Kenapa Banyak Anak Muda Gagal Menabung? Ini Peran Bank yang Sering Diabaikan

Mahasiswi Universitas Pamulang Prodi Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari putri octaviani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menabung sering dianggap hal sederhana, tapi bagi banyak anak muda di Indonesia, praktiknya justru terasa sulit. Padahal menurut survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK, 2022), indeks literasi keuangan nasional baru mencapai 49,68%, sementara indeks inklusi keuangan sudah tinggi di 85,10%. Artinya, masyarakat memang punya akses luas ke lembaga keuangan, tetapi belum memahami cara mengelola uang dengan benar.
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa akses ke bank saja tidak cukup. Tanpa pemahaman tentang pengelolaan keuangan, fasilitas digital banking, mobile banking, dan berbagai aplikasi keuangan yang modern hanya menjadi sarana konsumsi, bukan sarana produktif untuk membangun kebiasaan finansial yang sehat.
Budaya Konsumtif di Era Digital
Generasi Z tumbuh di tengah derasnya arus digitalisasi. Berbelanja online, promo harian, dan kemudahan transaksi membuat banyak dari mereka sulit menahan diri. Riset Cahyasari (2024) menunjukkan bahwa perilaku keuangan Gen Z di Indonesia masih rendah dibanding generasi milenial karena lemahnya literasi keuangan dan dominasi budaya konsumtif yang dipicu media sosial. Banyak anak muda yang lebih cepat menekan tombol “checkout” dibanding menekan tombol “transfer ke tabungan”.
Hal serupa diungkap oleh Alysa, Muthia, dan Andriana (2024) dari Universitas Sriwijaya, yang menemukan bahwa literasi keuangan digital memang meningkatkan perilaku menabung, tetapi juga bisa mendorong perilaku konsumtif jika tidak diimbangi pengendalian diri. Dalam penelitiannya terhadap mahasiswa Gen Z, sekitar 64% responden menggunakan aplikasi keuangan lebih sering untuk belanja daring dibanding menabung.
Kondisi ini diperparah dengan tren “buy now, pay later” yang kian populer di kalangan muda. Fasilitas ini dianggap praktis, tetapi sering kali membuat pengguna kehilangan kesadaran terhadap kemampuan finansialnya. Akibatnya, banyak anak muda terjebak pada siklus utang konsumtif yang membuat tujuan finansial jangka panjang, seperti menabung atau berinvestasi, tertunda.
Bank: Lebih dari Sekadar Tempat Menyimpan Uang
Banyak orang masih melihat bank hanya sebagai tempat menyimpan atau meminjam uang, padahal perannya jauh lebih besar. Bank memiliki fungsi edukatif yang strategis untuk membentuk perilaku finansial masyarakat. Salah satu contoh nyata datang dari BPRS Mitra Mentari Sejahtera di Ponorogo, yang aktif mengedukasi pelajar melalui program Tabungan SimPel iB (Simpanan Pelajar).
Dengan setoran awal hanya Rp5.000 dan sistem jemput bola menggunakan mobil layanan, program ini berhasil mempermudah akses keuangan bagi pelajar. Namun dari data BPS (2023), hanya 311 siswa dari lebih dari 177.000 pelajar di Ponorogo yang memiliki rekening SimPel. Angka ini menunjukkan bahwa meski bank sudah berupaya, kesadaran menabung di kalangan pelajar masih rendah.
Inovasi seperti ini seharusnya diperluas ke berbagai daerah dan digabungkan dengan kampanye literasi finansial yang menyasar sekolah, kampus, hingga komunitas anak muda. Karena tanpa dorongan edukasi yang berkelanjutan, fasilitas keuangan yang inklusif tidak akan menghasilkan perubahan perilaku yang nyata.
Pentingnya Literasi dan Inklusi Keuangan
Menurut Sufyati dan Lestari (2022), literasi dan inklusi keuangan berpengaruh positif terhadap perilaku keuangan generasi muda. Ketika anak muda memahami produk bank, mengenal risiko keuangan, dan bisa membedakan kebutuhan serta keinginan, mereka akan lebih disiplin mengelola uangnya.
Sementara Cahyasari (2024) menekankan bahwa perbaikan perilaku finansial tidak hanya bergantung pada aspek kognitif (pengetahuan), tetapi juga aspek afektif (sikap positif) dan konatif (dukungan lingkungan). Artinya, orang tua, lembaga pendidikan, dan bank perlu bekerja sama membentuk ekosistem keuangan yang mendidik dan suportif bagi generasi muda.
Sayangnya, peran edukatif bank masih sering diabaikan. Padahal, jika setiap bank menyediakan modul literasi sederhana dalam aplikasinya seperti fitur simulasi tabungan, laporan pengeluaran, atau tips finansial maka anak muda bisa belajar sambil bertransaksi.
Saatnya Bank Jadi “Guru Finansial”
Bank semestinya tidak hanya mengejar profit, tetapi juga berperan sebagai guru finansial masyarakat. Dengan membangun budaya edukasi, kolaborasi bersama sekolah, universitas, dan komunitas digital, perbankan bisa mencetak generasi yang tidak hanya melek teknologi, tapi juga melek finansial.
Sudah saatnya kampanye literasi keuangan tidak berhenti di seminar atau brosur. Anak muda butuh pendekatan kreatif yang relevan dengan dunia mereka: video pendek, fitur edukatif di aplikasi bank, atau program tabungan yang dikaitkan dengan hobi dan gaya hidup positif.
Kesimpulan
Banyak anak muda gagal menabung bukan karena tidak punya uang, tapi karena belum memiliki kebiasaan dan pengetahuan finansial yang tepat. Di sinilah bank memiliki peran strategis yang bukan hanya sebagai tempat menyimpan uang, tetapi tempat belajar tentang keuangan.
Jika lembaga keuangan mampu menjalankan fungsi edukatifnya dengan konsisten, generasi muda Indonesia akan tumbuh sebagai individu yang tidak hanya cerdas digital, tetapi juga tangguh finansial.
