Konten dari Pengguna

Bukan Sekadar Lagu tentang Jogja, “Sesuatu di Jogja” Mengajarkan Kita tentang Cara Berkomunikasi

Puty Taufany

Puty Taufany

Mahasiswa Universitas Pamulang Ilmu Komunikasi S1

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Puty Taufany tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Ketika sebuah kota mampu menyampaikan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, musik menjadi lebih dari sekadar hiburan.

Pernahkah kita mendengarkan sebuah lagu, lalu tiba-tiba teringat pada seseorang, sebuah percakapan, atau tempat yang menyimpan kenangan tertentu? Menariknya, lagu yang sama bisa memiliki arti berbeda bagi setiap orang. Bagi sebagian orang, lagu mungkin hanya rangkaian nada dan lirik. Namun, bagi orang lain, lagu bisa menjadi penghubung antara perasaan, ingatan, dan pengalaman yang sulit dijelaskan secara langsung.

Fenomena tersebut dapat ditemukan dalam lagu Sesuatu di Jogja karya Adhitia Sofyan. Dirilis pada 2017 sebagai bagian dari mini album 8 Tahun, lagu ini menggambarkan daya tarik Yogyakarta dari sudut pandang seseorang yang datang berkunjung, bukan sebagai penduduk yang menetap di kota tersebut. Adhitia sendiri pernah menggambarkan Jogja sebagai tempat yang memiliki pesona tersendiri, bahkan mampu membuat suasana terasa lebih romantis dan melankolis.

Namun, jika didengarkan melalui perspektif ilmu komunikasi, lagu ini menyimpan pembahasan yang lebih luas daripada sekadar romantisme terhadap sebuah kota. Sesuatu di Jogja dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana manusia menyampaikan perasaan, membangun makna, dan menggunakan simbol untuk mengomunikasikan sesuatu yang tidak selalu bisa dijelaskan secara langsung.

Musik sebagai Media Komunikasi Emosional

Komunikasi tidak selalu berlangsung melalui percakapan tatap muka. Manusia juga menyampaikan pesan melalui tulisan, gambar, gestur, musik, bahkan pilihan tempat yang mengingatkan mereka pada seseorang.

Dalam konteks ini, lagu Sesuatu di Jogja dapat dipahami sebagai media komunikasi emosional. Melalui perpaduan lirik dan melodi, Adhitia Sofyan menyampaikan pengalaman subjektifnya tentang sebuah kota yang memiliki daya tarik khusus. Pengalaman tersebut kemudian dikomunikasikan kepada pendengar, yang bebas menafsirkan pesan berdasarkan pengalaman hidup masing-masing.

Sebagai contoh, seseorang mungkin mendengarkan lagu ini dan mengingat perjalanan bersama pasangan di Yogyakarta. Orang lain justru teringat pada teman-teman semasa kuliah, masa merantau, atau pengalaman meninggalkan tempat yang pernah terasa seperti rumah.

Hal yang menarik adalah pendengar tidak harus memiliki pengalaman yang sama dengan pencipta lagu untuk dapat memahami emosinya. Mereka cukup menemukan bagian dari pengalaman pribadi yang terasa relevan dengan pesan yang disampaikan.

Di sinilah musik menunjukkan perannya sebagai media komunikasi: pesan yang disampaikan oleh komunikator dapat memperoleh makna baru ketika diterima dan ditafsirkan oleh komunikan. Makna tersebut tidak selalu identik dengan maksud awal penciptanya, tetapi tetap dapat menciptakan hubungan emosional antara karya dan pendengarnya.

Ketika Sebuah Kota Menjadi Simbol Perasaan

Dalam komunikasi, simbol membantu manusia merepresentasikan sesuatu yang lebih luas daripada bentuk fisiknya. Sebuah benda, tempat, atau peristiwa dapat memiliki makna tertentu karena pengalaman dan kesepakatan sosial yang melekat padanya.

Yogyakarta dalam Sesuatu di Jogja dapat dibaca melalui perspektif tersebut. Kota ini bukan hanya latar geografis, melainkan juga simbol yang berkaitan dengan kerinduan, romantisme, perjalanan, dan keinginan untuk kembali.

