Konten dari Pengguna

Bahasa Ibu yang Mulai Yatim di Tanah Sendiri

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Tampubolon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu pemandangan yang belakangan membuat saya agak sesak: semakin sedikit orang yang nyaman berbicara dengan bahasa ibunya sendiri. Di rumah, anak-anak lebih fasih meniru slang Jakarta daripada dialek yang diwariskan leluhurnya. Di sekolah, bahasa daerah muncul hanya sebagai bahan ujian, bukan lagi sebagai kebiasaan. Di media sosial, konten berbahasa lokal nyaris tenggelam di antara tren berbahasa Inggris atau bahasa gaul kekinian.

Sumber gambar dari AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar dari AI

Kadang saya bertanya, sejak kapan bahasa ibu menjadi sesuatu yang memalukan? Sejak kapan kita merasa lebih “berkelas” ketika meninggalkan bahasa yang membesarkan kita?

Hari ini banyak bahasa daerah kita seperti “yatim”—masih hidup, tetapi kehilangan pengasuh. Dituturkan orang tua, namun tidak diwariskan kepada anaknya. Dikenang generasi lama, tetapi dianggap kuno oleh generasi muda. Bahasa itu tidak benar-benar mati, tetapi perlahan kehilangan rumahnya.

Identitas yang Perlahan Menghilang

Bagi saya, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi. Ia membawa cara pandang, nilai, dan kebijaksanaan yang tidak mudah diterjemahkan ke bahasa lain. Ketika seseorang berhenti memakai dialeknya, ada bagian identitas yang ikut larut dan hilang.

Namun kita hidup di masa ketika bahasa daerah sering dianggap kurang keren. Anak muda takut dicap kampungan ketika aksennya terdengar. Ironisnya, di banyak negara lain, logat justru menjadi kebanggaan. Sementara di sini, kita sibuk menghapus jejak diri sendiri.

Media sosial pun mempercepat perubahan ini. Algoritma membuat kita mengikuti bahasa yang paling sering muncul: bahasa gaul, campuran Inggris-Indonesia, atau gaya bicara para influencer. Konten berbahasa lokal dianggap kurang estetik, kurang menarik, dan tidak viral. Akibatnya, kita makin jarang mendengar dialek daerah di ruang publik.

Masalahnya tidak berhenti di situ. Banyak orang tua masa kini lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia di rumah agar anak cepat mengikuti pelajaran. Mereka khawatir anak bingung bahasa. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dengan dua bahasa memiliki fleksibilitas kognitif yang lebih baik. Ketika bahasa ibu berhenti diwariskan di rumah, generasi berikutnya tumbuh tanpa ikatan emosional dengannya.

Yang membuat saya khawatir adalah ini: ketika sebuah bahasa punah, nilai yang dikandungnya ikut hilang. Banyak nasihat adat, cara hidup, dan filosofi lama hanya hidup melalui bahasa. Jika bahasanya hilang, hilang pula ingatan kolektif yang menyertainya.

Saya percaya, melestarikan bahasa daerah bukan soal nostalgia. Ini soal mempertahankan identitas di tengah dunia yang makin seragam. Kita tidak harus menolak teknologi untuk menjaga tradisi. Yang kita butuhkan hanyalah langkah-langkah kecil: memakai bahasa daerah di rumah, menyelipkan dialek lokal dalam percakapan, atau menggunakannya dalam konten digital.

Tidak perlu muluk-muluk. Satu dua kata pun cukup untuk menjaga agar bahasa ibu tetap memiliki rumah.

Pada akhirnya, kita bukan hanya pewaris budaya, tetapi juga penjaga keberlangsungannya. Jika kita terus merasa malu pada bahasa sendiri, suatu hari nanti kita bisa menjadi bangsa besar yang kehilangan suara asli dari tanah tempat kita dilahirkan. Dan itu, menurut saya, adalah kehilangan yang paling sunyi.

Putri Tampubolon adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Katolik Santo Thomas Medan.