Sudahkah Kita Menerapkan Gaya Hidup Jalan Kaki?

Mahasiswi Unpad yang suka mengeksplor tempat-tempat hidden gem di setiap sudut kota
Tulisan dari Putri Kunaefi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang masih malas jika harus melakukan aktivitas sehari-hari dengan berjalan kaki? Kita sering menjumpai orang yang malas jalan kaki karena alasan lelah. Atau mungkin kita juga seperti mereka? Misalnya, hanya ke minimarket depan rumah yang jaraknya dekat, tetapi lebih memilih menggunakan sepeda motor daripada berjalan kaki. Padahal, banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan berjalan kaki.
Menurut artikel ilmiah dari Wahyuningsih (2015) menyatakan jalan kaki merupakan aktivitas yang dapat digolongkan ke dalam latihan aerobik yang paling sederhana dan aman yang bisa kita lakukan daripada aktivitas olahraga lain yang memiliki resiko besar. Jalan kaki membebani tubuh kita dengan benturan sebesar 1,25 kali bobot badan dibandingkan jogging yang dapat membebani sebesar 3 - 4,5 kali bobot badan. Jadi, sebenarnya olahraga dapat dengan mudah kita lakukan hanya dengan berjalan kaki.
Membiasakan hidup jalan kaki juga akan berdampak baik bagi tubuh. Tidak perlu lama dan menempuh jarak yang jauh untuk bisa memperoleh manfaat itu. Nyatanya, penelitian dari Duke University Medical Center menyatakan bahwa cukup berjalan kaki 30 menit saja dalam sehari akan dapat mengurangi metabolic syndrome atau penyebab tingginya risiko penyakit jantung, diabetes, dan stroke. Sehingga, jika kebiasaan ini dilakukan setiap hari maka manfaat yang diberikan juga akan lebih terasa konsisten.
Jalan Kaki sebagai Gaya Hidup ala Mahasiswa
Salah satu golongan orang yang sering melakukan aktivitas jalan kaki adalah mahasiswa. Universitas Padjadjaran menjadi salah satu kampus dengan banyaknya mahasiswa yang terlihat berjalan kaki di sekitarnya. Biasanya aktivitas ini terlihat di sekitar Gerbang Lama Unpad karena banyak dari mereka yang berjalan dari kos hingga ke Gerlam (Gerbang Lama) untuk selanjutnya naik Odong menuju fakultas.
John, merupakan salah satu mahasiswa program Wirausaha Merdeka yang berkesempatan belajar di Unpad. John mengatakan bahwa ia merasakan penyakit asmanya berkurang sejak ia menerapkan kebiasaan jalan kaki.
Tadinya aku gak biasa jalan kaki, tapi semenjak di sini karena lihat banyak mahasiswa yang jalan kaki jadi aku ikutan. Aku merasa asmaku jadi jarang kambuh, sih.” ujar John.
Bukan hanya soal kesehatan, biasanya mahasiswa juga memilih jalan kaki untuk berhemat agar tidak mengeluarkan ongkos sehingga uangnya bisa dialihkan kepada keperluan yang lain. Seperti yang diungkapkan oleh Nadine, mahasiswi FIB Unpad.
Soalnya kalau naik ojek terus gitu ya boros banget, jadi jalan aja deh biar lebih murah, terus aku juga gak punya kendaraan sih di sini.” kata Nadine.
Bahkan ada mahasiswa yang sengaja memilih kos dekat dengan fakultas agar dapat jalan kaki setiap hari.
Kalau aku emang maunya ngekos di sekitar Cikuda karena lebih dekat ke Fikom. Soalnya malas kalau harus war Odong dulu.” ujar Esti, mahasiswi Fikom.
Ngaleut (Walking Tour) di Bandung
Pernahkah kamu berpikir bahwa ada komunitas yang menjadikan jalan kaki sebagai aktivitas utama? Komunitas Aleut pada dasarnya adalah kumpulan dari orang-orang yang memiliki minat terhadap sejarah Kota Bandung. Komunitas ini telah berdiri sejak 2006 dan memiliki tagline “Ngaleut: Tjara Asjik Mengenal Bandoeng.”. Dalam Bahasa Sunda, “ngaleut” diartikan sebagai berjalan beriringan. Mereka akan bersama-sama berjalan beriringan untuk menyusuri situs atau jejak sejarah yang sebelumnya telah mereka baca di buku. Mereka ingin membuktikan keberadaan situs atau jejak sejarah tersebut dengan berjalan kaki menghampirinya secara langsung.
Walking tour merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan aktivitas yang dilakukan Komunitas Aleut. Namun, walking tour yang dilakukan Komunitas Aleut bukan hanya sekedar berjalan sambil berwisata tetapi lebih dari itu. Komunitas Aleut akan menyusuri situs bersejarah di Kota Bandung sambil mempelajari dan mengambil makna di dalamnya. Biasanya mereka akan eksplor untuk menemukan hal baru yang ternyata tidak tertulis di buku sejarah. Hal inilah yang menjadi keunikan Komunitas Aleut.
“Siapapun bisa bergabung dengan kami, tidak dipungut biaya alias gratis. Cukup daftar jika kami mengumumkan akan ada ngaleut dan wajib konfirmasi kedatangan. Jika tidak konfirmasi terpaksa kami blacklist tidak bisa ikut kegiatan selama tiga bulan karena menyia-nyiakan kuota yang kami berikan. Biasanya, dalam satu kali ngaleut akan terdiri dari satu kelompok yang beranggotakan 10-15 orang.” ujar Rani, salah satu Koordinator Komunitas Ngaleut.
Biasanya mereka akan ngaleut selama kurang lebih 2-3 jam dengan jarak sepanjang 3-4 km.
“Waktu dulu, kami bisa ngaleut sampai 8 hingga 9 km. Tetapi sekarang tidak lagi, hanya 3-4 km saja sudah cukup karena banyak pertimbangan.” kata Rani.
Rani mengungkapkan bahwa ada kegiatan lain yang dilakukan Komunitas Aleut selain ngaleut, yaitu momotoran, workshop, dan kelas literasi. Momotoran merupakan kegiatan yang konsepnya sama seperti ngaleut, bedanya momotoran akan menggunakan sepeda motor untuk menelusuri situs sejarah yang jaraknya lebih jauh. Sementara workshop dan kelas literasi dibuat sebagai bagian dari kerja sama kepada pemerintah atau swasta untuk mendalami sejarah-sejarah di Bandung.