Bagi seseorang yang pernah mengalami kisah cinta di Jogja, misalnya, Malioboro, stasiun, atau sudut kota tertentu mungkin tidak lagi dipahami sebagai tempat biasa. Tempat tersebut menjadi pengingat akan percakapan, kebersamaan, atau seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa makna sebuah tempat tidak hanya terbentuk dari karakteristik fisiknya, tetapi juga dari pengalaman manusia yang berinteraksi dengannya. Penelitian mengenai representasi Yogyakarta dalam lagu, termasuk Sesuatu di Jogja, juga menunjukkan bahwa kota dapat direpresentasikan sebagai simbol emosional dan budaya yang berkaitan dengan kenangan serta daya tariknya.

Dengan demikian, ketika seseorang mengatakan bahwa ada sesuatu yang membuatnya ingin kembali ke Jogja, yang dirindukan belum tentu hanya kotanya. Bisa jadi, ia sedang merindukan versi dirinya pada masa lalu, hubungan yang pernah dimiliki, atau perasaan yang muncul ketika berada di sana.

Kota menjadi semacam bahasa alternatif untuk mengungkapkan perasaan. Seseorang tidak harus secara langsung mengatakan bahwa dirinya sedang merindukan seseorang. Ia mungkin cukup memutar lagu ini, membagikannya di media sosial, atau mengajak orang lain kembali ke tempat yang pernah mereka kunjungi bersama.

Komunikasi Interpersonal: Pesan yang Tidak Selalu Diucapkan

Hubungan antara lagu ini dan komunikasi juga dapat dilihat melalui komunikasi interpersonal, yaitu proses pertukaran pesan antara individu yang memungkinkan mereka membangun pemahaman, menyampaikan perasaan, dan memelihara hubungan.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua orang mudah mengungkapkan perasaan secara langsung. Ada yang kesulitan mengatakan rindu, ada yang memilih diam ketika merasa kehilangan, dan ada pula yang lebih nyaman menyampaikan emosinya melalui lagu.

Dalam Sesuatu di Jogja, gambaran mengenai komunikasi yang terputus dan keinginan untuk kembali membuka hubungan dapat dibaca melalui narasi yang dibangun dalam liriknya. Jarak, minimnya kabar, dan keinginan untuk mendengarkan cerita seseorang menghadirkan persoalan yang dekat dengan pengalaman komunikasi dalam hubungan antarmanusia.

Situasi tersebut relevan dengan kehidupan masa kini. Meskipun teknologi memungkinkan pesan dikirim dalam hitungan detik, kemudahan komunikasi tidak selalu menjamin kedekatan emosional. Seseorang dapat terus terhubung melalui media sosial, tetapi tetap merasa jauh karena tidak ada percakapan yang mendalam atau keterbukaan mengenai perasaan masing-masing.

Lagu ini dapat mengingatkan kita bahwa komunikasi bukan hanya persoalan seberapa sering seseorang mengirim pesan, melainkan juga bagaimana pesan tersebut menciptakan pemahaman dan kedekatan.

Namun, lagu tidak dapat menggantikan komunikasi langsung dalam menyelesaikan persoalan hubungan. Membagikan lagu bernuansa rindu mungkin menjadi isyarat awal, tetapi belum tentu membuat orang yang menerimanya memahami maksud pengirim. Tanpa konteks yang jelas, pesan yang sama dapat ditafsirkan secara berbeda.

Karena itu, komunikasi yang efektif tetap membutuhkan keterbukaan, kesediaan mendengarkan, dan keberanian untuk mengklarifikasi makna. Musik dapat membuka pintu percakapan, tetapi manusia tetap perlu melanjutkan percakapan tersebut.

Mengapa Satu Lagu Bisa Memiliki Arti Berbeda bagi Setiap Orang?

Perbedaan penafsiran terhadap Sesuatu di Jogja juga dapat dijelaskan melalui perspektif komunikasi sebagai proses pembentukan makna.

Ketika mendengarkan lagu, pendengar tidak menerima pesan secara pasif. Mereka membawa pengalaman, ingatan, harapan, dan kondisi emosional masing-masing. Faktor-faktor tersebut memengaruhi bagaimana sebuah pesan dipahami.

