Konten dari Pengguna

Birokrasi Rasa Marvel

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Maulania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

cr. AI generated
zoom-in-whitePerbesar
cr. AI generated

Siapa yang sudah liat trailer Avengers: Doomsday? Sudah gak sabar pastinya dong buat nonton. But, sebelum kita ketemu Doom, first thing first coba kita rewind menonton Captain America: Civil War. Bagi sebagian orang, film itu mungkin sekadar tontonan blockbuster tentang Avengers tantrum dan saling lempar pesawat di bandara. Team Cap or Team Iron Man.

Tapi jika kita bedah lebih dalam, film itu sebenarnya bukan tentang seberapa sebel kalian dengan Steve Rogers upssss. Konflik utamanya sangat manusiawi, membumi, dan... sangat birokratis.

POV dari universe 626262 yaudahlah, Civil War merupakan benturan dua ideologi. Di pihak biru, ada Steve Rogers (Captain America) yang mewakili kebebasan bertindak, empati, emosi, dan idealisme. Si Cap percaya bahwa niat baik untuk menolong orang tidak boleh dihalangi oleh rantai komando atau aturan ribet birokrasi PBB. Di pihak merah, ada Tony Stark (Iron Man) yang mewakili regulasi, sistem, dan pengawasan (bisa dibilang Sokovia Accords). Tony sadar, sehebat apa pun inovasi dan kekuatan, tanpa adanya aturan main, hasilnya hanyalah kekacauan yang destruktif.

Kejutan yang mungkin mindblowing adalah film MCU (Marvel Cinematic Universe) ini ternyata tidak cuma tayang di bioskop kesayangan Anda. Bro and sis ternyata film ini tayang setiap hari di ruang kerja kita tercinta.

Now, mari kita berbincang tentang "Tim Captain America" di dunia birokrasi kita. Siapa saja mereka? Mereka ini biasanya adalah ASN-ASN muda, para Gen Z atau milenial yang baru nyemplung ke universe ini dengan segudang template Notion, presentasi Canva yang aesthetic, dan semangat berapi-api untuk melahirkan Inovasi Pelayanan Publik. Sabar diks adiks....

Bagi ASN "Tim Cap," birokrasi warisan masa lalu itu sering kali terasa terlalu lambat, nge-lag, dan bikin gregetan (berasa tertinggal dari anak gang sebelah). “Kenapa sih kita tetap harus fotokopi KTP bolak-balik kalau datanya sudah ada di sistem?” atau “Kenapa harus nunggu tanda tangan basah tiga lapis kepala dinas kalau esensinya bisa dipercepat pakai digital signature?”. Sudah 2026 looooohhhh. Sampe sini sudah berasa gregetnya?

Mereka bergerak menggunakan hati nurani dan sense of urgency. Di mata mereka, kebebasan berpendapat dan eksekusi ide kreatif adalah kunci utama. Kalau kita bisa mempermudah hidup kita detik ini juga melalui sebuah inovasi aplikasi atau digitalisasi yang simpel, apa yang ditunggu kah? Valid, kan? Emosi dan empati mereka melihat keruwetan kerja adalah bensin utama mereka.

Tapi, wait a minute. Cue the AC/DC music, mari kita sambut "Tim Iron Man".

Dalam universe ASN, Tim Iron Man ini adalah wujud dari aturan riwueh, SOP, Undang-Undang, Peraturan Menteri, hierarki, hingga dokumen SPJ (Surat Pertanggungjawaban). Birokrasi dan regulasi sering kali dilabeli sebagai villain yang mematikan inovasi. Sabar dulu bro and sis.... Mari kita pinjam mindset Tony Stark. Regulasi itu tidak turun dari langit hanya untuk iseng sekadar mempersulit hidup orang. Aturan itu lahir karena sejarah panjang celah penyimpangan.

Kita kenal prinsip akuntabilitas yang harus dijaga mati-matian. Uang yang dipakai untuk inovasi itu adalah uang rakyat (APBN/APBD), bukan uang dari Stark Industries. Kalau ide kreatif dibiarkan berlari liar tanpa koridor hukum, hal ini nantinya bukan jadi pelayanan prima, melainkan temuan Inspektorat, audit BPK, atau bahkan permasalahan hukum. Iron Man mewakili logika dingin birokrasi: “Ide lo bagus banget, Bro. Tapi dasar hukum pelaksanaannya pakai Peraturan Kepala Daerah nomor berapa? Anggarannya nyantol di DPA yang mana?"

Akhirnya, terjadilah Civil War versi ASN. Bukan dengan baku hantam di bandara Leipzig, melainkan dengan perang dingin di ruang kerja masing-masing. Walau kadang ada kantor yang belum memakai AC.

Tim Cap (sang inovator) merasa idenya dikebiri oleh sistem yang lama dan jadul. Mereka merasa tidak diberi kebebasan berekspresi. Di sisi lain, Tim Iron Man (sang regulator) pusing melihat anak zaman now yang dianggap terlalu grasah-grusuh, mengabaikan compliance (kepatuhan), dan dirasa kurang memahami tata kelola administrasi. Keinginan berinovasi clash dengan keharusan mengikuti aturan main. Kalau dibiarkan berlarut, energi kita habis terkuras untuk berdebat di internal, sementara masyarakat yang seharusnya kita lindungi dan layani malah jadi bingung dan hilang arah.

Terus, bagaimana ending-nya?

Di filmnya, we all knowAvengers pecah kongsi. Tapi sebagai abdi negara, kita tidak punya privilege untuk bubar jalan gitu aja. Untuk mewujudkan Inovasi Pelayanan Publik yang berdampak nyata, kita justru membutuhkan kedua superpower tersebut di dalam satu tubuh.

Ide-ide liar dan empati khas Gen Z (energi Captain America) MUTLAK diperlukan agar birokrasi tidak jalan di tempat, tidak kaku, dan bisa relevan dengan kebutuhan zaman now. Namun, inovasi tersebut harus dipakaikan zirah besi berupa kepatuhan pada regulasi (logika Iron Man) agar sustainable, memiliki legalitas yang kuat, dan uang rakyat bisa dipertanggungjawabkan hingga serupiah terakhir.

Menjadi ASN masa kini, seorang Smart ASN, berarti kita harus berusaha berhenti memilih kubu. Kita tidak bisa sekadar menjadi Captain America yang asal tabrak aturan bermodalkan niat baik, tidak juga menjadi Iron Man kaku yang berlindung di balik tebalnya pasal-pasal SOP tanpa mau repot melihat pekerjaan di lapangan.

Kita harus menjadi perpaduan keduanya. Bawa idemu kreatifmu yang out-of-the-box, empatimu yang tinggi, dan kebebasan berpikirmu ke ruang kerja. Lalu, gunakan kecerdasan birokrasimu untuk membedah regulasi dan mencari ruang inovasi yang legal. Unfortunately, That’s The Hardest Part.

Pada akhirnya, inovasi pelayanan publik terbaik bukanlah sekadar aplikasi yang paling canggih atau ide yang paling viral. Inovasi terbaik adalah ide brilian yang mampu berdansa dengan anggun di atas panggung regulasi. Mari sudahi Civil War di universe ini. Saatnya Avengers Assemble untuk melayani negeri!