Yi Sun Shin, Laksamana Abad ke-16 yang Masih Dipuja hingga Saat Ini

Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Semarang
Tulisan dari Qonita Fadhila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perang Imjin atau dikenal juga dengan Perang Tujuh Tahun merupakan serangkaian perang selama tujuh tahun pada akhir abad ke-16 yang disebabkan oleh invasi Jepang yang berniat untuk menaklukkan Cina melalui Korea. Laksamana Yi Sun Shin berperan sangat penting dalam pertempuran ini. Ia berhasil memimpin angkatan laut Korea menaklukkan Jepang dengan kejeniusan dan taktik perangnya.
Masa Muda Yi Sun Shin
Yi Sun Shin lahir pada tanggal 28 April 1545 di Seoul. Saat Yi berusia dua puluhan, ia mulai belajar di akademi militer. Yi belajar menunggang kuda, memanah, dan keterampilan bela diri lainnya. Kemudian, saat Yi berusia 28 tahun, ia mengikuti Ujian Militer Nasional Kwango untuk menjadi perwira junior. Namun, saat dirinya mengikuti ujian kavaleri, Yi terjatuh dari kudanya dan kakinya patah, sehingga ia gagal dalam ujian perwira ini.
Empat tahun setelah kegagalan tersebut, Yi kembali mengikuti ujian militer yang sama. Yi lulus dalam ujian tersebut dan ia berhasil menjadi perwira junior di usianya yang menginjak 32 tahun.
Karir Yi Shun Shin
Perwira muda Yi sangat terkenal di kalangan tentara berkat kepemimpinan dan penguasaan strategis perangnya. Akan tetapi, kehebatan Yi tersebut membuat para pemimpin Joseon yang korup takut akan kehadiran Yi, sehingga mereka berusaha untuk merampas karirnya. Jenderal Yi Il menuduh Yi Sun Shin melakukan pengingkaran tugas kemiliterannya selama pertempuran. Akhirnya, Yi Sun Shin ditangkap, dilucuti pangkatnya, dan disiksa.
Setelah Yi Sun Shin keluar dari penjara, ia mengikuti ujian militer sebagai prajurit biasa. Lagi-lagi berkat keahlian militernya, ia dipromosikan menjadi komandan pusat pelatihan militer di Seoul. Selain itu, ia juga menjadi hakim militer di pedesaan.
Saat Yi Sun Shin berumur 45 tahun, ia dipromosikan menjadi laksamana angkatan laut Joseon, meskipun ia sama sekali tidak memiliki pengalaman di angkatan laut. Pada tahun 1590, Yi menyadari ancaman perang yang dilakukan Jepang ke Korea. Kemudian, ia berusaha membangun kekuatan Angkatan Laut Korea. Laksamana Yi menciptakan sebuah kapal perang berbalut besi pertama di dunia. Kapal perang itu dikenal dengan Kobukson atau Kapal Kura-Kura.
Desain bagian atas kobukson terbuat dari besi berbentuk perisai setengah lingkaran seperti bentuk tempurung kura-kura. Lalu, pada bagian atas tempurung kapal tersebut dilengkapi dengan duri-duri logam yang tajam, sehingga apabila awak kapal Jepang melompat ke bagian atas kobukson maka mereka akan mati tertusuk duri logam tersebut. Kobukson juga dilengkapi dengan meriam di bagian depan dan sisi kapalnya. Haluan kobukson juga berbentuk rata dan tebal, sehingga kobukson dapat menabrak kapal musuh hingga terbalik.
Tercetusnya Perang Imjin
Pada tahun 1591, Toyotomi Hideyoshi diangkat menjadi pemimpin Jepang setelah Kaisar Oda Nobunaga meninggal dunia. Hideyoshi memiliki cita-cita untuk dapat menginvasi negara-negara tetangga, terutama Cina, sehingga ia dapat lebih mengendalikan kekuatan para daimyo. Dalam usaha untuk menaklukkan Cina, Hideyoshi meminta izin kepada Raja Seonjo—pemimpin Dinasti Joseon, Korea—agar Jepang diizinkan untuk mengirimkan tentaranya melalui Korea. Namun, rencananya tersebut ditolak oleh Raja Seonjo.
Setelah niatnya ditolak oleh Raja Seonjo, bulan April 1592 Hideyoshi menginvasi Korea dengan kekuatan 225.000 tentara yang sebagian besar dari pasukannya tersebut adalah para samurai yang berada di bawah kepemimpinan beberapa daimyo dari wilayah terkuat Jepang. Mereka adalah prajurit yang sangat terlatih dan berpengalaman di medan tempur. Hanya dalam waktu kurang dari 3 minggu sejak invasi dimulai, pasukan Jepang dapat menguasai daerah pertahanan di selatan Korea dan mereka dapat bergerak menuju utara tanpa mengalami hambatan sama sekali.
