Noura Al-Thaqaqa dan Hantu Arab: Mengenal Ghoul dan Si'lah dalam Mitologi Arab

Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Jakarta - Mahasantri Darus Sunnah
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nur Aziz Abdillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jagat maya sempat dihebohkan oleh cerita pengalaman horor yang dialami oleh tim kasidah asal Kuwait yang diketuai oleh Noura Al-Thaqaqa. Menurut cerita yang beredar, Noura dan timnya menghadiri pesta pernikahan yang diduga kuat diselenggarakan oleh hantu. Noura menyadari hal tersebut sesaat setelah lampu-lampu di tempat pesta padam dan kaki-kaki para tamu tampak seperti kaki kambing. Hal tersebut sontak membuat Noura dan timnya berteriak dan lari keluar tempat pesta. Tak berhenti di situ, setelah berada di luar mereka baru menyadari bahwa rumah yang menjadi tempat pesta pernikahan tersebut ternyata sudah lama terbengkalai, padahal ia mengaku bahwa rumah tersebut sebelumnya terlihat sangat megah dan ramai.
Cerita ini, walaupun sudah berumur lebih dari 20 tahun, tetap konsisten dalam detail dan alur ceritanya seakan-akan tidak dipalsukan. Dilansir dari vice, menurut Manar (22), seorang mahasiswa sastra, cerita hantu ini berbeda dengan cerita lain yang peristiwa-peristiwanya berubah setiap kali diceritakan dari sumber yang berbeda. Versi cerita yang beredar tetap sama dan tidak diubah atau dimanipulasi meskipun sudah berlalu bertahun-tahun.
Jika diteliti lebih dalam, cerita ini memuat salah satu mitos terkenal yang dipercayai oleh masyarakat Arab: mitos Ghoul. Hal itu ditunjukkan oleh deskripsi hantu yang dilihat oleh Noura Al-taqaqa dan timnya sesuai dengan deskripsi Ghoul, makhluk mitologi Arab yang dipercayai oleh masyarakat Arab. Kepercayaan terhadap Ghoul sendiri sudah ada sejak lama, sejak masa awal dakwah Nabi Muhammad SAW yang dibuktikan oleh bait puisi Ka’ab bin Zuhair sebagai berikut:
ﻛَـﻤﺎ ﺗَـﻠَﻮَّﻥُ ﻓـﻲ ﺃﺛْـﻮﺍﺑِﻬﺎ ﺍﻟـﻐُﻮﻝُ # ﻓـﻤﺎ ﺗَـﺪﻭﻡُ ﻋَـﻠَﻰ ﺣـﺎﻝٍ ﺗﻜﻮﻥُ ﺑِﻬﺎ
Ia tetap dalam suatu kondisi yang berbeda-beda, seperti Ghoul berubah-ubah dalam wujudnya
Menurut kamus Al-Munjid, secara etimologi Ghoul berasal dari kata غَالَ (ghaala) yang artinya “menghancurkan” dan “menculik dari sisi yang tak terduga”. Kata ini juga memiliki derivasi (turunan) yaitu تَغَوَّلَ (taghawwala) yang artinya “menyesatkan” atau “membinasakan”. Hal ini sesuai dengan karakteristik Ghoul yang suka menyesatkan dan memangsa manusia.
Secara terminologi, Ghoul adalah makhluk astral yang suka mengganggu musafir yang sedang melakukan perjalanan. Ia bisa berubah wujud menjadi apapun untuk mengelabui musafir yang sedang lewat. Biasanya ia akan menyamar menjadi manusia — biasanya wanita — yang muncul secara tiba-tiba di tempat sunyi, tetapi kakinya berbentuk seperti kaki kambing. Setelah korbannya masuk ke dalam jebakannya, Ghoul akan menampakkan wujud aslinya yang menyeramkan lalu memangsanya. Terdapat cerita aneh yang mengatakan bahwa Ghoul bisa dibunuh dengan sekali tebasan pedang, namun akan hidup kembali dan menjadi sulit dibunuh jika ditebas dua kali.
Selain Ghoul, menurut Mahmut Salim Al-Hut, cerita rakyat Arab juga mengenal Si’lah (السعلاة) sebagai hantu Arab yang suka mengganggu manusia. Berbeda dengan Ghoul, Si’lah didefinisikan oleh para ‘ulama sebagai golongan wanita atau penyihir wanita dari bangsa jin. Ada pula yang memasukkan Si’lah ke dalam golongan Ghoul yang berjenis kelamin perempuan. Berdasarkan definisinya, Si’lah memiliki kemiripan dengan Siren dari mitologi Yunani dan kuntilanak dari Indonesia karena ia digambarkan memiliki wujud wanita cantik yang memakai busana serba putih yang suka mengganggu dan menyesatkan musafir.
Jika muncul pertanyaan "apakah bangsa jin juga menikah seperti dalam cerita ini?" Jawabannya ya, sebagaimana Imam Asy-Syibli mengatakan bahwa bangsa jin juga berkembang biak seperti bangsa manusia. Hal itu juga diungkapkan oleh Mahmut Salim Al-Hut dalam bukunya yang berjudul "Mitologi Arab: Kepercayaan Kuno Bangsa Arab sebelum Islam" yang mengatakan bahwa bangsa jin juga melakukan hubungan seksual, bahkan perkawinan silang dengan manusia.
Terlepas dari kebenaran tentang eksistensi kedua makhluk tersebut, cerita Noura Al-Thaqaqa mengisyaratkan kepercayaan terhadap mitos klasik yang bertahan dalam pikiran-pikiran orang-orang Arab. Kepercayaan tersebut tidak hilang begitu saja karena ajaran Islam, sebagaimana mitos-mitos dalam masyarakat Jawa yang masih lestari walaupun mayoritasnya sudah beragama Islam. Hal ini jarang diketahui oleh banyak orang karena image orang Arab yang sangat kental dengan ajaran Islam sehingga menafikan kepercayaan tersebut.
