Learned Helplessnes, Ketika Mencoba Terasa Sia-sia

Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nabila Aurelia Putri H tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam menjalani kehidupan, kegagalan yang dialami seseorang terasa seperti membangun istana pasir yang terus tergerus ombak; tidak terduga, mengecewakan, bahkan dapat terjadi secara berulang. Seperti mendapat nilai jelek di ujian, ditolak ketika melamar kerja, atau diabaikan ketika menyampaikan pendapat. Jika hanya terjadi satu atau dua kali, manusia akan terus berusaha untuk mewujudkan apa yang diinginkan. Namun, ketika kegagalan terjadi berulang kali tanpa munculnya tanda datangnya keberhasilan, pemikiran bahwa tujuannya tidak akan tercapai akan muncul sehingga perlahan usaha yang dilakukan berkurang bahkan hingga sepenuhnya berhenti. Kondisi ini dapat menjadi gambaran bagaimana seseorang perlahan-lahan kehilangan keyakinan bahwa tindakannya dapat membawa perubahan.
Pada konteks psikologi, Maier dan Seligman menyebut kondisi ini dengan learned helplessness yaitu keadaan di mana seseorang merasa tidak berdaya setelah berulang kali mengalami kegagalan atau berada di situasi yang tidak bisa dikendalikan. Akibatnya, individu berhenti melakukan usaha tersebut walaupun masih ada kesempatan di mana usaha itu dapat berhasil. Jadi, bukan rasa malas yang membuat individu berhenti melakukan sebuah usaha, namun kegagalan serta situasi di luar kontrol yang ditemui berkali-kali.
Learned helplessness dapat ditemukan di situasi sehari-hari. Misalnya pada pencari kerja yang berulang kali gagal dan selalu menerima penolakan bahkan setelah mengikuti berbagai pelatihan dan memperbaiki CV berkali-kali. Pengalaman negatif yang dirasakan akibat usaha yang telah dikeluarkan tidak berujung pada hasil yang diinginkan membuat individu merasa bahwa apapun yang ia usahakan akan berujung pada kegagalan. Akibatnya, motivasi untuk belajar hal baru dan mencoba untuk mencari pekerjaan lain menurun dan bahkan berhenti sehingga peluang yang tersedia menjadi terlewat. Hal ini diakibatkan adanya generalisasi kegagalan bahwa seolah-olah kegagalan yang dirasakan pasti akan terjadi lagi.
Berulangnya kegagalan yang dirasakan individu dapat berdampak pada menurunnya motivasi, merasa tidak memiliki kendali, kesulitan melihat alternatif, menggeneralisasi kegagalan, serta menghindari tantangan. Individu akan semakin sulit menetapkan tujuan atau mengembangkan potensi diri ketika kehidupannya terasa tidak bisa dikendalikan. Contohnya berhenti belajar karena merasa nilainya tidak akan membaik, berhenti melamar kerja setelah berulang kali ditolak, menarik diri karena merasa tidak akan diterima orang lain, serta enggan belajar hal baru karena takut gagal.
Namun, tidak semua kegagalan akan berujung pada learned helplessness. Cara seseorang memaknai pengalaman, dukungan sosial yang dimiliki, serta kondisi lingkungan turut memengaruhi responsnya. Selain itu, sebagian hambatan memang berada di luar kendali individu dan tidak dapat diselesaikan hanya dengan berusaha lebih keras. Seseorang dapat menghadapi hambatan nyata, seperti keterbatasan ekonomi, ketidakadilan, atau lingkungan yang tidak suportif sehingga rasa tidak berdaya berkaitan dengan situasi yang memang sulit dikendalikan.
Karena itu, langkah awal yang dapat dilakukan untuk membangun kembali rasa kendali adalah dengan memisahkan kegagalan dari identitas diri bahwa gagal bukan berarti tidak kompeten. Setelah individu dapat memegang mindset bahwa dirinya bukan pribadi yang gagal, evaluasi strategi, menetapkan tujuan kecil yang realistis, serta menghargai kemajuan yang ada walaupun kecil dapat dilakukan untuk membangun kembali motivasi dalam berusaha mencapai apa yang diinginkan.
Banyak sekali hal yang berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan apalagi ketika menemui kegagalan. Namun, gagal bukan berarti keadaan tidak akan berubah. Satu kegagalan tidak mendefinisikan siapa diri kita dan tidak menentukan seluruh masa depan kita.
