Branding dan Media Sosial Kopi Kenangan x Haechan

Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Putri Anisah Faiyyatul Kumala tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tinjauan Aspek Pemasaran pada Kolaborasi Kopi Kenangan x Haechan NCT

Branding dan media sosial Kopi Kenangan x Haechan menjadi sorotan setelah banyak orang yang awalnya tidak berniat membeli minuman, tiba-tiba tertarik usai melihat kolaborasi idol favorit mereka dengan brand tersebut. Contoh nyata bagaimana sebuah brand dapat menarik perhatian konsumen lewat figur publik yang memiliki banyak penggemar. Salah satu contohnya adalah kolaborasi Kopi Kenangan dengan NCT HAECHAN.
Kolaborasi antara brand dan figur publik bukan hanya soal menghadirkan produk baru. Di balik itu, terdapat strategi pemasaran yang berusaha menarik perhatian konsumen melalui branding, platform media sosial, dan kedekatan emosional dengan sosok yang mereka sukai. Dari sini, muncul pertanyaan menarik: apakah branding dan media sosial benar-benar dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk membeli?
Pada Juli 2026, Kopi Kenangan resmi menunjuk Haechan sebagai brand ambassador dan meluncurkan seri minuman "A Sip of Sunshine". Produk tersebut terdiri dari korean banana latte, banana americano, dan banana choco dengan harga mulai dari Rp19.000. Kopi Kenangan juga menyebut bahwa kolaborasi tersebut ditunjukan untuk membangun hubungan emosional yang lebih kuat dengan konsumen.
Menurut pendapat saya, kolaborasi ini sangat menarik dari sudut pandang pemasaran. Produk yang ditawarkan sebenarnya lebih dari sekedar minuman. Ada nama besar Haechan, identitas visual, cerita di balik kampanye, serta strategi promosi yang membuat produk lebih spesial. Di sinilah branding dan media sosial berperan penting dalam memengaruhi keputusan pembelian.
Ketika yang Dijual Bukan Hanya Produk
Dalan persaingan bisnis makanan dan minuman yang semakin ramai, menjual dengan rasa enak saja belum tentu cukup. Konsumen juga dapat tertarik oleh suatu brand yang memperkenalkan dan mengembangkan reputasinya.
Kopi Kenangan menjelaskan bahwa upaya pemasaran dilakukan melalui cerita, kampanye, dan strategi media yang relevan untuk membangun pandangan konsumen terhadap brand.
Kolaborasi dengan Haechan menjadi contoh yang menarik. Haechan tidak hanya tampil sebagai wajah dari promosi, tetapi juga terhubung dengan konsep prosuk "A Sip of Sunshine". Kopi Kenangan menggambarkan Haechan sebagai membawa kesan hangat, optimis, dan positif, lalu kesan tersbut dihubungkan dengan pengalaman yang ingin diberikan kepada konsumen.
Menurut pendapat saya, strategi ini memberikan konsumen motivasi tambahan untuk memperhatikan suatu produk. Orang yang sebelumnya tidak begitu antusias terhadap menu baru Kopi Kenangan mungkin mulai merasa penasaran karena adanya Haechan. Sementara itu, bagi para penggemarnya, produk tersebut bisa menggandung makna emosional tersendiri.
Media Sosial Membuat Kolaborasi Semakin Mudah
Branding yang kuat akan lebih cepat berkembang apabila didukung oleh platform media sosial. Saat ini, konsumen tidak hanya mengenal produk dari iklan konvensional, tetapi juga melalui Instagram, TikTok, X, YouTube, dan berbagai saluran lainnya.
DataReportal dalam laporan digital 2026: Indonesia mencatat bahwa ada lebih kurang 180 juta akun pengguna media sosial di Indonesia pada oktober 2025. Jumlah tersebut setara dengan 62,9 persen dari total populasi Indonesia. Untuk Instagram, informasi dari alat periklanan Meta mengindikasikan potensi jangkauan sekitar 108 juta pengguna di indonesia pada akhir 2025.
Angka tersebut menunjukkan bahwa platform media sosial memiliki ruang yang besar untuk digunakan sebagai sarana pemasaran. Dalam kasus Kopi Kenangan x Haechan, media sosial menjadi tempat yang cocok untuk memperkenalkan kolaborasi, membangun rasa penasaran, dan membuat informasi mengenai produk lebih mudah tersebar.
Hal yang menarik adalah konsumen juga dapat berpartisipasi dalam penyebaran promosi dengan cara yang tidak langsung. Ketika seseorang mengunggah foto minuman, cup sleeve, merchandise, atau membagikan pengalaman membeli produk kolaborasi, konten tersebut dapat dilihat oleh pengguna lain. Dengan begitu, pembicaraan mengenai produk tidak hanya berasal dari akun resmi perusahaan.
Saya memandang situasi ini sebagai salah satu kekuatan dalam pemasaran di era digital. Suatu kampanye tidak berakhir saat perusahaan memposting konten. Konsumen dapat berkontribusi dalam menciptakan konten dan membuat produk tersebut semakin menonjol.
Dari Rasa Penasaran Menjadi Keputusan Membeli
Pertanyaannya adalah, apakah branding dan platform media sosial benar-benar berpengaruh pada keputusan konsumen untuk melakukan pembelian?
