TBM Kolong Ciputat: Ketika Semangat Relawan Harus Berhadapan dengan Masalah Dana

Mahasiswa Universitas Pamulang Ilmu Komunikasi S1
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Puty Taufany tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah hiruk-pikuk Flyover Ciputat, ada sebuah ruang belajar yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Di bawah jalan layang yang dipenuhi kendaraan, anak-anak bisa membaca buku, belajar bersama, menggambar, dan mengikuti berbagai kegiatan kreatif. Tempat itu bernama Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kolong Ciputat.
Di tempat yang mungkin hanya dilewati banyak orang setiap hari, ada komunitas yang berusaha memberikan kesempatan belajar bagi anak-anak dan masyarakat sekitar. Mereka tidak membangun sekolah mewah, tidak menawarkan fasilitas serba lengkap, dan tidak memungut biaya untuk mengikuti kegiatan. Mereka berusaha membuat belajar menjadi sesuatu yang bisa diakses oleh siapa saja.
Namun, di balik kegiatan yang terlihat sederhana tersebut, ada pertanyaan yang perlu kita pikirkan bersama: bagaimana sebuah komunitas dapat terus bertahan ketika sumber daya dan pendanaannya terbatas?
Dari Kolong Flyover Menjadi Ruang Belajar
TBM Kolong Ciputat didirikan pada 2016 melalui inisiatif mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berkolaborasi dengan kelompok pemuda Oi Tangsel. Berawal dari fasilitas sederhana, tempat ini berkembang menjadi ruang belajar masyarakat yang terbuka bagi anak-anak dan warga sekitar.
Kehadirannya memperlihatkan bahwa ruang pendidikan tidak harus selalu berada di dalam gedung sekolah. Belajar juga dapat berlangsung di ruang publik, melalui interaksi sosial, kegiatan kreatif, dan pendampingan yang dilakukan bersama masyarakat.
Kegiatan TBM Kolong pun tidak terbatas pada membaca buku. Komunitas ini menyelenggarakan beragam aktivitas, mulai dari pendampingan membaca, menulis, dan berhitung hingga kegiatan seni, eksperimen, edukasi lingkungan, serta olahraga. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak memperoleh kesempatan untuk belajar sekaligus mengembangkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan kemampuan bersosialisasi.
Bagi sebagian anak, keberadaan ruang belajar seperti ini dapat menjadi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman pendidikan tambahan di luar sekolah. Mereka tidak hanya berhadapan dengan buku, tetapi juga bertemu relawan, mengikuti kegiatan bersama, dan mencoba hal-hal baru.
Menurut saya, hal yang paling menarik dari TBM Kolong bukan semata-mata keberadaan buku-bukunya, melainkan bagaimana komunitas ini berusaha menghadirkan kesempatan belajar di tengah kehidupan masyarakat perkotaan yang tidak selalu memberikan akses pendidikan tambahan secara merata.
Namun, keberhasilan sebuah komunitas dalam menciptakan ruang belajar tidak otomatis menjamin bahwa kegiatan tersebut dapat berlangsung selamanya.
Ketika Semangat Baik Tidak Selalu Cukup
Dalam pemberitaan ABC Indonesia pada 22 Mei 2026, pengelola TBM Kolong menyampaikan bahwa komunitas tersebut tidak memiliki dana kas tetap. Sebagian besar kegiatannya dijalankan secara sukarela, sementara dukungan terhadap program yang mereka jalankan semakin terbatas.
Kondisi ini memperlihatkan persoalan yang lebih luas dalam keberlangsungan komunitas sosial. Sebuah kegiatan mungkin memiliki tujuan yang baik, mendapatkan respons positif dari masyarakat, dan memberikan manfaat bagi anak-anak. Namun, semua itu tetap membutuhkan sumber daya agar dapat terus berjalan.
Buku perlu dirawat dan diperbarui. Perlengkapan belajar perlu tersedia. Kegiatan membutuhkan persiapan, dan para relawan membutuhkan dukungan agar dapat menjalankan tugasnya secara berkelanjutan. Bahkan ketika tenaga yang diberikan bersifat sukarela, pelaksanaan program tetap memiliki kebutuhan operasional.
Di sinilah persoalan pendanaan menjadi penting. Ketika sebuah komunitas tidak memiliki sumber pemasukan yang stabil, keberlangsungan program dapat menjadi sangat bergantung pada donasi, dukungan sesekali, dan kesediaan relawan untuk terus meluangkan waktu.
Menurut saya, kita perlu berhenti menganggap bahwa semangat sosial saja sudah cukup untuk menyelesaikan semua persoalan. Semangat memang dapat menjadi alasan seseorang memulai sebuah gerakan, tetapi keberlanjutan membutuhkan sistem pendukung yang jelas.
Kita sering memuji orang-orang yang bersedia mengajar secara sukarela atau mendirikan ruang belajar bagi masyarakat. Pujian tersebut tentu tidak salah. Namun, apresiasi akan lebih bermakna apabila diikuti dengan dukungan yang memungkinkan mereka terus bekerja.
Jangan sampai komunitas yang memberikan manfaat bagi masyarakat justru harus menghabiskan sebagian besar energinya untuk mencari sumber daya agar bisa tetap bertahan.
Pendidikan Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Kebaikan Hati
Menurut saya, persoalan TBM Kolong seharusnya tidak dilihat sebagai tanggung jawab komunitas itu sendiri. Keberadaannya juga mengajak kita mempertanyakan bagaimana dukungan terhadap ruang belajar berbasis masyarakat dapat dibangun secara lebih berkelanjutan.
