Konten dari Pengguna

Rumah yang Sama, tetapi Cerita yang Berbeda

Putri Rahmawati

Putri Rahmawati

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, di Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustras serumah tapi berjarak. Gambar : AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustras serumah tapi berjarak. Gambar : AI

Pernahkah kita berada di ruangan yang sama dengan keluarga, tetapi sibuk dengan dunia masing-masing? Ayah menonton televisi, ibu menyelesaikan pekerjaan rumah, sementara anak duduk di sofa sambil menatap layar ponselnya. Semua berada di rumah yang sama, tetapi hampir tidak ada percakapan yang benar-benar terjadi.

Kalaupun berbicara, obrolan sering kali hanya berkisar pada hal-hal praktis, seperti sudah makan atau belum, kapan pulang, dan apakah tugas sekolah sudah selesai. Pertanyaan sederhana tersebut memang penting, tetapi komunikasi dalam keluarga seharusnya tidak hanya terbatas pada hal-hal tersebut.

Fenomena ini cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama ketika setiap anggota keluarga memiliki kesibukan dan rutinitas masing-masing. Tanpa disadari, rumah yang seharusnya menjadi tempat berbagi cerita dapat berubah menjadi tempat untuk sekadar beristirahat sebelum kembali menjalani aktivitas pada keesokan harinya.

Ketika Percakapan Hanya Menjadi Formalitas

Komunikasi dalam keluarga tidak selalu harus berlangsung melalui percakapan panjang. Terkadang, obrolan singkat mengenai kejadian sehari-hari sudah cukup untuk membuka ruang berbagi cerita. Namun, persoalan muncul ketika percakapan hanya dilakukan untuk menyampaikan kebutuhan atau memberikan instruksi.

Anak mungkin terbiasa menjawab pertanyaan orang tua secara singkat karena merasa tidak ada hal lain yang perlu diceritakan. Sebaliknya, orang tua dapat menganggap anak baik-baik saja selama tidak terlihat adanya masalah. Akibatnya, kedua belah pihak sama-sama merasa tidak memiliki persoalan, padahal belum tentu mereka benar-benar memahami apa yang sedang dialami satu sama lain.

Situasi seperti ini tidak selalu berarti bahwa sebuah keluarga kehilangan kasih sayang. Bisa jadi, setiap anggota keluarga sebenarnya saling peduli, tetapi belum terbiasa menunjukkan kepedulian melalui percakapan yang lebih terbuka.

Ada orang tua yang mengungkapkan perhatian dengan memastikan kebutuhan anak terpenuhi. Ada pula anak yang menunjukkan kasih sayang melalui tindakan sederhana, tetapi mengalami kesulitan dalam mengungkapkan perasaan mereka. Perbedaan cara mengekspresikan perhatian tersebut terkadang membuat anggota keluarga sulit memahami satu sama lain.

Kesibukan dan Layar yang Menciptakan Jarak

Perkembangan teknologi turut mengubah kebiasaan komunikasi dalam keluarga. Ponsel memungkinkan seseorang tetap terhubung dengan teman, mengikuti perkembangan informasi, dan menikmati hiburan tanpa harus meninggalkan rumah. Namun, ketika setiap anggota keluarga lebih banyak berinteraksi dengan layar masing-masing, kesempatan untuk berbincang secara langsung dapat semakin berkurang.

Makan bersama, misalnya, sebenarnya dapat menjadi kesempatan sederhana untuk bertukar cerita. Akan tetapi, kesempatan tersebut dapat berlalu begitu saja ketika setiap orang sibuk memeriksa notifikasi atau melihat berbagai konten melalui ponsel.

Meskipun demikian, teknologi bukan satu-satunya penyebab renggangnya komunikasi dalam keluarga. Kesibukan pekerjaan, kelelahan setelah beraktivitas, perbedaan kebiasaan, serta pengalaman komunikasi yang kurang menyenangkan juga dapat memengaruhi kedekatan antaranggota keluarga.

Oleh karena itu, persoalannya bukan sekadar seberapa sering anggota keluarga menggunakan ponsel, melainkan bagaimana setiap orang menyediakan waktu dan memberikan perhatian kepada satu sama lain.

Mendengarkan Dapat Menjadi Awal Kedekatan

Memperbaiki komunikasi dalam keluarga tidak selalu membutuhkan percakapan serius atau perubahan besar. Langkah sederhana dapat dimulai dengan menanyakan bagaimana seseorang menjalani harinya, mendengarkan jawabannya, dan memberikan kesempatan untuk bercerita tanpa tergesa-gesa menghakimi.

Bagi orang tua, mendengarkan anak tidak harus selalu diakhiri dengan memberikan nasihat. Terkadang, anak hanya ingin menceritakan pengalaman atau mengungkapkan perasaan tanpa langsung dianggap bersalah. Begitu pula sebaliknya, anak dapat mulai membangun kedekatan dengan memberikan perhatian ketika orang tua bercerita mengenai pekerjaan, kekhawatiran, atau pengalaman mereka.

Keluarga juga dapat membiasakan diri menyediakan waktu tanpa gangguan gawai, misalnya ketika makan bersama atau sebelum tidur. Hal ini bukan bertujuan untuk memaksa semua orang selalu berbicara, melainkan untuk menyediakan ruang agar percakapan dapat berlangsung secara alami.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa setiap anggota keluarga merasa pendapat dan perasaannya dihargai. Komunikasi yang sehat bukan berarti tidak pernah terjadi perbedaan pendapat, melainkan setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk berbicara dan didengarkan.

Rumah Bukan Hanya Tempat untuk Pulang

Pada akhirnya, kedekatan keluarga tidak hanya diukur dari seberapa sering seluruh anggota keluarga berkumpul di rumah. Kedekatan juga tumbuh melalui perhatian kecil, percakapan sederhana, dan kesediaan untuk memahami kehidupan satu sama lain.

Kita mungkin tidak selalu memiliki banyak waktu untuk berbincang. Namun, menyisihkan beberapa menit untuk mendengarkan cerita anggota keluarga dapat menjadi langkah awal yang berarti.

Sebab, rumah idealnya bukan hanya menjadi tempat untuk pulang setelah lelah menjalani aktivitas sehari-hari, tetapi juga tempat seseorang merasa nyaman untuk berbagi cerita tanpa takut diabaikan.

Mungkin, hal yang dibutuhkan sebuah keluarga bukanlah lebih banyak waktu untuk berada di ruangan yang sama, melainkan lebih banyak kesempatan untuk benar-benar hadir dan memberikan perhatian kepada satu sama lain.