Dulu Mengejar Layangan, Sekarang Mengejar Pace

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Qonita Rofilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, anak-anak berlari karena mengejar layangan, bermain kejar-kejaran, atau sekadar ingin cepat sampai di rumah sebelum dimarahi orang tua. Sekarang, alasan untuk berlari terlihat lebih modern: mengejar pace, mencatat jarak, mengumpulkan medali, lalu mengunggahnya ke Instagram Story. Dari sini muncul fenomena yang sering disebut sebagai “pelari kalcer”.
Lari kini tidak hanya soal olahraga. Sepatu yang digunakan, outfit yang dipakai, tempat berlari, komunitas, hingga angka pace dapat menjadi bagian dari gaya hidup. Ada yang berlari untuk kesehatan, ada yang mencari teman baru, dan ada pula yang awalnya hanya ikut-ikutan karena melihat tren di media sosial. Uniknya, seseorang bisa saja memulai lari karena FOMO, tetapi akhirnya benar-benar menyukai olahraga tersebut.
Media sosial membuat aktivitas lari semakin menarik untuk dipertontonkan. Satu sesi lari bisa menghasilkan jarak, waktu, foto, video, dan tentu saja konten. Bahkan, terkadang yang lebih cepat menyebar bukanlah pelarinya, melainkan hasil screenshot dari aplikasi lari.
Namun, di balik istilah “pelari kalcer”, ada perubahan positif dalam gaya hidup anak muda. Tren yang awalnya terlihat seperti ajang eksistensi dapat mendorong lebih banyak orang untuk bergerak dan hidup lebih sehat. Tidak semua orang harus menjadi pelari tercepat. Ada yang cukup berlari untuk mengejar kesehatan, ada yang mengejar teman, dan ada juga yang hanya ingin mengejar matahari terbit.
Dulu kita mengejar layangan tanpa menghitung berapa kilometer yang ditempuh. Sekarang, kita mengejar pace sambil menghitung setiap langkah. Zaman memang berubah, tetapi satu hal tetap sama: manusia masih suka berlari. Hanya saja, sekarang ada GPS-nya.
