Bayang Perang Dingin Baru: Ketegangan AS-Tiongkok di Kawasan Indo-Pasifik

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Sriwijaya
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Qorina Julianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana ketegangan antara AS-Tiongkok dapat menimbulkan rasa Perang Dingin baru
Pada zaman sekarang di abad ke-21, perang tidak selalu hadir dalam bentuk pertempuran bersenjata. Konflik dapat muncul melalui berbagai hal, baik dari tekanan ekonomi, persaingan teknologi, ataupun upaya membangun pengaruh politik secara global. Fenomena tersebut kini terlihat jelas di kawasan Indo-Pasifik, tempat Amerika Serikat dan Tiongkok terlibat dalam rivalitas strategis yang semakin intens.
Tiga dekade setelah berakhirnya Perang Dingin, dunia seolah-olah mengulang kembali babak lama dan menyaksikan ketegangan antara dua kekuatan besar. Jika pada masa Perang Dingin konfrontasi terjadi di kawasan Eropa, sekarang konfrontasi terjadi di kawasan Indo-Pasifik dengan aktor utamanya adalah Amerika Serikat dan Tiongkok sebagai negara super power yang sedang memperebut pengaruh dan kekuasaan.
Kawasan ini menjadi pusat perhatian dunia karena memadukan potensi ekonomi yang besar dan posisi strategis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik. Setiap kapal dagang yang melintas di sini membawa nilai miliaran di sini membawa nilai miliaran dolar, dan setiap langkah diplomatik yang diambil oleh negara besar di kawasan ini bisa mengubah arah geopolitik global.
Di atas panggung inilah Amerika Serikat dan Tiongkok kini saling berhadapan sebagai musuh demi kepentingan masing-masing.
Dua Kekuatan, Dua Strategi
Indo-Pasifik kini bukan sekadar istilah geografis. Kawasan ini sudah menjelma menjadi panggung besar, di mana dua kekuatan dunia beradu strategi, pengaruh, dan kepentingan. Amerika Serikat datang dengan bendera kebebasan dan keterbukaan, sementara Tiongkok membawa janji investasi dan kemakmuran.
Bagi Amerika Serikat, Indo-Pasifik adalah kawasan yang harus dijaga agar tetap ”bebas dan terbuka.” Sejak 2022, Washington meluncurkan Indo-Pacific Strategy yang menegaskan tekadnya untuk mempertahankan tatanan global berbasis aturan dan membendung pengaruh Tiongkok yang semakin luas.
Langkah nyata AS terlihat dari penguatan aliansi dengan Jepang, Korea Selatan, dan Australia, serta kemitraan baru dengan India melalui forum Quad. Di bidang pertahanan, pakta AUKUS antara Amerika Serikat, Inggris, dan Australia menjadi gebrakan besar yang memungkinkan Australia memiliki kapal selam bertenaga nuklir. Dari beberapa langkah ini, bisa dilihat dengan jelas bahwa ini bukan sekadar kerja sama teknologi, tapi sinyal kuat bahwa Washington siap menandingi kekuatan maritim Beijing dan tidak akan melepaskan pengaruhnya di kawasan Indo-Pasifik.
Selain pendekatan militer, Amerika Serikat juga menggunakan instrumen ekonomi melalui Indo-Pacific Economic Framework for Prosperity (IPEF) untuk menandingi pengaruh ekonomi Tiongkok. Melalui inisiatif ini, AS berupaya memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara-negara di Asia tanpa membuat mereka terlalu bergantung pada investasi dari Beijing.
Sementara itu, Tiongkok tidak tinggal diam dan melakukan pembalasan dengan cara yang lebih halus tapi tak kalah kuat. Di bawah kepemimpinan Xi Jinping, Beijing membangun pengaruhnya dengan cara berbeda dari AS, yaitu melalui ekonomi dan infrastruktur. Proyek besar Belt and Road Initiative (BRI) menjadi simbol ambisi global Tiongkok untuk menghubungkan dunia lewat jalur darat dan laut yang didanai dari Beijing. Dari proyek pelabuhan, rel kereta, dan proyek energi di Asia Tenggara hingga Afrika, kini memiliki label yang sangat familier, yaitu ”Made in China.” Hal ini menyebabkan uang mengalir, kerja sama terbentuk, dan pengaruh pun menguat di kawasan bagi Tiongkok.
