Konten dari Pengguna

Sambil Mengandung Harapan, Perjalanan Seorang Perempuan Menuju Pengabdian

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Saleh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perempuan. Foto: GBJSTOCK/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan. Foto: GBJSTOCK/Shutterstock

Langkahnya tidak lagi secepat beberapa bulan lalu. Satu tangannya membawa tas kerja, sementara tangan lainnya sesekali menyentuh perut yang mulai membesar. Di dalam sana ada kehidupan kecil yang belum pernah ia lihat wajahnya, tetapi sudah mengubah banyak hal dalam hidupnya. Ia tetap datang seperti biasa, mengenakan pakaian dinas, menyapa rekan kerja, menyalakan komputer, lalu mulai membuka berkas-berkas yang menunggu diselesaikan. Tidak ada yang berubah hanya karena ia sedang hamil. Rapat tetap berjalan, pekerjaan tetap datang, dan sebagai ASN ia tetap memiliki tanggung jawab yang harus ditunaikan.

Hanya tubuhnya yang perlahan mengajarinya bahwa manusia memiliki batas. Pada awalnya ia berusaha menjalani semuanya seperti biasa. Ia tidak ingin kehamilannya menjadi alasan bagi orang lain untuk meragukan kemampuannya. Ia takut dianggap tidak produktif, takut dianggap terlalu banyak meminta kelonggaran, bahkan takut jika suatu hari kondisinya menjadi bahan pembicaraan. Sebab dunia kerja tidak selalu memiliki wajah yang sama. Ada lingkungan yang hangat, ada rekan yang dengan tulus membantu, ada pimpinan yang bertanya apakah ia baik-baik saja. Tetapi ada pula lingkungan yang membuat seseorang merasa harus terus membuktikan bahwa dirinya kuat.

(Sumber Foto : https://chatgpt.com/c/6a9ed1af-a560-83ec-a4ab-c57b36d73b99 )

Sejak saat itu, perlahan ia mulai mengubah cara bekerja. Ia belajar menyusun prioritas, mengomunikasikan kondisi kepada pimpinan, membagi pekerjaan yang memang bisa dikoordinasikan, dan beristirahat ketika tubuhnya membutuhkan. Ia tetap menyelesaikan tanggung jawabnya, tetapi tidak lagi merasa harus membuktikan profesionalismenya dengan mengorbankan kesehatan. Ia mulai memahami bahwa profesional bukan berarti memaksakan diri sampai batas terakhir. Profesional adalah mengetahui tanggung jawab, menjalankannya dengan baik, dan mampu mengelola kondisi diri secara bijaksana.

(Sumber Foto : https://www.gettyimages.com/ )

Namun dunia kerja tidak serta-merta berubah menjadi sempurna. Masih ada komentar yang menyakitkan, masih ada orang yang tidak memahami, masih ada hari ketika ia merasa ingin menangis sendirian di toilet kantor agar tidak terlihat siapa-siapa. Tetapi ia belajar bahwa tidak semua lingkungan dapat dikendalikan dan tidak semua perkataan harus dibalas. Ia mulai menjaga batas, tidak ikut memperbesar gosip, tetap bekerja dengan baik, dan mencari orang-orang yang mampu menjadi ruang aman. Ia juga belajar bahwa lingkungan kerja yang sehat tidak berarti semua orang harus selalu sepakat. Lingkungan yang sehat adalah tempat di mana perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling menjatuhkan, tempat seorang ASN dapat menyampaikan kebutuhannya tanpa dipermalukan, dan tempat seorang perempuan hamil tetap dipercaya menjalankan tugas tanpa harus mengabaikan kondisi tubuhnya.

(Sumber Foto : https://id.pinterest.com/pin/171981279494063891/sent/?invite_code=0bb538c9dbc34b9bb210668a4d81d089&sender=989525486784741574&sfo=1 )

Dukungan pun tidak harus selalu berupa perlakuan khusus. Kadang cukup dengan bertanya, “Apa yang bisa kami bantu?” Kadang cukup dengan mengatakan, “Kalau lelah, istirahat dulu.” Dan kadang cukup dengan memberikan ruang agar seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya tanpa merasa harus berjuang sendirian. Dari sana ia memahami bahwa pengabdian tidak seharusnya diukur dari seberapa banyak seseorang mampu mengorbankan dirinya. ASN bukan mesin yang hanya dinilai dari seberapa banyak pekerjaan selesai. Di balik seragam, jabatan, target, dan aturan, ada manusia yang bisa lelah, memiliki keluarga, memiliki persoalan, dan pada suatu fase kehidupan mungkin sedang mengandung kehidupan lain.

Beberapa bulan kemudian, hari persalinan tiba. Setelah sekian lama membawa kehidupan kecil itu ke kantor, ke dalam rapat, di tengah perjalanan pulang dengan macet dan panas sore disepeda motor, dan melewati hari-hari penuh lelah, akhirnya ia bertemu dengan anaknya. Tangisan pertama bayi itu memenuhi ruangan, dan ia menangis bersamanya. Bukan karena perjalanan sebelumnya mudah, tetapi karena akhirnya ia memahami bahwa selama ini ia tidak benar-benar berjalan sendirian. Ketika kelak anak itu tumbuh besar dan bertanya, “Waktu hamil aku dulu, Ibu tetap bekerja?” ia mungkin akan tersenyum dan menjawab, “Iya, Nak.” “Capek?” “Iya, capek.” Lalu ia akan berkata bahwa dari masa itulah ia belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh pekerjaan, bahwa menjalankan amanah tidak berarti harus menyakiti diri sendiri. Menjadi ASN bukan berarti berhenti menjadi manusia. Menjadi ibu bukan berarti harus berhenti berkarya. Dan menjadi perempuan yang kuat bukan berarti tidak boleh Lelah. Itulah harapan yang sebenarnya ingin dibawa dari kisah ini. Kita tidak harus menciptakan dunia kerja yang sempurna, tetapi kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih manusiawi.

(Sumber Foto : Gemini_Generated_Image_f50qtlf50qtlf50q)

Pimpinan dapat membuka ruang komunikasi, rekan kerja dapat membangun budaya saling membantu, dan perempuan tetap berani menyampaikan kebutuhannya tanpa takut dianggap lemah. Karena pada akhirnya, di balik seorang ASN perempuan yang sedang hamil, ada dua amanah yang sedang ia jaga, pertama ada pekerjaan yang dipercayakan kepadanya serta kehidupan kecil yang tumbuh di dalam dirinya. Keduanya sama-sama berharga. Dan mungkin, ketika ia terus berjalan dengan langkah yang lebih pelan, lebih hati-hati, tetapi tetap teguh, sesungguhnya ia bukan sedang mengurangi pengabdiannya. Ia sedang menemukan bentuk pengabdian yang lebih manusiawi. Sebab perempuan itu tidak hanya sedang mengandung seorang anak. Ia juga sedang mengandung harapan. Harapan tentang keluarga yang lebih baik, tempat kerja yang lebih empatik, dan masa depan di mana perempuan tidak harus memilih antara menjadi ibu, menjadi ASN, dan tetap menjadi dirinya sendiri.

Sambil mengandung harapan, ia terus berjalan—tidak selalu kuat, tidak selalu mudah, tetapi selalu berusaha memberikan yang terbaik tanpa kehilangan dirinya sendiri.