Seseorang yang baru saja berpisah mungkin menangkap lagu ini sebagai ungkapan kehilangan. Seorang mahasiswa yang pernah merantau di Yogyakarta mungkin memaknainya sebagai kerinduan terhadap masa kuliah. Sementara itu, wisatawan yang tidak memiliki kenangan personal di sana bisa melihatnya sebagai gambaran tentang pesona sebuah kota.

Tidak ada alasan untuk menganggap seluruh penafsiran tersebut harus sama. Selama didasarkan pada pengalaman dan unsur yang relevan, perbedaan pemaknaan justru menunjukkan bahwa komunikasi melibatkan proses interpretasi.

Hal ini juga menjelaskan mengapa lagu tertentu dapat menjadi populer di kalangan masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda. Lagu tersebut menyediakan ruang bagi pendengar untuk memasukkan pengalaman mereka sendiri ke dalam pesan yang disampaikan.

Dengan kata lain, lagu tidak hanya membawa cerita penciptanya, tetapi juga membuka kemungkinan bagi pendengar untuk menceritakan kembali pengalaman mereka melalui karya yang sama.

Dari Pengalaman Personal Menjadi Makna Kolektif

Ketika sebuah lagu dibagikan melalui media sosial, maknanya dapat berkembang melampaui pengalaman pribadi penciptanya maupun pendengarnya. Lagu yang awalnya lahir dari pengalaman subjektif dapat menjadi bagian dari pengalaman kolektif masyarakat.

Popularitas Sesuatu di Jogja memperlihatkan bagaimana sebuah karya musik dapat melekat pada citra suatu kota. Bahkan, pada 2024, Adhitia Sofyan merilis versi aransemen baru lagu tersebut melalui kolaborasi dengan Bakpia Kukus Tugu Jogja. Kolaborasi ini turut memperlihatkan hubungan antara musik, identitas tempat, dan upaya membangun citra Yogyakarta.

Dalam perspektif komunikasi, fenomena tersebut menarik karena pesan mengenai sebuah tempat dapat diperkuat melalui media budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Musik menjadi salah satu sarana yang membantu sebuah kota memperoleh asosiasi emosional di benak pendengarnya.

Namun, penting untuk membedakan pengalaman personal dengan makna kolektif. Tidak semua orang akan menghubungkan Yogyakarta dengan romantisme atau kerinduan. Makna sebuah kota tetap dipengaruhi oleh latar belakang sosial, pengalaman, serta hubungan personal setiap individu dengannya.

Meski demikian, ketika banyak orang mulai menghubungkan lagu yang sama dengan pengalaman mereka di sebuah kota, terbentuklah ruang makna bersama. Lagu tersebut menjadi semacam penanda yang memungkinkan orang-orang dengan pengalaman berbeda saling memahami melalui referensi budaya yang sama.

Pada Akhirnya, Komunikasi Adalah Tentang Makna

Sesuatu di Jogja mengingatkan kita bahwa komunikasi tidak selalu harus hadir dalam bentuk kalimat yang lugas. Perasaan dapat disampaikan melalui musik, tempat, kenangan, dan simbol-simbol sederhana yang memiliki arti khusus bagi seseorang.

Dari perspektif ilmu komunikasi, lagu ini dapat dipahami sebagai media penyampaian emosi, sarana pembentukan makna, sekaligus pengingat bahwa hubungan antarmanusia tidak hanya dibangun melalui kehadiran fisik, tetapi juga melalui kemampuan untuk saling memahami.

Meski begitu, romantisme yang muncul dalam sebuah lagu tidak selalu menggambarkan keseluruhan realitas hubungan manusia. Kerinduan tidak otomatis berarti seseorang ingin kembali, sebagaimana keinginan mengunjungi sebuah kota tidak selalu berarti ingin mengulang masa lalu. Makna tetap bergantung pada konteks dan pengalaman individu.

Mungkin itulah alasan sebuah lagu bisa terasa begitu dekat meskipun kita tidak pernah mengenal penciptanya secara pribadi. Kita menemukan sebagian pengalaman kita sendiri di dalamnya.

Pada akhirnya, mungkin bukan hanya Jogja yang membuat seseorang ingin kembali. Bisa jadi, ada percakapan yang belum selesai, perasaan yang belum sempat disampaikan, atau kenangan yang masih ingin dipahami. Dan ketika kata-kata terasa tidak cukup, terkadang sebuah lagu menjadi cara pertama untuk memulai komunikasi kembali.