Yi Sun Shin memimpin angkatan laut Joseon untuk mengamankan wilayah perairan dan memutus jalur persediaan dan komunikasi Jepang, sehingga Joseon akan lebih mudah mengalahkan Jepang. Pada pertempuran Hansan-do bulan Juli 1592, Jepang mengalami kekalahan di tangan Laksamana Yi dan angkatan laut Joseon. Angkatan laut Joseon yang terdiri dari 56 kapal berhasil menghancurkan 47 kapal dari 73 kapal Jepang. Sekitar 9.000 tentara Jepang tewas, sedangkan Joseon tidak kehilangan satu kapal pun hanya 19 pelaut Joseon yang tewas. Atas kemenangan tersebut, Laksamana Yi diangkat menjadi Komandan Tiga Provinsi Selatan. Tentara Jepang yang berada di Korea sengsara karena mereka tidak mendapatkan pasokan, bala bantuan, dan rute komunikasi.
Hideyoshi menyadari bahwa Laksamana Yi adalah seorang laksamana yang jenius dalam memimpin angkatan laut Joseon. Akhirnya, ia menyusun rencana licik untuk menjebak pemerintahan Joseon. Hideyoshi menyuruh bawahannya menyamar menjadi mata-mata Joseon dan membuat informasi palsu yang menyatakan bahwa Jepang akan mendarat disuatu lokasi. Percaya dengan informasi tersebut, pemerintah Joseon pun segera mengutus Laksamana Yi dan pasukannya untuk pergi ke lokasi yang dimaksud.
Laksamana Yi menyadari bahwa informasi tersebut tidak benar dan ia menolak perintah dari pemerintah Joseon. Akibat penolakan yang dilakukan oleh Laksamana Yi, ia dipenjara oleh pemerintahan Joseon karena melakukan pembangkangan. Raja Seonjo menunjuk Jenderal Won Gyun untuk menggantikan Laksamana Yi.
Sementara itu, Hideyoshi melancarkan invasi keduanya dengan mengirimkan kembali pasukannya ke Korea. Armada laut Jepang berhasil mengalahkan angkatan laut Korea pada pertempuran Chilcheollyang. Jenderal Won Gyun tewas dalam pertempuran tersebut dan dari 150 kapal perang Korea yang bertempur hanya 13 kapal yang berhasil selamat.
Mendengar kekalahan angkatan laut Joseon pada pertempuran Chilcheollyang, Raja Seonjo kemudian membebaskan kembali Laksamana Yi. Pada bulan Oktober 1597, Laksamana Yi hanya menggunakan 12 kapal untuk menyerang Jepang. Laksamana Yi menarik 133 kapal Jepang ke Selat Myongyang yang sempit, berarus kuat dan berbatu. Kemudian, ia memasang rantai di mulut selat sehingga banyak kapal-kapal Jepang yang terjebak, menabrak batu, dan akhirnya tenggelam. Sisa kapal Jepang yang selamat, digulingkan oleh Laksamana Yi.
Berakhirnya Perang Imjin
Pada tanggal 18 Februari 1598, Hideyoshi meninggal dunia. Kabar meninggalnya Hideyoshi diikuti dengan perintah dari Jepang bahwa pasukan Jepang yang masih berada di Korea harus segera kembali ke Jepang.
Saat dalam perjalanan kembali menuju negara asalnya, pasukan Jepang langsung dihalau oleh angkatan laut Joseon di Selat Noryang. Sebanyak 200 kapal Jepang ditenggelamkan oleh angkatan laut Joseon. Akan tetapi, dalam pertempuran tersebut, Laksamana Yi terkena peluru Jepang dan ia tewas di geladak kapal miliknya. Pertempuran Noryang ini menjadi pukulan terakhir bagi Jepang. Dan Joseon telah kehilangan laksamana terbaiknya. Dengan berakhirnya pertempuran Noryang maka berakhir pula Perang Imjin dengan kegagalan Jepang menaklukkan Semenanjung Korea.
Selama invasi Jepang ke Korea, Laksamana Yi adalah satu-satunya anggota militer yang secara aktif mempersiapkan perang dengan Jepang. Ia menciptakan inovasi kapal perang berbalut besi pertama di dunia—Kobukson—yang berhasil menaklukkan angkatan laut Jepang. Meskipun Laksamana Yi tidak memiliki pengalaman di angkatan laut dan jumlah kapal Korea lebih sedikit dibandingkan dengan Jepang selama pertempuran, tetapi ia tak pernah mengalami kekalahan selama pertempuran di laut.
Laksamana Yi Sun Shin meninggal membela negaranya yang pernah mengkhianati dirinya sebanyak dua kali. Atas jasa Laksamana Yi Sun Shin dalam Perang Imjin, ia diberi gelar Pahlawan Kesetiaan dan Pengabdian. Hingga saat ini, Laksamana Yi Sun Shin dihormati di seluruh Semenanjung Korea. Bahkan, dihormati di Jepang.