Pemerintah memiliki peran penting dalam memperluas akses pendidikan dan mendukung inisiatif masyarakat. Dukungan tersebut tidak harus selalu berbentuk pembangunan gedung atau bantuan dalam jumlah besar. Pemerintah daerah dapat membuka akses terhadap program hibah yang sesuai, memberikan bantuan perlengkapan belajar, memfasilitasi kolaborasi dengan sekolah dan perguruan tinggi, serta membantu komunitas mengakses program pemberdayaan yang tersedia.
Di sisi lain, perusahaan juga dapat berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial yang dirancang berdasarkan kebutuhan nyata komunitas. Bantuan tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial atau pemberian barang sesaat. Dukungan yang lebih terencana dapat mencakup pembiayaan program secara berkala, penyediaan perlengkapan pendidikan, serta evaluasi bersama mengenai manfaat kegiatan yang dijalankan.
Masyarakat pun memiliki peran. Seseorang tidak harus menyumbangkan uang dalam jumlah besar untuk membantu sebuah komunitas. Menyumbangkan buku yang masih layak, menjadi relawan sesuai kemampuan, membantu menyebarkan informasi kegiatan, atau menghubungkan komunitas dengan calon mitra juga dapat memberikan manfaat.
Namun, perlu diingat bahwa bantuan yang berkelanjutan membutuhkan keterbukaan dan tata kelola yang baik. Komunitas perlu memiliki informasi yang jelas mengenai kebutuhan, penggunaan bantuan, dan program yang ingin dikembangkan. Dengan begitu, calon donatur dan mitra dapat memahami kontribusi yang dibutuhkan serta dampak yang ingin dicapai.
Menurut saya, solusi terbaik bukan membuat komunitas terus bergantung pada donasi, melainkan membangun ekosistem dukungan yang melibatkan pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan, dan sektor swasta.
Generasi Muda Bisa Membantu Lebih dari Sekadar Membagikan Unggahan
Sebagai generasi yang hidup berdampingan dengan media sosial, kita memiliki kesempatan untuk memperkenalkan komunitas seperti TBM Kolong kepada khalayak yang lebih luas. Cerita tentang kegiatan belajar anak-anak, keseharian relawan, dan kebutuhan fasilitas dapat disampaikan melalui konten yang menarik sekaligus informatif.
Akan tetapi, promosi digital tidak boleh berhenti pada upaya membuat sebuah komunitas terlihat menarik. Media sosial juga dapat digunakan untuk menyampaikan kebutuhan secara transparan, mengumumkan program sukarelawan, membangun jaringan dengan komunitas lain, dan menghubungkan pengelola dengan calon mitra.
Mahasiswa, misalnya, dapat berkolaborasi melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berlangsung satu kali. Mahasiswa ilmu komunikasi dapat membantu menyusun strategi komunikasi dan publikasi, mahasiswa pendidikan dapat mendukung kegiatan belajar, sedangkan mahasiswa bidang lain dapat berkontribusi sesuai keahlian masing-masing.
Kolaborasi seperti ini berpotensi memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Komunitas memperoleh dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya, sementara mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan secara langsung di masyarakat.
Namun, keterlibatan generasi muda juga perlu dilakukan secara konsisten. Mengadakan satu kegiatan sosial mungkin dapat memberikan pengalaman berharga, tetapi membangun hubungan yang berkelanjutan akan jauh lebih bermanfaat bagi komunitas yang membutuhkan dukungan jangka panjang.
Bagi saya, inilah salah satu bentuk kepedulian yang perlu diperkuat: bukan sekadar merasa tersentuh ketika melihat perjuangan orang lain, melainkan mencari tahu apa yang benar-benar dibutuhkan dan bagaimana kita dapat membantu secara realistis.
Jangan Biarkan Ruang Belajar Bertahan Sendirian
Pada akhirnya, TBM Kolong Ciputat mengingatkan kita bahwa akses pendidikan dapat tumbuh dari inisiatif masyarakat. Sebuah ruang sederhana di bawah flyover dapat menjadi tempat anak-anak belajar, bereksplorasi, dan mengembangkan potensi mereka.
Namun, keberadaan ruang belajar seperti ini tidak seharusnya bergantung sepenuhnya pada pengorbanan relawan. Jika masyarakat menganggap pendidikan sebagai kebutuhan bersama, dukungan terhadap komunitas yang memperluas kesempatan belajar juga perlu menjadi tanggung jawab bersama.
Menurut saya, pemerintah perlu membangun mekanisme dukungan yang lebih mudah diakses oleh komunitas, perusahaan perlu menjalankan kontribusi sosial yang berkelanjutan, dan masyarakat perlu terlibat sesuai kemampuan masing-masing. Pada saat yang sama, komunitas juga perlu didukung dalam membangun tata kelola yang transparan agar kepercayaan publik dapat terus tumbuh.
Kita tidak bisa hanya berharap relawan selalu memiliki waktu, donatur selalu datang, atau kegiatan sosial selalu mendapatkan perhatian publik. Keberlanjutan membutuhkan lebih dari sekadar niat baik. Ia membutuhkan kerja sama, perencanaan, dan komitmen yang berlangsung dalam jangka panjang.
Sebab, ketika sebuah komunitas berusaha membuka akses belajar bagi anak-anak, yang sedang mereka bangun bukan hanya kegiatan membaca atau ruang berkumpul. Mereka juga sedang membantu menciptakan kesempatan bagi generasi berikutnya untuk tumbuh dan berkembang.
Jangan sampai kita hanya bangga melihat komunitas seperti TBM Kolong mampu bertahan selama bertahun-tahun, tanpa bertanya apakah kita sudah ikut membantu mereka agar bisa terus berjalan.
Pendidikan seharusnya tidak hanya menjadi perjuangan orang-orang yang bersedia mengabdi secara sukarela. Pendidikan adalah kepentingan bersama, dan menjaga ruang belajar tetap hidup juga merupakan tanggung jawab bersama.
