Konten dari Pengguna

Kasih Sayang Orang Tua: Semangkuk Buah Potong dan Rahasia Cinta yang Sunyi

Putri Rahmawati

Putri Rahmawati

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, di Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi semangkuk buah di atas meja belajar. Gambar: AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi semangkuk buah di atas meja belajar. Gambar: AI

Wujud kasih sayang orang tua sering kali hadir dalam bentuk yang tidak terduga. Malam itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul satu pagi ketika saya masih bergelut dengan tumpukan tugas di depan laptop.

Tiba-tiba, pintu kamar terdorong pelan. Ibu masuk tanpa suara, membawa sebuah piring kecil berisi potongan buah naga dan mangga yang tersusun rapi.

"Dimakan dulu buahnya, terus jangan tidur kemalaman," katanya singkat. Setelah itu, beliau kembali menutup pintu dan berlalu begitu saja.

Tidak ada ucapan manis seperti "Kamu hebat" atau "Ibu bangga sama kamu". Hanya ada piring berisi buah potong dan sebuah pesan pendek. Dulu, saya kerap menganggap gestur seperti itu sebagai hal biasa bahkan tak jarang terlintas keinginan mendengarkan kalimat-kalimat manis atau pelukan hangat yang sering saya tonton di film-film romantis.

Namun, makin ke sini, saat usia saya beranjak dewasa dan kenyataan hidup makin nyata, saya baru menyadari satu hal: cara orang tua kita menyayangi memang hampir tak pernah seperti cerita di dalam novel. Cinta mereka bekerja lewat bahasa yang sunyi, senyap, namun dampaknya terasa nyata di balik layar kehidupan kita.

Memahami Bentuk Kasih Sayang Orang Tua yang Lewat Bahasa Sunyi

Generasi orang tua kita kebanyakan tumbuh di era ketika pengungkapan emosi secara lisan adalah hal yang canggung. Kata "Aku sayang kamu" bagi mereka mungkin terasa begitu berat dan asing di lidah.

Sebagai gantinya, mereka menerjemahkan perasaan itu ke dalam bahasa tindakan (acts of service):

  • Cinta yang hadir lewat makanan: Semangkuk buah yang sudah dikupas, sarapan yang selalu siap di meja sebelum kita terbangun, atau bekal makanan saat kita hendak bepergian jauh.

  • Kehadiran yang tenang: Ayah yang diam-diam mengecek kondisi oli dan bensin kendaraan kita sebelum kita berangkat kuliah atau kerja, memastikan kita aman di jalan tanpa perlu menceritakannya.

  • Kecemasan yang berbalut nasihat: Kalimat cerewet seperti "Kenapa pulang malam terus?" atau "Hp terus yang dipegang" yang sering kita tafsirkan sebagai kekangan, padahal sebenarnya berakar dari rasa khawatir dan naluri ingin melindungi.

Antara Waktu yang Berjalan dan Orang Tua yang Menua

Ada satu ironi yang pahit ketika kita beranjak dewasa. Di saat kita sibuk berlari meraih mimpi, membangun karir, dan memperluas jaringan pertemanan, kita sering lupa bahwa orang tua kita juga sedang berjalan menuju masa tuanya.

Kita kerap begitu sabar mendengarkan keluh kesah teman atau membalas pesan dari rekan kerja dengan ramah. Namun, betapa seringnya kita justru kehilangan kesabaran saat menghadapi orang tua yang gagap memahami aplikasi gawai, atau bernada ketus saat mereka menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali?

Padahal, di balik kegagapan mereka terhadap teknologi, ada usaha yang sangat keras untuk tetap terhubung dengan dunia kita—dunia anak-anaknya yang kian hari terasa kian jauh dari jangkauan mereka.

Membalas Bahasa Sunyi Itu Sebelum Terlambat

Menghargai dan membalas kasih sayang orang tua sebenarnya tidak selalu harus menunggu kita sukses besar atau sanggup memberi kemewahan materi. Yang paling mereka butuhkan dari kita yang kian berjarak ini sebenarnya sangat sederhana: kehadiran kita secara utuh.

Coba luangkan waktu sejenak untuk:

1. Menaruh gawai saat mengobrol: Hadirlah sepenuhnya saat duduk bersama mereka. Dengarkan cerita masa lalu mereka, meskipun cerita itu sudah pernah kita dengar puluhan kali sebelumnya.

2. Memberikan kabar tanpa diminta: Pesan singkat seperti "Aku sudah sampai ya" atau "Hari ini acaranya lancar" sangat ampuh menenangkan pikiran mereka yang selalu dipenuhi prasangka khawatir.

3. Memahami bahasa kasih mereka: Mulailah berhenti menuntut mereka untuk menyayangi kita sesuai ekspektasi kita, dan belajarlah menikmati kehangatan dari cara sederhana yang mampu mereka berikan.

Kasih sayang orang tua adalah fondasi paling awal yang membentuk siapa diri kita hari ini. Sebelum waktu benar-benar mengikis kesempatan yang ada, mari belajar mengecap kembali kehangatan dalam setiap "bahasa sunyi" yang mereka titipkan setiap harinya.