Di Laut China Selatan, Tiongkok memperkuat klaim teritorialnya dengan membangun pulau buatan dan fasilitas militer. Mereka rutin menggelar latihan militer besar-besaran, menunjukkan bahwa Beijing siap mempertahankan ”wilayahnya”, walaupun adanya kemungkinan besar menimbulkan ketegangan dengan negara tetangga, terutama di Asia Tenggara.
Laut yang Penuh Kepentingan
Kawasan Indo-Pasifik kini bukan hanya soal perdagangan, tapi juga tentang siapa yang akan mengendalikan laut dan aturan mainnya. Amerika Serikat telah menegaskan kehadirannya melalui patroli kebebasan navigasi untuk menolak klaim sepihak Tiongkok. Di sis lain, Tiongkok berusaha memperluas pengaruhnya dengan menawarkan investasi, pinjaman, dan proyek pembangunan yang mengikat negara-negara kecil dalam jaringan ekonominya.
Kedua strategi negara ini menciptakan dinamika baru di kawasan, di mana pada satu sisi ada janji kemakmuran, sedangkan di sisi lain ada ketegangan yang mengintai. Negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sekarang sedang berada di tegah tarik-menarik oleh kedua kekuatan besar itu.
Indonesia, misalnya menghadapi dilema klasik antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Tiongkok merupakan mitra dagang utama dan sumber investasi penting, sementara Amerika Serikat adalah rekan strategis dalam isu keamanan dan pertahanan. Untuk itu, Indonesia bersama dengan ASEAN mencoba menawarkan pendekatan yang berbeda melalui ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) yang menekankan kerja sama inlusif, bukan konfrontasi yang dapat memperburuk situasi.
Persaingan Tanpa Perang, Tapi Penuh Risiko
Persaingan AS dan Tiongkok memang belum berubah menjadi perang terbuka dan langsung, namun intensitasnya meningkat di hampir semua bidang, dari perdaganag, tekonologi, militer hingga bidang diplomasi. Amerika Serikat membatasi ekspor chip dan semikonduktor canggih ke perusahaan Tiongkok, sedangkan Beijing mempercepat riset kecerdasan buatan dan teknologi pertahananya sendiri sebagai bentuk pembalasan.
Kedua negara ini juga terus memperluas pengaruh di kawasan Indo-Pasifik. Amerika Serikat memperkuat kehadiran militernya di Filipina, sementara Tiongkok mempererat hubungan dengan Rusia dan Korea Utara. Ketegangan ini bisa sewaktu-waktu memanas dan memburuk, terutama di titik-titik sensitif seperti Taiwan atau Laut China Selatan.
Jika dibiarkan tanpa pengelolaan yang bijak dan serius, rivalitas ini bisa menyeret banyak negara dalam pusaran konflik, termasuk negara-negara ASEAN yang selama ini berusaha untuk tetap netral dan menjaga jarak dari kedua belah pihak.
Menjaga Stabilitas di Tengah Badai
Kawasan Indo-Pasifik adalah masa depan ekonomi dunia, tapi juga potensi sumber konflik baru. Amerika Serikat dan Tiongkok sama-sama ingin menjadi pemimpin di kawasan ini, dan keduanya memiliki cara sendiri untuk mencapai tujuan itu.
Namun jika keduanya terlalu fokus pada perebutan pengaruh di kawasan, maka yang paling dirugikan dan diganggu adalah negara-negara kecil yang berada di tengah-tengah yang sedang menjalani kedaulatan mereka di luar pengaruh kedua negara ini. Dalam konteks ini, peran ASEAN dan diplomasi Indonesia menjadi sangat penting, di mana fokusnya itu bukan untuk memilih pihak, tapi untuk menjaga agar kawasan tetap stabil, terbuka, dan damai.
Penutup
Perang Dingin mungkin sudah berakhir puluhan tahun lalu, tapi bayangannya kini kembali melayang di atas Samudra Indo-Pasifik. Dunia tidak boleh mengulangi kesalahan sama, ketegangan ini tidak bisa dibiarkan tumbuh tanpa upaya serius untuk menjaga perdamaian. Rivalitas Amerika Seikat dan Tiongkok di kawasan ini harus dikelola dengan hati-hati melalui diplomasi, dialog, dan kerja sama yang sejati. Jika perang yang dingin ini dibiarkan berubah menjadi panas, seluruh kawasan akan ikut terbakar yang bukan hanya secara militer, tetapi juga secara ekonomi dan kemanusiaan. Oleh karena itu, menjaga stabilitas Indo-Pasifik bukan semata kepentingan dua kekuatan besar, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh negara untuk memastikan masa depan yang damai dan seimbang.
