Konten dari Pengguna

Kesehatan Mental Anak Muda: Kami Bukan Generasi Lemah, Kami Belajar Bertahan

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari farhan qois tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi : Pentingnya kesehatan mental untuk anak muda. Photo by Fajar Adillah Darwis on Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi : Pentingnya kesehatan mental untuk anak muda. Photo by Fajar Adillah Darwis on Unsplash

Krisis kesehatan mental anak muda bukan cerita baru bagi saya. Pada suatu malam, saya tengah duduk sendirian di kamar kontrakan, sembari menatap layar HP penuh dengan notifikasi tugas kuliah, deadline organisasi, dan chat grup yang belum sempat saya balas. Lelah rasanya, namun anehnya tidak bisa menangis ataupun marah. Hanya diam. layaknya baterai habis yang tetap dipaksa untuk menyala.

Saya yakin banyak dari anak muda lainnya pernah merasakan hal yang sama. Bedanya, kita sering menyembunyikannya di balik kata "baik-baik saja".

Data Kesehatan Mental Anak Muda yang Tak Bisa Diabaikan

Ternyata, ini bukan pengalaman yang berdiri sendiri. Data terbaru dari program Cek Kesehatan Gratis Kemenkes periode 2025-2026 menunjukkan bahwa sekitar 7 juta anak muda yang diskrining, ratusan ribu diantaranya mengalami gejala kecemasan dan depresi. Ini bukan soal "anak zaman sekarang itu manja". Ini krisis nyata yang baru mulai diakui.

Yang lebih memprihatinkan, hanya 10,4 persen dari mereka yang benar-benar mendapat penanganan formal. Sisanya memilih diam, atau curhat ke tempat yang sebenarnya tidak dirancang untuk hal itu.

Kenapa Kami Terlihat Rapuh

Label "generasi stroberi" sering disematkan ke anak muda seperti kami, katanya baik dari luar tapi gampang hancur. Padahal kami tumbuh di tekanan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Media sosial membuat standar hidup orang lain layaknya tolak ukur yang wajib diikuti. Ekonomi yang sulit membuat masa depan terasa tidak pasti.

Ilustrasi : anak muda ditengah berbagai tekanan. Photo by Ankit Kumar on Unsplash

Cara Kami Bertahan

Tapi di tengah tekanan itu, banyak dari teman saya menemukan caranya sendiri untuk sekedar bertahan, Ada yang mulai berani bercerita ke psikolog, ada yang belajar membatasi screen time, dan ada juga yang bicara jujur ke orang sekitarnya entah itu orang tua ataupun teman, yang meski awalnya terasa canggung.

Saya sendiri belajar, bertahan bukan berarti harus terlihat baik-baik saja. Kadang bertahan itu sesederhana kita mengakui hari ini terasa berat, tanpa harus terburu-buru mencari validasi bahwa semua baik-baik saja.

Penutup

Generasi muda sekarang yang tumbuh di tengah tekanan yang berbeda, ekonomi yang tidak pasti, standar sosial yang makin tinggi, dan dunia yang tidak pernah berhenti membandingkan. Bukan berarti mereka akan lemah begitu saja. Terus belajar dengan cara yang mereka punya sendiri, untuk tetap berdiri di tengah dunia yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian.

Penulis : Muhammd Frahan Qois, Mahasiswa Universitas Pamulang