Konten dari Pengguna

Mendidik atau Melukai? Batas Tipis dalam Ucapan Orang Tua

Putri Tiara Qolbiah

Putri Tiara Qolbiah

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Tiara Qolbiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar dibuat oleh penulis dibantu AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dibuat oleh penulis dibantu AI

Dalam proses tumbuh kembang anak, peran orang tua sebenarnya tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan fisik seperti makan, pakaian, atau pendidikan. Ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana orang tua membentuk kondisi emosional dan mental anak. Sayangnya, hal ini sering luput dari perhatian, terutama dalam hal cara berkomunikasi. Niat awal untuk mendidik kadang justru berubah menjadi ucapan yang tanpa sadar melukai. Di sinilah orang tua perlu lebih peka, karena batas antara mendidik dan menyakiti itu sangat tipis.

Masih banyak orang tua yang percaya bahwa kata-kata keras bisa membuat anak menjadi lebih kuat dan disiplin. Kalimat seperti “Kamu memang malas!” atau “Kenapa tidak bisa seperti kakakmu?” sering dianggap sebagai cara untuk memotivasi. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Anak bisa merasa tidak cukup baik, minder, bahkan mulai meragukan dirinya sendiri. Alih-alih termotivasi, mereka malah kehilangan kepercayaan diri.

Kalau dilihat dari sisi psikologis, anak memang berada pada fase yang sangat sensitif. Apa yang mereka dengar, terutama dari orang tua, akan mudah melekat dalam pikiran. Jika yang sering mereka terima adalah kritik dan perbandingan, lama-kelamaan itu bisa membentuk cara pandang negatif terhadap diri sendiri. Tidak sedikit anak yang akhirnya tumbuh dengan rasa rendah diri, mudah cemas, dan kesulitan membangun hubungan sosial saat dewasa.

Meski begitu, bukan berarti orang tua tidak boleh menegur. Anak tetap butuh arahan dan batasan yang jelas. Hanya saja, cara menyampaikannya perlu diperhatikan. Teguran yang baik seharusnya fokus pada perilaku, bukan menyerang pribadi anak. Misalnya, daripada mengatakan “Kamu ceroboh!”, akan lebih baik jika diubah menjadi “Tadi kamu kurang hati-hati, lain kali coba lebih teliti, ya.” Pesannya tetap sampai, tetapi tidak menjatuhkan.

Selain itu, penting juga untuk diingat bahwa setiap anak itu berbeda. Mereka punya kemampuan, minat, dan kecepatan belajar masing-masing. Membandingkan anak dengan saudara atau teman sebaya hanya akan membuat mereka merasa tertekan. Sebaliknya, orang tua sebaiknya mulai menghargai setiap usaha yang dilakukan anak, sekecil apa pun itu. Bentuk apresiasi sederhana bisa membuat anak merasa dihargai dan lebih percaya diri.

Komunikasi yang baik juga bukan hanya soal berbicara, tetapi juga tentang mendengarkan. Sering kali orang tua terlalu cepat memberi nasihat tanpa benar-benar memahami apa yang dirasakan anak. Padahal, dengan mendengarkan secara aktif, hubungan bisa menjadi lebih dekat. Anak juga akan merasa lebih nyaman untuk bercerita, tanpa takut dihakimi atau disalahkan.

Di zaman sekarang, tantangan orang tua semakin besar. Anak tidak hanya belajar dari rumah, tetapi juga dari media sosial dan lingkungan pergaulan. Karena itu, peran orang tua sebagai tempat pulang dan sumber dukungan emosional menjadi sangat penting. Kata-kata yang positif dan penuh empati bisa menjadi pelindung bagi anak saat menghadapi tekanan dari luar.

Orang tua memang tidak harus selalu benar atau sempurna. Wajar jika sesekali melakukan kesalahan dalam berbicara. Namun, yang terpenting adalah mau belajar dan memperbaiki diri. Bahkan, meminta maaf kepada anak ketika salah justru bisa menjadi contoh yang baik. Anak akan belajar bahwa mengakui kesalahan adalah hal yang wajar dan tidak memalukan.

Pada akhirnya, mendidik anak bukan hanya soal membentuk perilaku yang baik, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan ketahanan mental. Kata-kata orang tua punya pengaruh yang sangat besar. Bisa menjadi kekuatan, tetapi juga bisa menjadi luka. Karena itu, penting untuk lebih berhati-hati dalam memilih kata.

Memang tidak mudah menjaga cara berbicara setiap saat. Namun, dengan kesadaran, empati, dan kemauan untuk terus belajar, orang tua bisa menciptakan lingkungan yang lebih hangat dan mendukung. Lingkungan seperti inilah yang akan membantu anak tumbuh dengan sehat, baik secara fisik maupun emosional.