Menurut pendapat saya, keduanya bisa berperan dalam memengaruhi keputusan untuk membeli, tetapi bukan berarti setiap orang yang melihat promosi pasti akan membeli. Ada serangkaian proses yang harus dilalui sebelum konsumen memutuskan untuk mengeluarkan dana.
Sebagai contoh, seorang penggemar Haechan mungkin pertama kali menemukan informasi tentang kolaborasi di aplikasi Instagram. Setelah merasa tertarik, ia mulai mencari informasi mengenai menu yang ada, harga, promosi, lokasi gerai, hingga merchandise yang tersedia. Setelah mempertimbangkan semua informasi tersebut, barulah ia akan memutuskan apakah akan melakukan pembelian atau tidak.
Pada kolaborasi pertama, Kopi Kenangan juga menghadirkan Special Gift with Purchase Set yang berisi dua minuman dan merchandise seperti sticker, postcard, serta cup sleeve. Paket ini dijual dengan harga Rp58.000 dan hanya tersedia dalam jangka waktu dan jumlah yang terbatas.
Saya berpandangan bahwa pemberian merchandise menjadi contoh bagaimana strategi pemasaran dapat menambahkan alasan bagi konsumen untuk melakukan pembelian. Konsumen tidak hanya memperoleh minuman, tetapi juga mendapat sesuatu yang bernilai bagi para penggemar koleksi.
Ini menunjukkan bahwa keputusan untuk membeli tidak selalu berasal dari kebutuhan akan produk. Faktor emosional, pengalaman, tren, ketertarikan terhadap figur tertentu, dan persepsi terhadap sebuah brand juga dapat ikut berperan penting.
Apakah Strategi Ini Bisa Disebut Berhasil?
Saya percaya bahwa keberhasilan suatu kolaborasi tidak hanya dapat diukur dari ramainya interaksi di media sosial. Aktivitas yang tinggi di platform media sosial memang mencerminkan minat konsumen, tetapi minat tersebut tidak selalu diikuti dengan tindakan pembelian.
Untuk melihat keberhasilan strategi pemasaran secara lebih menyeluruh, perusahaan perlu memperhatikan bagaimana respons konsumen setelah kampanye berjalan. Misalnya, apakah konsumen benar-benar membeli produk, apakah mereka melakukan pembelian ulang, apa pendapat mereka tentang produk, dan apakah citra brand semakin kuat.
Menariknya, setelah kolaborasi pertama, Kopi Kenangan kembali menghadirkan Purple Cloud Series Haechan x Kopi Kenangan pada September 2026. Seri ini terdiri dari berbagai minuman berbahan taro dan dijual mulai dari Rp19.000.
Bagi saya, hadirnya kolaborasi berikutnya menunjukkan bahwa kerjasama dengan Haechan tidak berakhir pada satu produk saja. Dari sudut pandang pemasaran, perusahaan dapat terus menggunakan karakter dan daya tarik kolaborasi untuk menghadirkan produk serta kampanye baru.
Namun, penting untuk diingat bahwa konsumen memiliki pertimbangan mereka sendiri. Tidak semua penggemar otomatis membeli, dan tidak semua konsumen Kopi Kenangan merupakan penggemar Haechan. Oleh karena itu, kualitas produk, harga, kemudahan dalam pembelian, promosi, dan pengalaman konsumen tetap menjadi bagian penting dalam keputusan pembelian.
Branding dan Media Sosial sebagai Bagian dari Aspek Pemasaran
Jika dikaitkan dengan studi kelayakan bisnis, kasus Kopi Kenangan x Haechan dapat dilihat melalui aspek pemasaran. . Salah satu perhatian utama dalam aspek ini adalah cara perusahaan memahami pelanggan dan bagaimana mereka mengenali konsumen dan menentukan strategi untuk menjangkau mereka.
Saya berpendapat, kerjasama antara Kopi Kenangan dan Haechan memperlihatkan bahwa pemasaran saat ini lebih dari sekadar menjual produk, tetapi juga berfokus pada menciptakan pengalaman dan hubungan dengan konsumen. Branding membantu membentuk persepsi produk, sementara platform media sosial memiliki peranan dalam menyebarluaskan informasi kepada konsumen secara lebih luas.
Kopi Kenangan sendiri mengungkapkan bahwa tim kreatif mereka bertanggung jawab atas komunikasi brand, packaging, dan media sosial. Ini semakin menunjukkan bahwa unsur visual dan komunikasi digital memang menjadi bagian dari strategi pemasaran perusahaan.
Pada akhirnya, keputusan untuk membeli tetap berada pada konsumen. Namun, cara sebuah brand membangun citra, memilih figur untuk berkolaborasi, merancang kampanye, dan menyampaikan informasi melalui media sosial dapat memicu pertimbangan konsumen terhadap suatu produk.
Saya percaya itulah yang membuat kolaborasi seperti Kopi Kenangan x Haechan menarik jika dilihat dari sudut pandang pemasaran. Yang ditawarkan bukan hanya sekadar segelas kopi, tetapi juga sebuah pengalaman yang menggabungkan produk, brand, figur publik, media sosial, dan emosi konsumen. Ketika semua unsur tersebut dapat berjalan bersama, sebuah produk yang awalnya biasa saja dapat berubah menjadi sesuatu yang ingin dicoba, dibahas, bahkan dikoleksi oleh konsumen.
Sumber:
https://datareportal.com/reports/digital-2026-indonesia
