman dengan orang tuanya sendiri bahkan sampai berusaha untuk menghindari orang tuanya sendiri. Tentu hal ini dapat memicu munculnya kenakalan pada anak.
Salah satunya dengan suka menuntut anak tanpa memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih ataupun menyatakan keinginannya. Tentu cara seperti ini bernilai salah dan dapat menjadi faktor munculnya kenakalan pada anak. Didikan berlebihan ini dapat membuat anak menjadi anak yang emosional dan sulit untuk dikontrol. Perilaku seperti ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental seorang anak dan dapat juga membuat anak suka berbohong. Awalnya anak jujur yang selalu ditekankan oleh orang tua atas segala tindakan yang ia lakukan dengan dalih untuk mendisiplinkan anak tersebut, dapat membuat seorang anak berbohong karena rasa takut yang muncul dari benak anak tersebut dan berbohong dijadikannya sebagai perisai untuk menghindari amarah ataupun hukuman dari orang tuanya tersebut. Alhasil anak itu pun akan terbiasa berbohong akibat didikan dari orang tua itu sendiri.
Perlu diketahui bahwa anak adalah suatu anugerah yang patut untuk disyukuri, maka dari itu terdapat pula cara khusus kita sebagai orang tua untuk mensyukuri anugerah tersebut yakni dengan senantiasa menjaga anak tersebut dengan sebaik-baiknya. Maksud menjaga dengan sebaik-baiknya ini juga bukan berarti orang tua yang mengatur segala kehidupan anak akan tetapi di sini orang tua tetap memberikan hak yang memang merupakan hak anak tersebut disertai dengan pengawasan orang tua itu sendiri.
Orang tua boleh bersikap tegas terhadap seorang anak akan tetapi orang tua juga tidak boleh lupa untuk memberikan hak kepada seorang anak berupa kasih sayang. Dikarenakan anak membutuhkan rasa kasih sayang dari kedua orang tuanya dan dengan rasa kasih sayang itulah seorang anak dapat membentuk sebuah kepribadian yang baik dan terhindar dari julukan anak yang nakal.
