Konten dari Pengguna

Dilema Keluarga Double Income: Kesejahteraan vs Tantangan Peran Ganda

Putria Moza

Putria Moza

Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putria Moza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi orang tua dan anak main gadget. Foto: Sorapop Udomsri/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang tua dan anak main gadget. Foto: Sorapop Udomsri/Shutterstock

Dalam dunia yang terus bergerak semakin pesat, individu menghabiskan sebagian besar waktunya pada dua bidang utama yaitu keluarga dan pekerjaan. Perkembangan pesat membuat banyak masyarakat meningkatkan kebutuhan keluarga mereka dan memaksa keluarga untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya mereka.

Menurut data Badan Pusat Statistik, banyak sekali keluarga di perkotaan dapat dikategorikan sebagai "keluarga double income" atau "keluarga dengan dua pencari nafkah". Secara sederhana, keluarga dengan dua pencari nafkah merujuk pada situasi di mana suami dan istri bekerja untuk mencari penghasilan; berbeda dengan pendekatan tradisional di mana hanya suami yang mencari nafkah. Mayoritas keluarga dengan dua pencari nafkah biasanya memiliki kondisi ekonomi menengah ke atas karena keduanya bekerja untuk mencari nafkah dalam keluarga sehingga pendapatan keluarga cenderung lebih dari cukup.

Bagi keluarga dengan dua pencari nafkah, tantangannya terletak pada manajemen sumber daya keluarga (MSDK). Pengelolaan sumber daya tidak hanya berlaku dalam urusan rumah tangga, tetapi juga aktivitas di luar rumah yang berkaitan dengan kepentingan anggota keluarga. Pada hakikatnya, keluarga memegang peran penting dalam membangun kesejahteraan bersama, baik secara fisik, materi, maupun spiritual. Semua anggota keluarga memiliki tanggung jawab untuk menjalankan tugas agar keluarga yang dibangun dapat berfungsi dengan baik.

Dalam konteks ini, konflik peran ganda yang dihadapi oleh ibu yang bekerja dalam keluarga double income menciptakan tantangan yang dikenal sebagai "konflik pekerjaan-keluarga". Hal ini disebabkan oleh pandangan bahwa wanita memiliki peran dan tanggung jawab yang lebih besar dalam urusan keluarga dan dipengaruhi oleh norma sosial yang merupakan akar dalam budaya patriarki di Indonesia. Pandangan ini menekankan bahwa kodrat wanita berkaitan erat dengan urusan keluarga dan pengasuhan anak. Akibatnya, muncul perasaan bersalah yang memicu konflik antara tugas di tempat kerja dengan peran sebagai anggota keluarga.

Dukungan dari keluarga, terutama pasangan, menjadi faktor penting dalam mengurangi kemungkinan timbulnya konflik antara pekerjaan dan keluarga. Dalam konteks manajemen sumber daya keluarga dan kesejahteraan keluarga double income di perkotaan, penting bagi keluarga untuk memahami dan mengelola konflik peran ganda dengan bijak.

Ilustrasi pasangan suami dan istri sedang konflik. Foto: Dragon Images/Shutterstock

Ini semua melibatkan kesadaran akan pandangan dan norma-norma yang memengaruhi persepsi terhadap peran gender serta membangun dukungan sosial yang kuat di dalam keluarga. Kemampuan untuk beradaptasi dan membagi peran dengan pasangan dalam rumah tangga memudahkan keluarga double income, khususnya bagi istri yang menjalankan peran ganda sebagai pekerja dan ibu rumah tangga.

Keputusan untuk menjadi keluarga double income sangat dipengaruhi oleh kebutuhan finansial dan tujuan khusus yang dimiliki oleh setiap keluarga. Latar belakang dan motivasi beragam, termasuk keinginan mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, memenuhi kebutuhan semua anggota keluarga: menghadapi kenaikan biaya hidup sehari-hari, menyiapkan dana untuk pendidikan anak-anak dan situasi darurat, serta menjaga standar kehidupan yang layak.

Keputusan ini adalah hasil dari evaluasi matang terhadap kondisi dan aspirasi masing-masing keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pendekatan yang benar atau salah dalam mengelola keuangan keluarga. Setiap keluarga memiliki alasan dan prioritas berbeda yang perlu dihormati dan diakui.

Keluarga dengan double income tidak terlepas dari tantangan dan dampaknya terhadap keluarga. Beberapa tantangan yang dihadapi oleh keluarga dengan dua pencari nafkah yang sudah memiliki anak terdiri dari empat kemungkinan.

Pertama, anak mungkin kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang orang tua yang dapat berdampak pada perilaku anak seperti mencari perhatian dengan perilaku negatif. Kedua, wanita harus membagi waktu antara pekerjaan, tugas ibu, dan kewajiban sebagai istri yang dapat menimbulkan beban ganda dan stres pada wanita. Tentunya, membagi waktu untuk hal-hal tersebut tidaklah mudah.

Ketiga, kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak dapat membuat anak menjadi tertutup dan tidak memercayai orang tua, sedangkan orang tua tidak mengerti kehidupan anak mereka. Terakhir, berkurangnya waktu bersama keluarga dapat membuat anak merasa terasingkan di dalam keluarga karena mereka jarang menghabiskan waktu bersama dengan orang tuanya.

Ilustrasi keluarga. Foto: Shutterstock

Setiap keluarga memiliki cara yang sah dan efektif dalam mengatasi tantangan kehidupan ganda ini. Hal yang terpenting adalah adanya kesadaran, komitmen, dan semangat untuk menjaga keseimbangan antara aspek finansial dan emosional dalam kehidupan keluarga.

Keputusan untuk menjadi keluarga dua pencari nafkah dapat mencerminkan beragam faktor. Keputusan ini tidak hanya didasarkan pada kepentingan pribadi, tetapi juga mencakup kepentingan keluarga. Keinginan untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, memenuhi kebutuhan sehari-hari, menyisihkan dana pendidikan anak-anak, dan merespons kenaikan biaya hidup adalah beberapa alasan mengapa keluarga memilih untuk menjadi keluarga dua pencari nafkah.

Namun, perlu diingat bahwa keputusan tersebut juga membawa dampak negatif, terutama bagi anak-anak. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara kebutuhan finansial dan peran orang tua merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan bijak.

Dengan komunikasi terbuka, kerja sama, dan penyesuaian yang tepat, keluarga dua pencari nafkah dapat mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan yang diinginkan sambil memastikan bahwa kebutuhan dan kesejahteraan anak tetap terpenuhi. Manajemen sumber daya keluarga yang baik melibatkan kesadaran, komitmen, dan semangat untuk mempertahankan keseimbangan antara aspek finansial dan emosional dalam kehidupan keluarga.

Setiap keluarga memiliki cara yang sah dalam mengatasi tantangan kehidupan ganda ini dan penting untuk selalu menghormati keputusan finansial masing-masing individu.