Konten dari Pengguna

Kenapa Brand Sekarang Nggak Cuma Jualan? Ini Cara Mereka “Masuk” ke Pikiran Kamu

Qonita Rofilah

Qonita Rofilah

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Qonita Rofilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber aplikasi canva
zoom-in-whitePerbesar
sumber aplikasi canva

Di era digital, cara brand berkomunikasi sudah berubah drastis. Mereka nggak lagi sekadar menawarkan produk, tapi juga membangun hubungan. Bahkan, tanpa disadari, brand bisa memengaruhi cara kita berpikir dan mengambil keputusan.

Dulu, iklan itu simpel: brand bicara, konsumen mendengar. Sekarang? Semua orang bisa ikut nimbrung. Kolom komentar, review, sampai konten user-generated jadi bagian dari komunikasi itu sendiri. Artinya, brand harus lebih pintar membaca situasi.

Dalam ilmu komunikasi, ini bukan hal baru. Setiap pesan yang dibuat brand sebenarnya sudah “dirancang” agar punya efek tertentu. Mulai dari pilihan kata, warna visual, sampai musik di dalam video—semuanya punya peran untuk memengaruhi emosi audiens.

Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube jadi “arena utama” permainan ini. Di sini, brand berlomba-lomba bikin konten yang bukan cuma menarik, tapi juga relatable. Kalau terlalu kaku? Lewat. Kalau terlalu jualan? Skip.

Contohnya, Tokopedia sering bikin campaign yang emosional dan mudah diingat. Sementara Gojek justru kuat di cerita-cerita sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dua-duanya beda pendekatan, tapi sama-sama berhasil bikin orang merasa “dekat”.

Di sisi lain, Nike sudah lama memainkan strategi yang lebih dalam. Mereka nggak cuma jual sepatu atau baju olahraga, tapi juga menjual semangat, identitas, dan keberanian. Itulah kenapa banyak orang merasa “terhubung” dengan brand ini.

Masalahnya, konsumen sekarang juga nggak mudah dibohongi. Mereka bisa langsung tahu mana brand yang terlalu dibuat-buat. Sekali kehilangan kepercayaan, sulit untuk balik lagi. Karena itu, kejujuran dan konsistensi jadi kunci.

Jadi, kalau kamu merasa “tiba-tiba suka” sama suatu brand, mungkin itu bukan kebetulan. Bisa jadi, kamu sedang berhadapan dengan strategi komunikasi yang memang dirancang untuk menyentuh emosi dan pikiranmu secara halus.