Konten dari Pengguna

Indonesia dan Fenomena Fatherless: Seberapa Besar Masalahnya?

Ilustrasi: dibuat dengan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: dibuat dengan AI

Banyak anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah. Kadang karena perceraian atau kehilangan, kadang karena ayahnya ada di rumah tapi sibuk dan jarang terlibat. Kondisi ini dikenal dengan istilah fatherless. Di masa kecil, dampaknya mungkin belum terlihat jelas. Tapi ketika anak mulai remaja, saat mereka sedang mencari tahu siapa dirinya, kekosongan itu sering mulai terasa. Lalu, apa sebenarnya fatherless, dan apa dampak terbesarnya bagi anak yang beranjak remaja? Menurutku, ini layak dibahas lebih dalam.

Dampaknya Terasa ke Ibu Dulu

Ketika ayah tidak hadir, beban pengasuhan sering jatuh ke ibu. Ibu harus mengurus anak, rumah, bahkan mencari nafkah sekaligus. Bukan karena ibu tidak mampu, tapi karena beban itu seharusnya dipikul berdua. Ibu yang kelelahan dan sendirian pun punya energi yang lebih sedikit untuk mendampingi anak, dan di situlah dampaknya mulai merembet ke anak.

Dampaknya untuk Anak yang Mulai Remaja

Setelah ibu, anak adalah pihak berikutnya yang merasakan dampaknya. Masa remaja adalah fase ketika anak mulai membangun identitas, belajar mengelola emosi, dan menentukan arah hidupnya. Di fase inilah kehadiran ayah terasa paling penting. Beberapa penelitian di Indonesia mengaitkan kondisi fatherless dengan hal-hal berikut:

1. Harga Diri dan Pencarian Jati Diri

Remaja yang kurang merasakan kehadiran ayah bisa lebih rentan merasa kurang percaya diri dan bertanya-tanya tentang nilai dirinya. Mereka sedang butuh sosok yang meyakinkan bahwa mereka cukup berharga.

2. Emosi yang Sulit Dikelola

Masa remaja memang penuh gejolak. Tanpa teman bicara yang aman di rumah, perasaan marah, sedih, atau kesepian lebih mudah dipendam dan meledak di waktu yang tidak tepat.

3. Pergaulan dan Pencarian Penerimaan

Sebagian remaja mencari perhatian dan penerimaan di luar rumah. Kalau lingkungannya baik, itu bisa menjadi penguat. Kalau tidak, mereka lebih mudah terbawa pergaulan yang berisiko.

4. Semangat Belajar dan Arah Masa Depan

Kurangnya dukungan dan teladan di rumah bisa memengaruhi motivasi belajar. Remaja jadi lebih sulit fokus atau bingung menentukan cita-cita.

5. Cara Memandang Hubungan

Ayah sering menjadi "contoh pertama" soal hubungan dan rasa percaya. Tanpa itu, sebagian remaja kesulitan membangun hubungan yang sehat, baik dengan teman maupun pasangan kelak.

Lalu, Apa Dampak Terbesarnya Menurutku?

Menurutku, dampak terbesarnya ada pada harga diri dan pencarian jati diri. Dampak lain seperti pergaulan yang berisiko, emosi yang meledak, atau menurunnya semangat belajar sering berakar dari sini. Remaja yang tidak merasa cukup berharga di rumah akan mencari pengakuan di tempat lain, dan tidak semua tempat itu aman.

Ini pendapat pribadiku, bukan hukum pasti. Tidak semua remaja yang tumbuh tanpa ayah akan mengalaminya. Dukungan ibu, keluarga besar, guru, dan lingkungan yang hangat bisa menjadi penyeimbang yang kuat.

Semua bisa kita mulai dari Rumah

Menurutku, yang perlu kita ubah lebih dulu adalah budaya patriarki yang menganggap mengasuh anak hanya tugas ibu. Anggapan itu membuat banyak ayah merasa cukup dengan bekerja, lalu menyerahkan urusan anak sepenuhnya kepada ibu. Padahal mengasuh anak adalah kerja dua peran, ibu dan ayah.

Ayah perlu hadir untuk menasihati, memperhatikan, dan mendengarkan cerita anak, bukan sekadar mencari nafkah. Uang memang penting, tapi anak juga butuh ditemani. Anak butuh ayah yang hadir, bukan sekadar ada.